Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
244


Tiga hari telah berlalu karena kesibukan di perusahaan, Febian sampai lupa menemui Tuan Dharma. Tentu saja Jasmin merasa begitu kecewa. Dia tidak menyangka kalau Febian akan mengingkari janjinya sendiri.


"Bi, aku mau mengundurkan diri dari perusahaanmu." Febian yang sibuk meneliti berkas-berkas, akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah sang kekasih yang menjabat sebagai sekretaris pribadi.


"Sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu?" Febian menekan remot untuk mengunci ruangan.


"Bi, kamu bilang akan menemui papa, tapi kenapa sampai sekarang kamu belum melakukannya sama sekali," ketus Jasmin.


Febian menghela napas panjang, rasanya dia begitu malas saat Jasmin terus saja menuntutnya. Entah setan apa yang merasuki gadis itu sehingga dia terus saja mendesak.


"Sabar, Sayang. Akhir pekan ini, aku akan ke Singapura. Bukankah kamu tahu pekerjaan kita sangat padat seminggu ini?" Febian balik bertanya dengan kesal. Dia beranjak bangun dan mendekati meja kekasihnya yang hanya berjarak beberapa meter saja.


"Bi, biar aku bilang sama papa kalau kamu akan datang ke sana." Jasmin hendak mengambil ponsel untuk menghubungi Dharma, tetapi Febian segera menahannya.


"Tidak perlu bilang, kita langsung ke sana saja." Febian berbicara dengan begitu lembut dan Jasmin sangat terbuai dengan tatapan Febian yang sangat dalam.


Tanpa sadar Febian memajukan wajahnya dan meraih bibir kekasihnya. Jasmin pun membalas ciuman itu hanya sesaat karena dia tidak mau akan kebablasan nantinya. Sebuah kecupan mendarat di kening Jasmin sebelum Febian kembali duduk di kursinya. Dia sengaja menjauh karena takut tidak bisa menahan diri.


Setelah itu mereka sama-sama sibuk dengan berkas masing-masing. Namun, sesekali Jasmin melirik Febian. Sebenarnya, ada sesuatu hal yang membuat dirinya begitu menuntut Febian untuk segera menikahinya. Namun, dia ragu untuk mengatakan pada Febian karena dia tahu Febian masih belum ingin menikah dan masih fokus pada perusahaannya.


***


Akhir pekan yang dijanjikan Febian ternyata diingkari. Lelaki itu tidak datang ke Singapura seperti janjinya tempo hari. Menambah kekecewaan di hati Jasmin. Bahkan saat ini dirinya sengaja tidak berangkat ke kantor. Dalam rencana, dia akan mengundurkan diri dari perusahaan itu. Hatinya sudah sangat kecewa.


Jasmin duduk di ruang televisi yang berada di apartemen pribadi miliknya. Jemarinya sedari tadi menggulir layar ponsel mencari kesibukan karena dirinya merasa begitu bosan. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari sang papa, dengan gugup Jasmin segera mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Pa."


"Kamu tidak bekerja, Jas?"


"Tidak, Pa. Jasmin sedang tidak enak badan."


"Kalau begitu banyaklah istirahat. Bagaimana dengan Bi? Kapan dia akan menemui papa?"


Jasmin terdiam mendengar pertanyaan sang papa. Dia merasa bingung harus menjawab apa.


"I-iya, Pa. Pekerjaan Bi masih sangat sibuk, Pa. Mungkin pekan depan."


"Sejak kapan kamu jadi gadis plin-plan seperti itu! Kamu bilang kemarin Bi akan datang, tapi apa! Dia tidak datang sama sekali!" Suara Dharma meninggi.


"Pa ...."


"Lebih baik sekarang kamu putuskan saja lelaki itu! Papa tidak mau kamu menjalin hubungan dengan lelaki yang tidak memiliki pendirian! Pulanglah ke Singapura dan papa akan menerima lamaran Damian."


"Jasmin tidak mencintai Damian, Pa."


"Kamu juga lama-lama akan cinta padanya. Kamu ini putri papa satu-satunya dan papa ingin kamu mendapat lelaki yang bertanggung jawab. Papa khawatir kalian berdua akan keblabasan dan itu akan membuat malu keluarga Dharma maupun Alexander!"


"Beri Jasmin waktu lagi, Pa. Nanti Jasmin akan bilang kepada Febian."


"Papa beri waktu satu minggu lagi kalau dia belum datang juga menemui papa maka hubungan kalian benar-benar harus berakhir!"


Panggilan itu terputus begitu saja. Jasmin menghela napas panjang saat melihat layar ponselnya yang masih menyala. Mungkin setelah ini, dirinya harus benar-benar mengatakan semuanya pada Febian. Baru saja meletakkan ponsel di nakas, Jasmin terkejut saat melihat Febian sudah masuk ke apartemen miliknya. Mereka berdua memang sudah sama-sama tahu sandi apartemen.


"Kenapa kamu tidak bekerja, Bi?" tanya Jasmin gugup.


"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu tidak berangkat ke kantor?" Febian balik bertanya dengan suara yang begitu ketus.


"Aku akan mengundurkan diri dari perusahaanmu dan kembali hidup di Singapura."


Tangan Febian terkepal erat saat mendengar jawaban dari Jasmin. Lelaki itu melangkah mendekati Jasmin yang mulai memundurkan tubuhnya.


"Sejak kapan kamu menjadi tidak sabaran seperti ini?" tanya Febian penuh penekanan.


"Sejak kamu tidak bisa menepati janjimu! Kamu bilang akan menemui papa, tapi apa? Kamu pembohong!" seru Jasmin dengan menunjuk wajah Febian.


Rahang Febian terlihat mengeras dengan kepalan tangan menguat sehingga membuat buku-buku kukunya memutih. Jasmin sedikit meringsut saat melihat sorot mata Febian yang begitu menakutkan seolah hendak melahap habis dirinya.