Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
304


Suasana di taman belakang mansion tampak seperti pasar meski hanya ada anggota keluarga saja. Johan menggelar tikar besar di taman itu, juga membelikan wahana bermain anak seperti mandi bola dan lainnya. Berbagai makanan tradisional tersaji di sana.


"Mas, aku tidak menyangka kalau ternyata kita sudah punya cucu sebanyak ini." Mila menatap seluruh anggota keluarganya dengan perasaan yang susah dijelaskan.


"Ya. Seandainya Tuan Davin dan Nona Aluna masih ada, mungkin kebahagiaan ini akan terasa semakin lengkap." Mata Johan tampak berkaca-kaca saat teringat orang yang sangat berarti untuknya.


"Aku yakin mereka sudah sangat bahagia di sana. Inilah kehidupan, bukankah setiap manusia yang bernyawa pasti akan mati? Kita suatu saat juga akan mengalami." Suara Mila terdengar berat. Johan pun memeluk istrinya dengan sangat erat.


"Suatu saat, baik aku ataupun kamu yang akan pergi terlebih dahulu. Aku harap ... cinta kita akan abadi dan kembali bersatu. Aku mencintaimu, Mil." Johan mencium kening Mila dengan sangat lama untuk menyalurkan segala perasaan yang dia punya untuk wanita itu.


"Aku juga mencintaimu, Mas. Sangat mencintaimu." Mila membalas pelukan suaminya tak kalah erat. Meski kisah ini berakhir bahagia pada akhirnya, tetapi nyatanya masih ada hati yang terluka, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.


"Oma, ayo kita main." Suara Bobby berhasil mengalihkan perhatian Mila dan Johan.


Mila bangkit berdiri dan menyuruh semua cucunya untuk duduk berjejer, sedangkan Johan berdiri di samping istrinya menatap semua cucunya yang begitu lucu dan menggemaskan.


"Baiklah, karena Othor Kalem kita takut lupa pada nama-nama kalian, maka Oma akan mengabsen kalian satu persatu. Kalian siap?" tanya Mila setengah berteriak.


"Siapp!!" sahut mereka kompak.


"Kita mulai dari yang paling besar dulu." Mila mengambil napas dalam-dalam, sedangkan anak-anak itu menatap lekat ke arah Mila.


"Junno El Alexander!"


"Ada," sahut Junno datar. Mila menghela napas panjang. Junno memang paling dingin di antara yang lain.


"Jangan baper, Oma," ucap Bobby.


"Aksa cuka bapel otat," sahut Aksara dengan suara cadel.


"Itu wafer, Aksa. Bukan baper." Bobby mendengkus kasar.


"Sudah-sudah, kita lanjutkan lagi saja." Mila menghentikan perdebatan bocah itu sebelum Aksara menangis. "Jinny El Alexander."


"Ya, Oma. Makhluk Tuhan paling cantik sudah hadir." Jinny menyingkirkan rambutnya yang tergerai ke arah belakang dengan gaya centil.


"Ajaran Nathan memang tidak main-main," ledek Kenan. Nathan mendelik, menyuruh Kenan untuk diam sebelum Alvino marah. Namun, terlambat! Tangan Alvino sudah mendarat bebas di kepala Nathan.


"Tom Jerry, kumat!" cebik Nadira kesal. Nathan tidak menyahut, hanya mencium pipi istrinya lembut.


"Sudah! Yang ketiga Bobby Chairil Saputra!"


"Ehem! Hallo, gaess." Bobby melambaikan tangan seperti artis terkenal.


"Jangan sok yes kamu, Bob!" cibir Jinny, Bobby menatap Jinny dengan sangat tajam, tetapi bocah perempuan itu tidak takut sama sekali.


"Sudah! Kalau kalian terus berdebat seperti ini kita tidak akan pernah selesai-selesai." Mila kembali menghentikan perdebatan mereka yang begitu memusingkan kepala.


"Yang menjawab dan membuka suara cukup Oma dan yang namanya dipanggil saja. Jangan bikin para pembaca bingung."


"Baik, Oma." Suasana di sana pun kembali hening.


"Ehem!" Mila berdeham untuk mengatur suaranya.


"Kita beralih ke kembar tiga. Kenzo, Kenzi, Kendra!"


"Hadir, Oma." Mereka bertiga menjawab kompak.


"Kenapa kita tidak dipanggil nama lengkap, Oma?" tanya Kenzo tidak terima.


"Patricia Anderson Saputri!"


"Hadir!"


"Cheryl Anastasia Adijaya!"


"Ada!"


"Citra Mariana Alexa Saputri, Michel Anderson Saputra, Aksara El Alexander, Erward William, Shanum Najua Az-Zahra. Kalian borongan saja, Oma capek."


Semua tertawa saat melihat Mila berpura-pura hendak pingsan. "Ternyata sangat luar biasa punya cucu sebanyak ini. Selain membuat hidup Oma berwarna, membuat Akak Othor bingung bikin dialog kalian, juga bikin bingung para pembaca bahkan mereka ada yang lupa dengan kalian."


Tawa mereka semakin terdengar mengeras. Sungguh kebahagiaan yang sangat sempurna.


"Lebih baik kita berfoto keluarga saja." Johan memberi usul.


"Ide bagus."


Mereka semua berjajar di taman dan berfoto keluarga dengan lengkap. Baru saja selesai mengambil gambar, Nathan sudah membopong Nadira dan membawanya ke kamar. Dia tidak peduli pada teriakan mereka semua yang memanggil-manggil.


"Mas, kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Nadira heran. Nathan tidak menjawab, dia hanya berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Setibanya di dalam kamar, Nathan mendudukkan Nadira di tepi tempat tidur dan menggenggam tangan wanita itu dengan sangat erat. Nadira pun membalas tatapan suaminya.


"Beb, terima kasih sudah menemaniku selama ini. Walau kisah kita penuh dengan lika-liku kehidupan, tapi aku merasa sangat bahagia karena kamu akhirnya bisa menjadi milikku seutuhnya," ucap Nathan bahagia.


"Aku juga berterima kasih kamu sudah menyayangiku dengan sangat tulus, Mas. Menerima apa pun kekuranganku. Aku bahagia, Mas, menjalani kehidupan bersamamu. Ya, walau aku harus bersabar saat otak mesummu kambuh." Nathan terkekeh sendiri. Dia mencium bibir Nadira dengan sangat lembut, tak lupa tangannya berada di pinggang wanita itu.


"Aku mencintaimu, Beb."


"Aku juga mencintaimu, Mas."


Nathan dan Nadira berciuman mesra. Lidah mereka saling berbelit dan menyapu rongga mulut lawannya. Semakin lama ciuman itu pun semakin terasa begitu menuntut. Bahkan tangan Nathan sudah mulai naik dan menggenggam bukit kembar Nadira yang membesar.


"Beb, aku ingin ini." Napas Nathan terdengar memburu.


"Mas! Citra masih menyusu!" tolak Nadira tegas.


Nathan pun mencium leher Nadira dan membuat tanda kepemilikan di sana. Nadira tidak kuasa menahan desah*n saat lidah Nathan menyapu seluruh lehernya. Karena sama-sama terbuai, mereka sampai tidak menyadari kalau sudah tidak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka.


"Mas, ini masih siang."


"Biarkan saja, setelah kisah ini berakhir, kita tidak tahu kapan akan adegan Hareudang lagi. Jadi, biar mereka rindu dengan gaya kita, dan percintaan ini sebagai penutupnya."


"Aku malu, Mas." Nadira merengek.


"Thor, minta tolong tirai ditutup. Aku tidak mau ada anak kecil yang tahu."


Othor menjawab, "Baiklah."


Tirai pun tertutup rapat dan kisah ini akhirnya


TAMAT


(ini beneran tamat ye. Bukan prank lagi)