Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
151


"Kamu mau membunuhku?" sewot Nadira.


"Ya tidaklah! Melihat kamu terluka aja, hatiku rasanya sakit. Mana mungkin aku membunuhmu." Nathan berkilah, "aku hanya ingin seorang malaikat kecil segera hadir di antara kita."


"Jangan terlalu berlebihan, Mas. Kalau ternyata kau susah hamil seperti Ana, aku takut kamu akan kecewa." Nadira mendadak muram. Dalam hati, dia merasa kasihan dengan sahabatnya yang sudah hampir dua tahun menikah, tetapi sampai sekarang belum juga mendapatkan momongan.


"Tidak apa. Ada kamu di sampingku saja sudah membuat aku bahagia, Beb."


Nadira terdiam saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan Nathan yang menatapnya penuh cinta. tanpa sadar, Nathan memajukan wajahnya hingga hangat napasnya menerpa pipi istrinya. Kemudian, dia meraup bibir lembut istrinya dan melum*atnya.


Lidah Nathan memaksa masuk ke dalam mulut istrinya, mengakses seluruh rongga mulut tersebut dengan sesekali lidah mereka saling berbelit.


Tangan Nathan pun mulai bergerilya, mengusap leher lalu turun dan menggenggam erat dua bukit kembar yang mulai terasa sedikit membesar akibat remas*n yang dia lakukan secara rutin.


"Ah!" Nadira tak kuasa untuk tidak mendes*h saat lidah Nathan menjelajah lehernya dan menciptakan tanda kepemilikan di sana.


"Mas, ini masing siang. Gerah juga," tolak Nathan saat dirinya kembali sadar.


"Sebentar." Nathan bangkit berdiri dan mengambil remot AC lalu menghidupkan kembali pendingin ruangan itu.


"Emang AC nya mati?" tanya Nadira heran. Karena seingatnya, AC di kamarnya tidak pernah dimatikan.


"Aku sengaja matiin tadi, biar kamu keluar dari persembunyian." Nathan menjawab seolah tak berdosa.


"Ish! kamu memang selalu menyebalkan!" Nadira hendak kembali merajuk, tetapi dengan cepat Nathan memberi sentuhan-sentuhan hingga akhirnya wanita itu terbuai dan kembali mengeluarkan suara-suara eksotis yang membuat Nathan semakin bersemangat untuk berolahraga tanpa busana.


Hanpir setengah jam berlalu, Nathan masih mengungkung tubuh istrinya, mencoba berbagai gaya, dan Nadira hanya bisa menurut saat Nathan membolak-balik dirinya seperti sedang menggoreng tempe.


Sampai saat gerakan Nathan semakin menghentak, Nadira meremas sprei dengan kuat karena dirinya juga hampir mencapai *******.


Tiga menit kemudian, mereka sama-sama mencapai puncak. Nathan membenamkan adik kecilnya sedalam-dalamnya. Berharap ada pasukannya yang bisa sampai ke pusat terdalam. Nadira pun semakin kuat meremas sprei saat merasakan tubuhnya menggelinjang seperti tersengat listrik.


Mereka berdua pun tumbang bersama dengan tubuh yang sudah penuh dengan peluh. Nathan mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya.


"Aku mencintaimu, Beb." Nathan mengecup bibir istrinya.


"Aku juga mencintaimu, Mas." Nadira membalas. Mereka berdua pun akhirnya tertidur karena rasa lelah akibat percintaan tadi.


***


Sesampainya di kamar, Alvino tersenyum simpul saat melihat Rania sedang terlelap. Langkah Alvino mendekat ke box bayi. Lelaki itu tersenyum saat melihat Baby Jun sedang tidur, sedangkan Baby Jin terlihat menggeliat mencari sumber makanannya.


"Kamu lapar? Bentar ya, daddy buatin kamu susu dulu." Alvino mengusap pipi bayi gembul itu dengan lembut sebelum beranjak mendekati nakas dan membuatkan susu untuk putrinya.


Setelah susu itu siap, Alvino segera menggendong Baby Jin lalu menyusui bayi lucu itu. Namun, Baby Jin justru menangis kencang bahkan tidak mau menerima susu itu sama sekali.


Kencangnya tangisan Baby Jin, membuat Rania tergagap dan segera mengambil alih bayi itu. Berusaha keras menyusui, tetapi bayi itu masih saja menolak dan semakin menangis kencang.


"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Rania bingung.


"Biar aku telepon Aunty Mila." Alvino mengambil ponsel dan menghubungi Mila untuk segera pulang kalau urusannya sudah selesai.


Setelah mematikan panggilan itu, Alvino segera membopong Baby Jun yang hendak terbangun karena tangisan Baby Jin yang tidak berhenti-henti.


"Mas, dia tidak mau menyusu." Mata Rania terlihat berkaca-kaca karena putrinya masih saja menangis kencang dan menolak ASI-nya maupun susu formula.


"Tunggu sebentar, Sayang. Baby Jin mau apa?" tanya Alvino dengan lembut, sambil menggendong Baby Jun yang hendak ikut menangis.


Pintu kamar terbuka, Nathan masuk dengan rambut basah karena baru saja selesai mandi. Lelaki itu berjalan tergesa mendekati Alvino dan Rania.


"Jinny kenapa?" tanya Nathan heran. Karena suara tangisan bayi itu sampai ke kamarnya.


"Entahlah, dia minta apa. Diberi susu enggak mau sama sekali." Alvino terlihat begitu pasrah.


"Sini sama uncle, onty mu lagi mandi dulu." Nathan mengambil alih Baby Jin dari gendongan Rania, awalnya wanita itu ragu, tetapi melihat wajah Nathan yang terlihat bersungguh-sungguh. Rania pun menyerahkan putrinya pada Nathan.


Ajaib sekali! Tangisan Baby Jin langsung berhenti begitu saja. Membuat mereka melongo. Bahkan mata bulat Baby Jin terlihat mengamati Nathan dengan sangat lekat.


"Ini lelucon kah?" tanya Alvino belum percaya.


"Wah, sepertinya Baby Jin bakalan jadi anak kesayangan uncle yang tampan ini." Nathan mendaratkan ciuman di pipi bayi gembul itu.


"Aku berharap putriku tidak menjadi Kaleng Rombeng sepertimu, Nat." Alvino terlihat kesal, dan was-was.


"Kita lihat saja nanti!" goda Nathan dengan senyum meledek.