
Mike terdiam, wajahnya semakin terlihat suram. Jika Johan sudah meminta Rendra dan keluarganya untuk datang melamar Cacha. Itu artinya, dirinya benar-benar harus menyerah sampai di sini.
"Seharusnya aku sadar siapa aku dan bagaimana posisiku." Mike tersenyum getir. Matanya terpejam saat merasakan ada rasa sakit yang mengalir seiring aliran darahnya.
"Jangan menyerah, Mike. Aku juga tidak yakin kalau Tuan Rendra akan melamar Nona Cacha." Kedua mata Mike kembali terbuka, dan menatap Mario dengan sangat lekat.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Mike. Tatapannya ke arah Mario begitu menyelidik.
Mario menghirup napas dalam-dalam. "Karena Tuan Rendra masih sangat mencintai Nona Elvina."
"Aku tahu itu, Mar." Mike menimpali, "aku tahu betapa sayangnya tuanmu itu kepada Nona Muda Alexander, tapi kalau memang Tuan Rendra dan Nona Cacha berjodoh, mereka pasti akan saling mencintai dan perasaan Tuan Rendra untuk Nona Muda Alexander akan memudar seiring berjalannya waktu."
"Mike, apa kamu rela kalau Nona Cacha menikah dengan Tuan Rendra?" tanya Mario menuntut jawaban.
"Kenapa aku tidak rela jika Nona Cacha bisa bahagia dengan Tuan Rendra. Bagiku, kebahagiaan Nona Cacha adalah yang utama. Aku tidak akan berharap bisa memilikinya, apalagi menikah dengannya. Sudah bisa menjaganya dua puluh empat jam dan memastikan keadaannya selalu baik-baik saja sudah cukup untukku."
"Mike, begitu sayangnya kamu dengan Nona Cacha." Mario menggeleng, tapi dalam hati dia begitu kagum dengan hati sahabatnya yang begitu lapang.
"Sudahlah, Mar. Jangan dibahas lagi. Aku akan mengikuti alur hidupku saja. Kalau memang jodoh tidak akan ke mana, kalau tidak berjodoh, setidaknya aku masih bisa menjaganya." Mike berusaha menyudahi pembicaraan yang akan membuat hatinya semakin terluka.
Mario pun paham, dia kembali mengangkat cangkir kopi hitam miliknya dan menyeruput perlahan. Mike pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua pun mengobrol tentang masa lalu yang masih mereka kenang.
***
Seorang lelaki muda duduk gelisah di kursi kerja yang berada di rumah pribadinya. Pikirannya buyar, padahal setumpuk pekerjaan masih menanti untuk disentuh. Ia duduk bersandar, dengan satu kaki saling menindih kaki yang lainnya. Bayangan orang yang dia cintai tiba-tiba terlintas dalam ingatannya. Semakin memupuk rasa rindu karena sudah cukup lama tidak bertemu.
"Aku merindukanmu, El."
Rendra mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah pesta pernikahan mewah Nathan dan Nadira digelar, dirinya sudah tidak pernah lagi melihat wajah Nadira secara langsung.
Setiap hari, rasa rindu untuk wanita itu semakin menggebu-nggebu. Namun, saat teringat foto Nadira yang sedang berbulan madu, seketika membuat Rendra tersadar kalau dia harus melupakan wanita itu.
Tiba-tiba, sekelebat bayangan tentang Cacha datang menghampiri. Bayangan saat dirinya bercanda dan bersama Cacha, membuat lelaki itu tersenyum sendiri. Dalam hati, dia pun mengagumi sosok Cacha yang begitu hebat, apalagi saat gadis itu sedang menarik pelatuknya, membuat hatinya benar-benar terpikat.
"Sepertinya aku harus belajar mencintaimu, Cha." Rendra bertekad kuat. Selama ini dirinya tidak dekat dengan wanita mana pun.
Rendra mengangkat ponsel yang tergeletak di atas meja di samping komputernya. Dia menghidupkan layar ponsel itu, kemudian mencari kontak sang ayah dan memanggilnya.
"Hallo, Ren." Suara Bastian terdengar setelah panggilan itu terhubung.
"Ayah sedang apa?" tanya Rendra lembut.
"Ayah baru pulang dari rumah Om Bayu. Ada apa kamu menelepon Ayah? Tumben sekali."
" Ada yang akan Rendra bicarakan, Yah. Maukah Ayah dan Ibu, melamar Cacha."
"Kamu mau melamar Cacha?" Bastian menyela ucapan Rendra.
"Baiklah, ayah dan bunda besok akan ke rumahmu dan lusa kita akan langsung ke Jakarta."
"Terima kasih, Yah. Kalau begitu Rendra matikan dulu. Pekerjaan Rendra masih menumpuk dan harus selesai besok pagi."
"Baiklah. Jangan lupa istirahat juga, Ren. Selamat malam anak ayah."
"Selamat malam juga, Yah."
panggilan itu pun terputus. Rendra menatap layar ponsel yang masih menyala dan menampilkan wajah Nadira sebagai wallpaper. Ibu jari Rendra mengusap layar itu dengan tatapan nanar, bibirnya tersenyum getir.
"Aku sangat mencintaimu, El, tapi sayangnya kenapa kita tidak berjodoh," gumam Rendra diiringi helaan napas berat.
Rendra kembali menggulir layar ponselnya. Kali ini dia mencari nama 'Anak Kambing' dan meneleponnya untuk memberi tahu rencananya.
***
"Bun, Cacha jadi kangen masa kecil Cacha kalau disuapin gini," kata Cacha disela kunyahannya.
"Bunda juga kangen masa itu. Kayaknya baru kemarin bunda timang-timang kalian, eh sekarang udah mau punya cucu aja," balas Mila. Dia kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut putrinya.
"Cucu dari siapa? Perasaan Kak Queen belum hamil lagi, Nadira juga baru aja malam pertama masa langsung hamil." Kedua alis Cacha terlihat saling bertautan.
"Ya emang belum, bunda kan cuma berharap. Siapa tahu Tuhan mendengar harapan bunda dan langsung dikabulkan. Kecebong super milik kakak kamu bisa sampai di dasar gua dan langsung jadi janin."
"Uhukk uhukk."
Dengan gerakan cepat, Mila mengambil segelas air putih untuk Cacha. Gadis itu pun meminumnya dalam sekali tenggak. Wajahnya sudah terlihat sangat memerah, bahkan rasa panas menjalar sampai ke hidungnya.
"Pelan-pelan sih, Cha." Mila kembali meletakkan gelas itu di atas nakas.
"Lagian Bunda sih! Ngomong sama bocil kok se-vulgar itu. Aku masih polos, Bun." Cacha merengek manja.
"Halah! Udah dua puluh lima tahun kok masih bocil polos. Kamu tuh udah waktunya nikah, Cha," ujar Mila. Kembali menyuapkan nasi yang tinggal tiga sendok.
Dengan malas, Cacha kembali menerima suapan itu. "Nanti lah, Bun. Cacha mau mantepin hati Cacha dulu. Bun ...." Cacha terdiam, raut keraguan terlihat memenuhi seluruh wajahnya. Mila menatap putrinya lekat.
"Ada apa?" tanya Mila, setelah beberapa saat menunggu, tapi Cacha masih saja membisu dan terlihat ragu-ragu.
"Kenapa sih, ayah nyuruh Rendra ngelamar Cacha, padahal ayah bilang mau jodohin Cacha dengan Mike. Setahu Cacha, ayah tidak se plin-plan itu."
"Husst!" Mila menaruh telunjuk di depan bibirnya. "Jangan bicara seperti itu, kalau ayah dengar nanti bisa marah."
Cacha pun melipat bibirnya ke dalam, ekor matanya melirik ke arah pintu. Dia menghembuskan napas lega saat tidak melihat keberadaan sang ayah di sana.
"Ayah tuh ingin lihat kesungguhan Rendra. Ayah memang ingin kamu menikah dengan Mike, tapi dia tidak mau memaksamu. Sepertinya kamu tidak mencintai Mike." Mila tersenyum tipis melihat wajah Cacha yang berubah masam. Dia yakin kalau putrinya sudah memiliki perasaan dengan Mike, tapi anak gadisnya belum menyadari perasaannya.