
Setelah Nathan dan Jasmin tidak lagi terlihat, Cacha masuk ke kamar dengan terburu-buru disusul Mila dan Johan di belakang. Mereka mendekati Nadira yang masih tiduran dengan berbalut selimut.
"Kamu sudah mendingan?" tanya Mila. Dia duduk di samping Nadira dan mengusap kening anak menantunya dengan lembut.
"Sudah, Aunty." Nadira memaksa senyumnya.
"Jangan panggil Aunty, panggil Bunda dong. Kan sekarang kamu udah jadi istri Nathan. Nad ...." Mila menjeda ucapannya. "Maafin, Bunda." Suara Mila terdengar penuh sesal.
"Justru Nadira yang minta maaf," balas Nadira. Mila semakin mengusap lembut surai hitam milik Nadira.
"Sudah, sudah. Yang penting sekarang semua sudah baik-baik saja." Johan menengahi suasana haru itu.
"Nad, hidupkan ponselmu. Daritadi Mas Rendra teror aku terus," kata Cacha dengan ketus. Nadira menepuk keningnya karena merasa telah melupakan sesuatu.
"Aku lupa kalau Mas Rendra mau ngajak aku ke Bogor." Nadira beranjak bangun dan mengambil ponsel yang dia simpan di laci nakas. Kemudian dia menghidupkan ponsel itu. Sementara tiga orang yang berada di kamar itu hanya saling berpandangan.
"Halo, Mas." Nadira kembali duduk di kasur. "Aku sedikit demam, kalau besok gimana?" tanya Nadira pelan. Beberapa saat kemudian, Nadira mematikan panggilan itu.
"Ada apa, Nona Muda?" tanya Johan penasaran.
"Uncle, Nadira sudah janji akan ikut Mas Rendra ke Bogor. Mungkin di sana sekitar tiga hari," sahut Nadira.
"Aku ikut!" sela Cacha begitu saja.
"Cha, kamu 'kan kerja," timpal Nadira.
"Aku akan izin. Kamu tenang saja." Cacha menjawab cepat. Nadira hanya mendengus kesal, lalu mengiyakan. Percuma melarang anak itu, dia pasti tetap bersikukuh untuk ikut.
"Baiklah, hati-hati selama di sana, Nona. Saya juga besok akan kembali ke Jakarta," kata Johan. Nadira menatap Johan dengan sayu.
"Uncle, kapan daddy dan mommy akan sadar?" Nadira menunduk sedih. Mila langsung memeluk gadis itu dengan erat.
"Kamu sabar ya, pasti mereka sebentar lagi akan sadar," kata Mila berusaha menenangkan. Nadira hanya mengangguk lemah. Kemudian, mereka menyuruh Nadira untuk istirahat supaya demamnya lekas turun.
Ketika mereka sudah keluar dari kamar, Nadira tidur menyamping dan menatap lampu tidur yang hanya remang-remang.
"Semoga kita tidak bertemu di sana. Jadi, aku tidak mengganggu kalian berkencan," gumamnya. Setelah itu, dia berusaha keras memejamkan kedua matanya.
Keesokan harinya, Nadira dan Cacha sudah bersiap menuju ke Bogor. Nadira mendorong koper miliknya yang berisi baju gantinya dan Cacha selama di sana. Mereka segera turun setelah Rendra mengatakan kalau dirinya sudah menunggu di bawah. Setelah dua putri itu masuk ke mobil, Johan dan Mila pun segera kembali ke Jakarta.
"Cha, kenapa kamu ikut sih?" kata Rendra dengan kesal. Padahal niat awalnya dia ingin berkencan dengan Nadira, tetapi Cacha tidak pernah ketinggalan. Gadis itu seperti pengawal untuk Nadira.
"Emang kenapa sih, Mas. Pelit banget!" balas Cacha tak kalah ketus. Dia bersandar di kursi belakang sambil bermain ponsel.
"Gak papa." Rendra mendengus kesal. "Dasar pengganggu!" gumam Rendra selirih mungkin.
"Telingaku belum tuli, Mas!" cebik Cacha kesal. Rendra tersenyum dan menunjukkan rentetan gigi putihnya.
"Aku tahu itu. Harusnya kamu tuh ngajak James, kekasih tersayangmu," kata Rendra lagi. Cacha memutar bola matanya dengan malas.
"Diamlah. Cowok kok cerewet banget kaya emak-emak," cibir Cacha. Rendra hanya menanggapi dengan senyuman.
"Sudahlah. Kalian ini kalau bertemu pasti gitu. Berantem mulu. Awas nanti jatuh cinta." Nadira terkekeh geli melihat kedua manusia itu sama-sama mendengus kesal.
"Tidur aja, Nad. Pasti gara-gara demam, bicaramu ngelantur ke mana-mana." Cacha memejamkan mata untuk beristirahat. Nadira bersandar dan menatap ke luar jendela. Entah mengapa dia merasa hatinya sangat gelisah. Dalam hati dia terus saja berdoa semoga tidak bertemu dengan Nathan dan Jasmin.
Setelah tiga jam menempuh perjalanan, mobil Rendra memasuki pelataran rumah yang sangat mewah. Setelah Rendra memarkirkan mobil, seorang perempuan paruh baya berjalan mendekati mereka.
"Rendra," teriaknya, lalu memeluk tubuh Rendra dengan erat.
"Rendra kangen Ibu," balas Rendra. Dia mencium pipi wanita itu dengan sayang.
"Ibu juga kangen kamu. Aduh Neng Geulis ini siapa?" tanya Nirmala dengan semringah.
"Ini El, sekretaris Rendra kalau yang satunya itu Cacha Maricha Hehey, tukang ganggu orang." Cacha menatap tajam ke arah Rendra yang sedang berusaha menahan tawa. Tanpa bicara, tangan Cacha menjewer telinga Rendra dengan gemas hingga lelaki itu menjerit kesakitan. Nirmala menggeleng dengan senyum lebar saat melihat tingkah mereka.
"Cha! Yang sopan, kamu gak takut ada emaknya?" bisik Nadira.
"Maaf, Tante." Cacha melepaskan jeweran itu, lalu menyalami tangan Nirmala bergantian dengan Nadira.
"Ayo kita masuk, kalian pasti sudah sangat lelah," ajak Nirmala. Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah. Tak lupa, Rendra membawakan koper milik Nadira.