
Di aula Anderson Group, seluruh karyawan berkumpul di sana. Banyak dari mereka yang mempertanyakan ada hal apa karena jarang sekali pemilik perusahaan mengumpulkan mereka seperti ini. Di saat Richard masuk, perhatian mereka semua tertuju pada lelaki tua itu.
Richard berdiri di tengah aula bersama Elie, Mike dan Yosie. Clara pun ikut berdiri tidak jauh dari mereka. Richard memberi sambutan terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengumumkan kalau dalam waktu dekat, Anderson Group akan menjadi milik Mike sepenuhnya karena hanya dia yang memiliki darah Anderson.
Seusai pengumuman itu, banyak karyawan wanita yang menjadikan Mike sebagai gebetan. Banyak sekali yang mencari perhatian Mike, tetapi lelaki itu tidak peduli bahkan tidak sedikit pun melirik wanita-wanita yang sedang berusaha mencari perhatian padanya.
***
Mansion Anderson.
Cacha sedari tadi berkutat di dapur dengan ditemani Lin. Padahal kepala pelayan itu sudah melarang, tetapi Cacha bersikukuh membuat cupcake vanila untuk suaminya. Akhirnya, Lin pun membiarkan majikan barunya itu berkutat dengan peralatan kue, sedangkan dirinya sesekali membantu.
"Wah, lihatlah Kak Lin. Cupcakenya sudah matang," kata Cacha antusias. Cacha mengeluarkannya dari pemanggang dan sudah tidak sabar ingin segera menghiasnya.
"Tunggu dingin dulu, Nona." Lin memberi tahu, Cacha hanya mengangguk mengiyakan.
"Aku telepon suamiku dulu," kata Cacha, mengambil ponsel yang berada di meja dapur lalu menghubungi nomor Mike.
"Mike, jam berapa kamu pulang?" tanya Cacha.
"Sekitar satu jam lagi. Kenapa? Kamu sudah merindukanku?" tanya Mike menggoda.
"Tidak! Aku tidak pernah merindukanmu." Cacha membantah, tetapi bibir wanita itu terlipat karena menahan tawa.
"Kalau begitu aku akan pulang nanti malam, aku mau jalan-jalan dulu."
"Kamu yang benar saja, Mike! Bilang saja kamu mau kencan sama gadis sini 'kan?" Cacha bersungut-sungut.
"Tidak mungkin. Buat apa aku cepat pulang kalau kamu tidak merindukanku," goda Mike lagi.
"Ya, ya, ya. Aku merindukanmu. Bahkan sangat merindukanmu. Cepatlah pulang, Mike."
"Hahaha. Akhirnya kamu mengaku juga, Neng. Baiklah, aku akan pulang secepatnya. Aku merindukanmu, Neng." Mike berbicara dengan sangat lembut.
"Aku matikan dulu, aku akan menyiapkan kejutan untukmu." Cacha mematikan panggilan itu secara sepihak. Dia menatap layar ponsel yang masih menyala dan menciumnya.
"Aku juga mencintamu, Mike." Cacha mencium ponsel itu beberapa kali dengan senyum mengembang. Lin yang melihat pun hanya menggeleng tak percaya. Namun, sesaat kemudian, senyum Cacha memudar saat ada perasaan aneh menyusup masuk ke hatinya.
Cacha berusaha mengalihkan dengan menghiasi cupcake itu. Seusai menghiasi cupcake, Cacha berpamitan kembali ke kamar untuk bersiap menyambut kepulangan suaminya. Dia memakai gaun dan sedikit berhias. Rambutnya dia biarkan tergerai dengan sebuah jepitan kupu-kupu terpasang di sebelah kiri. Cacha benar-benar terlihat seperti masih gadis belia dengan tampilan seperti itu.
"Kenapa aku terus saja merasa gelisah," gumam Cacha. Akhirnya, dia memakai jaket dan memasukkan pistol di saku dalam untuk berjaga-jaga. Setelahnya, Cacha turun untuk menunggu suaminya.
"Wah, Nyonya Muda yang manja baru saja keluar kamar."
Cacha menatap ke arah Fey yang sedang berjalan menaiki tangga. Cacha mendengkus kasar dan berdiri di tengah anak tangga dengan senyum sinis.
"Selamat datang, Nona Fey," sambut Cacha berpura-pura tersenyum manis.
"Enak sekali ya jadi Nyonya Muda Anderson. Kamu hanya tidur cantik dan semua yang kamu inginkan bisa terwujud," ucap Fey. Cacha tidak menanggapi, dan hanya tersenyum sinis.
"Aku tidak menyangka kalau Mike adalah lelaki bodoh yang memilih wanita kekanak-kanakan dan manja untuk dijadikan istri. Seharusnya, dia menikah dengan wanita yang sudah dewasa dan bisa mengurusnya dengan baik," cibir Fey.
Cacha mengepalkan tangannya dengan erat, tetapi dia tetap bersikap setenang mungkin. "Memangnya kenapa, Nona? Mike lebih suka gadis imut, manja dan menggemaskan sepertiku. Terus aku harus gimana dong?" tanya Cacha merengek. Fey berdecih saat melihatnya.
"Kamu itu harusnya sadar diri! Pantaskah kamu bersanding dengan Mike?" Fey melipat tangan di depan dada.
"Kamu tahu, wanita yang wanita yang pantas bersanding dengan Mike itu wanita cantik dan dewasa, bukan gadis manja sepertimu. Atau jangan-jangan kamu menikahi Mike untuk mendapatkan kekayaan milik keluarga Anderson?" tukas Fey, telunjuknya mengarah tepat di depan wajah Cacha.
"Maaf, Nona. Sepertinya ucapan kamu lebih cocok untuk diri kamu sendiri. Daripada berbincang tidak jelas denganmu, lebih baik aku menyambut kepulangan suamiku."
Cacha bergegas turun, beberapa anak buah Mike yang menyamar sebagai pelayan pun sudah menunggu di bawah. Takut terjadi apa-apa dengan nona muda mereka.
"Bunda!" pekik Cacha saat tubuhnya jatuh terguling di anak tangga karena didorong Fey. Beberapa pelayan yang berusaha mencegah pun gagal melakukan tugas mereka.
"Ah, sakit!" Cacha mengerang saat merasakan sakit yang sangat hebat di perutnya. Bahkan darah segar mengalir dari sela kedua paha dan membasahi lantai. Fey yang melihat itu menjadi sangat ketakutan.
"Nyonya Muda," teriak tiga pelayan tersebut. Fey pun turun dengan cepat dan hendak pergi dari sana.
"Itu pantas untukmu!" seru Fey disela ketakutannya. Ketiga pelayan itu hendak menangkap Fey, tetapi Cacha justru melarangnya.
"Berhenti di tempat kalian!" pekik Cacha sembari meringis kesakitan. Diam-diam dia mengeluarkan pistol dari saku jaket. Fey pikir dia bisa bebas kabur karena tidak ada seorang pelayan pun yang mengejar.
"Kamu harus mendapat balasan atas perbuatanmu!"
Dor! Dor!
Dua kali suara tembakan menggema di ruangan itu, mengejutkan semua orang. Para pelayan mansion Anderson berjalan mendekat dan terkejut saat melihat Fey sudah terjatuh di lantai dengan dua kaki terkena luka tembak, bahkan wanita itu sudah berteriak kesakitan.
Cacha tersenyum puas disela rasa sakit yang semakin terasa mendera. Bahkan pistol yang barusan dipegang terjatuh ke lantai begitu saja.
"Nyonya, kita harus segera ke rumah sakit sekarang." Salah satu dari mereka membopong tubuh Cacha dan melangkah lebar keluar mansion, sedangkan yang lain membantu Fey yang juga butuh penanganan segera. Tangisan Fey terdengar memekik di telinga.
Lin segera menghubungi majikannya dan mengatakan semua yang terjadi. Wanita itu bergidik ngeri saat melihat darah yang tercecer di lantai. Apalagi yang berada di bawah tangga.
"Mungkinkah Nyonya Muda sedang hamil?" gumam Lin. Dia tidak bisa membayangkan seberapa marahnya majikan mereka kalau melihat darah segar itu.
"Kakak Lin, aku takut." Beberapa pelayan di sana meringsut, apalagi setelah mendengar bunyi tembakan tadi karena ini pertama kalinya terjadi di mansion.
"Ya, aku juga tidak menyangka kalau Nyonya Muda sangat ahli bermain senjata padahal dia terlihat begitu manja. Bahkan dua peluru bisa bersarang tepat di kaki Nona Fey." Lin masih belum sepenuhnya percaya.
"Benar, Kak. Aku juga tidak menyangka," timpal salah satu di antara mereka.
"Lebih baik sekarang kalian bersihkan darah itu sampai benar-benar bersih. Aku akan menyusul ke rumah sakit." Fey pun bergegas pergi ke rumah sakit, sedangkan para pelayan itu pun membersihkan darah yang tercecer di lantai.
π¦π¦π¦
Wah lele terbang thor
Ku menangisssss π π
Hayukk hari senin waktunya lempar vote nih, wkwkwk
Selamat pagi
Selamat beraktivitas
Salam sayang dari Othor sholehah ahh ahh