
Cacha merasa begitu gugup saat ponselnya berdering dan ada nama Mike tertera di layar. Gadis itu begitu ragu akan mengangkat atau membiarkan saja. Dia bingung apa yang akan dibicarakan dengan Mike, karena jujur dia masih merasa tidak enak hati setelah bicara seolah menghina lelaki itu.
Panggilan itu pun terputus karena Cacha tidak juga menjawabnya. Selang satu menit, sebuah pesan masuk dan Cacha segera membukanya.
Maafkan saya sudah mengganggu waktu istirahat Anda, Nona. Semoga lekas sehat, Nona. Selamat malam.
Jantung Cacha berdegup sangat kencang setelah membaca pesan itu. Dia pun tanpa sadar menekan icon panggil, jantung Cacha semakin tak karuan saat panggilan itu sudah terhubung.
"Nona?" Suara dari seberang telepon berhasil mengejutkan Cacha.
"I-iya, Mike." Cacha begitu gugup.
"Anda belum tidur?" tanya Mike lembut.
"Belum, Mike. Aku habis dari kamar mandi," sahut Cacha beralasan.
"Tidurlah, Nona. Sudah malam. Anda harus banyak istirahat supaya cepat pulih."
Cacha begitu tersentuh mendengar perhatian Mike untuknya. "Terima kasih sudah perhatian padaku, Mike."
"Sama-sama, Nona. Sudah kewajiban saya sebagai seorang anak buah memperhatikan atasannya, Nona." Entah mengapa, Cacha merasa tersindir dengan ucapan Mike.
"Mike—"
"Nona, saya dengar Anda akan lamaran dengan Tuan Rendra besok malam. Selamat Nona, semoga acara kalian berjalan lancar, bahkan sampai jenjang pernikahan tanpa halangan apa pun."
"Terima kasih banyak, Mike. Apa kamu benar-benar sudah pensiun, Mike?" tanya Cacha dengan ragu.
"Bisa jadi, Nona. Saya ingin membuka usaha sendiri mungkin. Memang kenapa, Nona?"
"Tidak papa, Mike. Kenapa kamu tidak berpamitan padaku. Apa kamu masih marah padaku?"
"Saya tidak berhak marah dengan Anda, Nona. Saya selalu mendoakan kebahagiaan Anda, Nona. Kalau begitu saya matikan dulu. Selamat istirahat."
"Selamat malam juga, Mike."
Panggilan itu terputus, Cacha menghela napas panjang saat melihat layar ponselnya yang masih menyala. Hatinya benar-benar bimbang saat ini.
"Benarkah kata bunda kalau cinta tidak pernah memandang usia ataupun jabatan?" gumam Cacha. Dia meletakkan kembali ponselnya, lalu memejamkan mata untuk tidur. Dia harus bersiap untuk menjalani hari esok.
***
Nathan meraba tempat tidurnya, kedua matanya langsung terbuka lebar saat meraba tempat tidur sebelahnya terasa lengang dan dia tidak merasakan apa pun di sana. Nathan beranjak bangun, dan terkejut saat tidak melihat keberadaan istrinya di sampingnya.
"Beb!" panggil Nathan, tetapi tidak ada sahutan. Dengan kasar, Nathan turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi, memastikan apakah istrinya berada di sana atau tidak, tetapi hasilnya nihil. Kamar mandi itu tidak ada penghuni sama sekali.
Nathan melangkah lebar keluar kamar sembari berteriak memanggil nama istrinya, tujuannya saat ini adalah kamar Cacha. Namun, sebelum tangannya mengetuk pintu, suara dari arah belakang berhasil mengejutkan lelaki itu.
"Kamu dari mana, Beb?" tanya Nathan. Dia berjalan mendekati Nadira lalu memeluknya erat.
"Aku habis dari dapur, mau makan tapi males banget." Nadira bicara dengan manja, Nathan mencubit pipi Nadira dengan lembut.
"Kenapa males? Pasti karena suami tampanmu ini enggak nemenin 'kan?" goda Nathan percaya diri.
"Uda malem, takut gemuk," sahut Nadira sedikit ketus. "Aaahh!" Nadira berteriak saat merasakan tubuhnya seperti melayang.
"Alah, mulut buaya mah gitu. Bilangnya istri gemuk tak apa, tapi nanti lihat yang sexy, langsing, cantik eh langsung nyosor gitu aja," gerutu Nadira dengan bibir mengerucut.
Nathan mendudukkan Nadira di kursi yang berada di dapur lalu berjongkok di depan wanita itu. Tangannya menggenggam erat tangan Nadira, sementara pandangannya menatap dalam kedua bola mata bening milik istrinya.
"Sayang, percayalah kalau hanya kamu yang menempati hati aku. Namamu sudah memenuhi seluruh ruang di relung hati ini dan tidak adat tempat untuk hati yang lain lagi."
Wajah Nadira merona merah saat mendengar gombalan suaminya. Lelaki somplak itu selalu saja bisa membuat dirinya terbuai dan selalu merasa jatuh cinta, seolah membayar lunas rasa sakit hatinya kemarin.
"Sekarang kamu mau makan apa? Biar suamimu yang paling tampan ini memasak untukmu," angkuh Nathan, menepuk dada karena merasa bangga.
"Memang kamu bisa masak?" tanya Nadira meremehkan.
"Wah ... tentu saja ... tidak!" jawab Nathan diiringi gelak tawa, membuat Nadira memutar bola matanya malas. "Tapi aku akan mencoba untukmu dan aku yakin kalau tangan ajaib ini bisa membantu membuat makanan lezat untuk istriku." Nathan menunjukkan telapak tangan kanannya.
"Hadeh! Tangan ajaib apaan?" Nadira berdecih.
Nathan bangkit berdiri lalu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Nadira begitu gugup saat merasakan hangat napas Nathan menerpa pipinya.
"Tangan ajaib yang bisa membuatmu merem melek dan mendes*h kenikmatan," bisik Nathan tepat di telinga Nadira.
"Kak Nathan menyebalkan!" Nadira sedikit mendorong tubuh Nathan agar menjauh, tetapi lelaki itu tetap saja pada tempatnya.
"Telingaku sakit mendengar kamu memanggil kakak terus. Sudah ayo masak, nanti keburu makin malam kalau kamu makan makin gemuk aja tuh badan."
Nathan berjalan mendekati lemari pendingin untuk mencari bahan membuat nasi goreng tanpa peduli pada istrinya yang sudah sangat kesal.
"Kalau enggak mau sama aku yang gemuk, ya udah sana sama cewek lain aja," omel Nadira dengan melipat tangan di depan dada.
"Enakan gemuk, Beb. Enggak perlu kasur empuk pun, kalau pas genjot enggak berasa sakit," kata Nathan asal. Nadira tidak menyahut lagi, hanya mendengkus kasar dan menatap gerak-gerik suaminya.
Nathan mengambil bakso, sosis, sayur dan juga bumbu untuk membuat nasi goreng. Melihat suaminya akan mulai meracik, Nadira pun segera bangkit dan mendekati suaminya.
"Sini aku bantu, Mas." Nadira mengambil alih bahan-bahan itu dari tangan suaminya.
"Wah, cakep! Ini namanya istri pengertian. Terus aku ngapain?" tanya Nathan dengan memegang pisau di tangan kanannya.
"Kupas terus iris bawang merah aja deh, biar aku yang potong sosis dan dua bakso ini," suruh Nadira.
Tiba-tiba Nathan memegang Othong dengan erat hingga membuat kening Nadira mengerut karena heran.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Nadira. Mengamati Nathan yang masih saja memegangi adik kecilnya.
"Katanya kamu mau potong sosis sama dua telur, Beb. Aku takut si Othong juga kamu potong, dia kan juga ada telurnya dua, Beb." Nathan menjawab dengan tenang.
"Astaga, Kak Nathan selalu saja menyebalkan!" pekik Nadira, meremas sosis di tangannya dengan gemas.
"Ya Tuhan, kalau si Othong digituin bakal mati muda aku, Beb." Nathan masih saja menjawab asal.
"Bisakah kamu tidak bicara mesum sekali saja?" pinta Nadia penuh penekanan.
"Bisa, Beb. Bisa kok, bisa banget malahan. Aku enggak akan bicara mesum tapi bakal langsung praktek. Ingat gaya pamungkas kita. Woman on top alias kamu di atas dan aku di bawah, kamu bergoyang dan aku mendes*h pasrah," seloroh Nathan diiringi gelakan tawa. Sementara Nadira benar-benar sudah merasa sangat kesal.