
Nadira mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya di sekitar. Dia menatap sekeliling dan keningnya mengerut saat melihat seseorang tertidur lelap di sampingnya. Bibir Nadira tersenyum simpul. Tanpa sadar dia mengusap wajah lelaki itu dengan lembut.
"Bahkan bayanganmu saja terasa nyata," gumam Nadira sambil terus mengusap rahang pria itu. "Seharusnya aku sadar sedari awal kalau cintamu bukan lagi untukku. Pasti saat ini kamu sedang melamar Jasmin." Nadira tertawa sumbang. Dia merasa dirinya sangat bodoh.
"Lama-lama aku bisa gila kalau seperti ini. Pergilah! Jangan mengangguku, dasar bayangan jelek!" umpat Nadira kesal.
Nadira berbalik dan hendak beranjak bangun, tapi kepalanya terasa begitu pusing. Bahkan dia bisa merasakan tubuhnya demam. Dia berusaha mengingat apa yang membuat dirinya menjadi demam seperti sekarang.
"Bukankah aku sedang berendam di bathup, kenapa aku sekarang bisa berada di kamar? Apa jangan-jangan ...." Nadira terdiam saat perasaannya mulai merasa tidak nyaman. Dia sama sekali tidak mau berbalik, takut tebakannya benar.
Dengan gerakan cepat Nadira hendak turun dari kasur. Namun, tiba-tiba gerakannya terhenti saat seseorang memeluknya dari belakang. Pelukan yang sangat erat hingga membuat jantung Nadira seolah akan lepas dari tempatnya.
Ada perasaan aneh yang mengalir seiring aliran darah di seluruh tubuhnya. Apalagi ketika pelukan itu terasa mengerat bahkan Nadira bisa merasakan hangat napas lelaki itu menerpa lehernya hingga membuat tubuhnya meremang seketika.
"Lepaskan aku!" Nadira meronta setelah beberapa saat hanya diam terpaku. Bukannya terlepas, pelukan itu justru semakin mengerat.
"Diamlah, Nona Muda. Izinkan saya memeluk Anda sebentar saja." Nadira tidak lagi meronta, tubuh gadis itu justru membeku. Membiarkan Nathan tetap memeluk tubuhnya.
"Kak, lepaskan aku." Suara Nadira terdengar sangat lirih dan parau. Nathan tahu kalau gadis itu sedang menahan tangis saat ini.
"Lima menit. Setelah lima menit saya akan melepaskan pelukan ini," balas Nathan.
"Kak, jangan pernah memelukku." Mata Nadira mulai basah. Dia merasa begitu sakit saat bayangan Nathan bersama Jasmin datang menghantui.
"Kak ... sejak awal hubungan kita ini sudah salah. Maafkan aku sudah membuatmu terjebak dalam pernikahan yang tidak kamu inginkan. Maafkan aku sudah memisahkan kamu dan Jasmin." Nadira menghentikan ucapannya. Dia terisak saat merasakan hatinya begitu sakit bahkan sampai membuat dadanya begitu sesak.
"Nona Muda, saya minta maaf kalau saya sudah terlalu menyakiti Anda." Suara Nathan terdengar berat. Lelaki itu sedang berusaha menahan perasaannya yang bergejolak hebat.
"Kak ... ayo kita bercerai dan kita bisa bahagia dengan pilihan kita masing-masing." Mendengar ucapan Nadira, pelukan itu bukan hanya merenggang tapi terlepas seketika. Nadira masih bergeming di posisinya. Dia tidak berbalik karena takut hatinya akan semakin sakit.
"Apa Anda melupakan semua yang saya katakan, Nona Muda? Sampai mati pun saya tidak akan menceraikan Anda!" kata Nathan dengan suara tinggi.
"Tapi aku tidak mau dimadu, Kak! Aku tahu Kak Nathan sudah melamar Jasmin dan aku tidak mau menjadi penghalang hubungan kalian. Aku lebih baik diceraikan daripada harus memiliki madu dalam pernikahanku." Suara Nadira mulai terdengar melirih. Nathan tidak merespon sama sekali. Nadira justru bisa merasakan lelaki itu pergi dari kamar meninggalkan dirinya sendirian.
Nadira kembali meremas dadanya dengan kuat saat rasa sakit kembali menghujam jantungnya. "Kenapa kamu sama sekali tidak mau melepasku? Apa kamu sengaja membuatku terluka? Padahal aku sudah terluka sedalam ini." Airmata Nadira menetes, membasahi wajah cantiknya yang masih pucat. Kepala yang berdenyut sakit pun dia sudah tidak bisa merasakan, terkalahkan oleh rasa sakit yang mencabik-cabik hatinya.
Nadira mengusap airmatanya dengan cepat saat mendengar suara pintu kamar terbuka. Dia menarik selimut sampai menutup hampir di seluruh tubuhnya. Bahkan Nadira tidak bergerak saat tubuhnya ditepuk dengan perlahan.
"Nona Muda, makanlah terlebih dahulu setelah itu Anda harus minum obat," kata Nathan, tetapi Nadira berpura-pura tertidur. Nathan pun kembali menepuk tubuh Nadira. "Baiklah kalau Anda tidak mau bangun, jangan salahkan saya kalau saya menyuapi Anda dengan mulut saya sendiri!"
Nadira membuka selimut dan bangun dengan cepat setelah mendengar ancaman dari Nathan. Gadis itu mendesah kasar saat melihat Nathan yang sedang tersenyum miring ke arahnya.
"Setelah makan, Anda harus minum obat supaya demam Anda menurun. Jadi, Anda tidak mengigau atau bicara yang tidak-tidak." Nadira melengos begitu saja setelah mendengar ucapan Nathan.