
"Le, aku gugup!" Ara menghempaskan tangan Leona yang sedang menariknya menuju ke ruang make up.
"Udahlah, Ra. Ngapain gugup segala, ayo aku temani." Leona hendak menarik tangan Ara kembali, tetapi segera disembunyikan di belakang badan.
"Aku malu," rengek Ara. Seketika Leona terkekeh saat melihat wajah sahabatnya itu.
"Kenapa kalian belum masuk?" Suara Nadira berhasil mengagetkan mereka berdua. Ara menunduk dalam saat Nadia sudah berdiri tepat di depannya.
"Ma-maaf, Nona."
"Ra, Kak Nadira sebentar lagi akan menjadi kakakmu, jadi jangan takut seperti itu." Leona mengangkat dagu Ara supaya gadis itu mendongak.
"Jangan memanggilku nona, kamu boleh panggil aku Nadira atau kakak," suruh Nadira diiringi senyum tipis.
"Ba-baik, Non ... eh Kak Nadira," ucap Ara. Nadira tersenyum lebar saat mendengarnya.
"Lebih baik sekarang kamu berdandan yang cantik. Tiga jam lagi acara akan dimulai." Nadira menggandeng Ara dan Leona lalu mengajaknya masuk ke ruang make up. Kali ini, Ara tidak berani menolak. Hanya bisa pasrah saat para perias itu mengaplikasikan beberapa produk kecantikan ke wajahnya. Ara sedikit merasa tidak nyaman, tetapi dia merasa tidak enak hati saat Nadira dengan setia menunggunya.
Sementara itu di ruangan yang lain, Febian sedari tadi mondar-mandir hingga membuat Alvino berdecak kesal. Namun, sesaat kemudian dia menghela napas panjang saat melihat Febian menggigit ujung-ujung kukunya.
"Apa yang membuatmu gelisah, Bi?" tanya Alvino menghentikan apa yang dilakukan Febian tadi.
"Aku grogi, Kak." Febian dengan kasar menghempaskan tubuhnya di sofa dekat Alvino.
"Jangan bilang kamu belum hapal," tukas Alvino dengan senyum mengejek.
"Bukannya belum hapal, Kak. Aku takut salah sebut nama saja." Febian menghela napas panjangnya.
"Memangnya kamu takut akan sebut nama siapa?" selidik Alvino. Febian tidak menjawab, hanya memalingkan wajah saat sang kakak menatapnya. "Aku tahu, sudahlah lebih baik sekarang kamu bersiap-siap. Ingat, acara akan segera dimulai."
"Baiklah." Febian bangkit berdiri untuk segera bersiap-siap.
***
Ruangan pesta tampak begitu megah dengan berbagai hiasan dekorasi yang hampir memenuhi setengah ruangan itu. Walaupun pesta itu bukanlah sebuah pesta besar dan hanya dihadiri keluarga, nyatanya suasana pesta itu begitu meriah. Tempat untuk ijab kabul telah siap, penghulu pun sudah duduk di sana. Tinggal menunggu kedua calon mempelai yang belum datang.
Selang beberapa saat, Febian masuk dengan didampingi Alvino juga Nathan. Sementara dari pintu sebelah, Ara masuk bersama dengan Nadira juga Leona yang mendorong kursi roda yang dipakai oleh ayah Ara.
Febian terpaku saat melihat betapa cantiknya Ara saat mereka sudah berdiri berhadapan. Ara pun memalingkan wajah karena merasa gugup saat pandangan mata Febian tidak terputus sama sekali.
"Ehem!" Alvino berdeham untuk menyadarkan adiknya.
"Apaan sih, Kak!" protes Febian dengan sedikit ketus. Alvino tidak menyahut, hanya tersenyum tipis. Penghulu yang sedari tadi sudah menunggu, menyuruh mereka untuk duduk.
"Kamu tidak ingin duduk?" tanya Febian saat Ara masih berdiri di tempatnya.
"Ma-maaf." Ara mendudukkan tubuhnya di samping Febian, sedangkan Akbar—ayah Ara— berada di samping penghulu.
"Kalian sudah siap?" tanya penghulu sekali lagi. Febian mengangguk cepat, sedangkan Ara hanya membisu karena dirinya masih belum percaya. Penghulu itu menjabat tangan Febian yang sudah basah karena keringat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kiara Rafania Putri binti Akbar Setiawan dengan maskawin tersebut, tunai!" Febian mengembuskan napas lega saat berhasil mengucapkannya dalam satu tarikan napas dan tidak ada satu pun yang salah.
Setelah kata sah menggema di ruangan itu, dan doa sudah diucapkan. Ara dengan gugup mencium punggung tangan lelaki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya, sedangkan Febian tampak malu saat mendaratkan sebuah ciuman di kening wanita itu.
"Ciee manten anyar," celetuk Leona di tengah suasana haru itu. Febian menoleh dan menatap kesal, tetapi Leona justru menjulurkan lidah lalu tergelak keras.
Acara dilanjutkan dengan makan bersama, tidak ada pesta karena hanya keluarga yang hadir. Sedari tadi, Ara terlihat sibuk dengan ayahnya dan sedikit menghindar dari suaminya. Febian yang menyadari itu segera meminta izin kepada ayah Ara untuk mengajak putrinya ke kamar terlebih dahulu. Dia tidak peduli dengan godaan keluarganya saat mereka mengetahui ke mana dirinya akan pergi saat ini.
Sesampainya di kamar, Febian melepas tuxedo yang dikenakannya. Sementara Ara duduk di tepi tempat tidur dengan tangan saling meremas. Dia merasa sangat gugup ketika hanya berdua saja.
"Kamu tidak ingin melepas gaunmu?" tanya Febian yang baru saja mendudukkan tubuhnya tepat di depan Ara.
Gadis itu menggeleng lemah, "Tidak, Tuan. Saya tidak membawa baju ganti."
"Aku ini suamimu, tapi kenapa kamu masih memanggilku seperti itu?" tanya Febian sedikit kesal.
"Lalu saya harus memanggil apa?" Ara mendongak, tatapan mereka berdua pun pada akhirnya bertemu.
Febian tersenyum lebar saat melihat betapa cantiknya sang istri dari jarak yang begitu dekat. Wajah yang biasa polos, kini terlihat semakin memesona. Tanpa sadar, Febian mengusap puncak kepala Ara dengan lembut. Tatapannya tertuju pada bibir tipis gadis itu yang pernah dia cicipi sekali, tetapi selalu terbayang setiap malam. Ara pun hanya bisa diam karena semakin merasa gugup.
"Ra," panggil Febian lembut. "Izinkan aku belajar mencintaimu. Kalau seandainya nanti ada sikap dan ucapanku yang mungkin melukai hatimu, aku minta maaf. Tapi percayalah kalau aku akan belajar bersungguh-sungguh untuk mencintaimu."
Kedua mata Ara terlihat berkaca-kaca, sebuah kalimat sederhana, tetapi membuat hatinya terasa bergetar hebat. Dia menggenggam tangan Febian yang saat ini sedang menangkup wajahnya.
"Mas, aku juga akan belajar mencintaimu dan belajar menjadi istri yang berbakti padamu. Aku juga minta maaf kalau nanti aku melakukan banyak kesalahan atau bahkan menyakiti hatimu," balas Ara. Senyum Febian semakin mengembang, ibu jarinya mengusap air mata yang mulai perlahan turun membasahi wajah cantik Ara.
Kedua mata Ara sontak terpejam saat Febian memajukan wajahnya. Semakin detik berlalu, semakin terkikis pula jarak di antara mereka. Tidak ada satu menit, bibir Febian sudah berhasil menyentuh bibir Ara dengan sangat lembut. Ara semakin menggenggam erat tangan Febian saat lelaki itu semakin menciumnya dalam.
Dengan perlahan Febian mulai memberikan ******n-******n kecil, awalnya Ara hanya terdiam, tetapi saat Febian menggigit perlahan, barulah bibir itu sedikit terbuka karena tidak ingin melewatkan kesempatan, Febian memasukkan lidahnya dan mengakses seluruh rongga mulut istrinya. Ara pun mulai terbuai dan belajar menyeimbangi suaminya.
💦💦💦
Hareudang Hareudang panas panas panas
Oee Thor! Nanggung amat, Astaga! Gue santet online elu, Thor 😅😅
Sudah Ye, Othor mau lanjut sunah Rosul dulu ( Dzikir oe, bukan anu-anu ya. Kalau kalian berpikir sunah Rosul itu anu, jangan-jangan otak kalian sudah terkontaminasi oleh Kaleng Rombeng)
Selamat malam, selamat beraktivitas gaes
Selamat malam Jum'at kliwon jangan lupa celup keris, kalau enggak ada keris celup anu aja 😅
Gimana? Lanjut??
Mentang-mentang mau tamat jadi nanya gitu Mulu, lanjut enggak?
Ya jelas lanjutlah!! 🤣