Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
174


"Saya tidak akan melakukan malam pertama kita kalau Anda belum siap Nona," ucap Mike dengan tegas. Cacha membuka tangannya dan menatap Mike dengan sangat lekat.


"Kenapa?" tanya Cacha dengan alis yang saling bertautan.


"Nona ... saya mencintai Anda dengan setulus hati. Bukan hanya karena napsu sesaat. Kalaupun Anda saat ini belum siap, saya tidak akan memaksa untuk meminta hak saya. Menikah dengan Anda saja, sudah menjadi kebahagiaan yang luar biasa untuk saya." Mike berbicara dengan senyum simpul tersemat di bibirnya.


Mendengar ucapan Mike barusan, tanpa sadar air mata Cacha membasahi wajah cantiknya. Dia begitu terharu dengan Mike yang sangat mencintainya.


"Lakukanlah, Mike. Aku sudah siap sekarang. Jadikan aku istrimu seutuhnya." Cacha berbicara dengan begitu yakin.


"Anda yakin, Nona?" tanya Mike kembali memastikan. Cacha tidak menjawab, hanya mengangguk dengan cepat sebagai jawabannya.


Senyum di bibir Mike semakin mengembang sempurna. Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur dan berhadapan dengan Cacha yang sudah tampak malu-malu.


"Nona, maafkan saya kalau nanti saya akan melukai Anda," ucap Mike. Raut wajah lelaki itu tampak ragu.


"Mike, jangan seperti itu. Sudah kewajibanku sebagai istrimu. Lakukanlah. Sesakit apa pun rasanya, aku pasti bisa menahannya. Satu hal lagi, bisakah kamu tidak memanggilku nona muda? Aku sekarang istrimu, bukan lagi anak bosmu." Cacha berbicara dengan sangat lembut.


"Tapi, Nona ...."


Cacha menatap tajam ke arah Mike. "Jangan panggil aku nona muda, atau aku akan pergi dari hidupmu selamanya, Mike!" ancam Cacha. Raut ketakutan terlihat jelas memenuhi wajah Mike.


"Baiklah, kalau begitu saya akan memanggil Anda, Eneng Cacha saja," kata Mike.


"Baiklah, dan satu lagi. Jangan memanggil saya Anda, hubungan kita tidak seformal itu sekarang." Cacha menunjukkan senyum yang begitu menggemaskan, membuat Mike begitu gemas dengan istri barunya.


Tanpa sadar, Mike memajukan wajahnya sehingga jarak mereka begitu dekat, bahkan Cacha bisa merasakan hangat napas Mike menerpa pipinya.


Secara refleks, Cacha memejamkan mata saat Mike mendaratkan ciuman di puncak kepalanya, lalu turun ke kening, mata dan terakhir di bibir. Merasakan gerakan Mike yang begitu lembut, membuat Cacha menjadi terbuai.


Ciuman mereka lama-kelamaan berubah menjadi ******n di mana lidah mereka saling berbelit, saling bertukar saliva. Mike mengakses seluruh rongga mulut Cacha dengan tangan yang mulai mengusap punggung belakang gadis itu sehingga menciptakan gelayar aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Ciuman mereka masih sama-sama kaku karena ini merupakan pertama kali untuk mereka berdua, tetapi baik Cacha maupun Mike, berusaha menikmatinya.


Setelah puas saling beradu saliva, Mike menurunkan ciumannya, menjelajah leher jenjang Cacha dengan lidahnya, dan tangan yang mulai merem*s bukit kembar gadis tersebut.


Cacha semakin terbuai, dia sampai menggigit bibir bawah untuk menahan desah*n agar tidak keluar. Mike terus saja menghujami Cacha dengan sentuhan-sentuhan yang begitu memabukkan. Bahkan membuat senjatanya berdiri menantang.


Karena buaian Mike yang begitu memabukkan, tanpa sadar kini tidak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh Cacha bahkan handuk yang dikenakan Mike pun sudah jatuh entah ke mana.


Saat tanpa sengaja Cacha melihat senjata Mike yang sudah berdiri menantang, bahkan mengembang tiga kali lipat, Cacha menutup mata dengan tubuh gemetar.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Mike khawatir.


"Baik, Mike. Aku hanya takut, kenapa anumu sebesar itu. Apa muat di lubangku yang kecil?" tanya Cacha yang masih polos. Mike terkekeh saat mendengar pertanyaan istrinya itu.


"Kalau kamu belum siap, kita bisa menundanya." Mike berbicara dengan tenang, meski napas lelaki itu begitu memburu karena hasratnya yang sudah naik ke ubun-ubun.


Cacha menurunkan tangannya, dan melihat Mike yang sedang tersenyum ke arahnya. Namun, Cacha tahu kalau lelaki itu sudah tidak sabar.


"Aku siap, Mike. Aku pasti bisa menahannya," ucap Cacha lembut.


Mike merasa begitu bahagia, dia menciumi seluruh wajah Cacha, dan memasukkan tubuh gadis itu dalam kungkungannya. Kedua kaki Mike masuk di antara kedua paha Cacha dan berusaha keras memasukkan adik kecilnya di lubang sana.


Cacha menggigit bibir bawah saat merasakan sakit yang luar biasa, tetapi sebisa mungkin dia menahannya. Mike pun melakukan dengan gerakan perlahan untuk menembusnya. Namun, sia-sia. Cacha merintih saat benda tumpul itu berhasil merobek selaput daranya.


Mike pun menghentikan gerakannya dan kembali menciumi seluruh wajah Cacha. Rasanya, dia tidak tega melihat istrinya yang begitu kesakitan.


"Kita sudahi saja. Aku tidak tega melihatmu sakit seperti ini." Mike hendak mencabut adik kecilnya, tetapi Cacha langsung menahannya.


"Jangan berhenti, teruskan saja."


Mike awalnya ragu, tetapi saat melihat sorot mata Cacha yang meyakinkan, dengan perlahan Mike memompa tubuh Cacha dengan perlahan setelah sudah siap menerima.


Malam itu pun, menjadi malam yang panas untuk pengantin baru itu, di mana mereka saling berbagi desah*n dan erang*n untuk mencapai puncak Nirwana bersama.


Hareudang Hareudang Hareudang


Panas panas panas


Cuaca di sini panas, tempat kalian gimana gaes?