Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
181


Setelah memeriksa kandungannya, kini Nathan dan Nadira sedang dalam perjalanan mencari burger isi tempe penyet sesuai keinginan ibu hamil tersebut. Mobil yang dikemudikan Zack sudah mengitari seluruh jalan di sekitar sana, tetapi tidak ada satu pun penjual burger isi tempe penyet.


"Beb, bisakah ngidammu ganti?" tanya Nathan, dia sudah merasa begitu lelah.


"Enggak, Mas. Aku mau itu!" Nadira tetap bersikukuh.


"Terus, kita mau nyari di mana lagi?" Nathan menatap lekat wajah istrinya yang saat ini sedang cemberut.


"Ya udah, tinggal kamu beli burger tanpa daging, nanti biar Mbak Arum bikin tempe penyetnya," sahut Nadira dengan santai. Kedua mata Nathan membola sempurna, menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi, Beb?" Nathan berbicara dengan meredam suaranya supaya tidak terlihat kalau dirinya sedang sangat kesal saat ini.


"Aku cuma pengen jalan-jalan berdua sama kamu. Kamu keberatan?" Suara Nadira terdengar parau menahan tangis, bahkan mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.


Nathan yang melihat itu, segera merengkuh tubuh istrinya dan membawanya masuk dalam dekapannya. Beberapa ciuman dia daratkan di kening ibu hamil yang saat ini sedang merajuk.


"Kamu masih mau jalan-jalan?" tanya Nathan dengan lembut.


"Memangnya kamu enggak ke kantor lagi? Ingat, Mas. Kamu ini pemimpin perusahaan. Jangan pemalas gini," omel Nadira.


"Habis ini ke kantor, aku masih ingin merayakan kebahagiaan kita." Pelukan Nathan semakin terasa erat. Namun, dalam hati lelaki itu sedang ngedumel dengan menyisipkan kata sabar berkali-kali untuk menghadapi ibu ngidam satu ini. Nadira menjawab dengan gelengan kepala.


Mereka pun akhirnya kembali ke mansion Alexander, tidak lupa mampir membeli burger terlebih dahulu. Setelah apa yang diinginkan sudah didapat, Zack segera melajukan mobilnya karena dua jam lagi ada pertemuan penting.


***


Perusahaan Alexander Group.


Bibir Alvino sedari tadi terus tersenyum setelah melihat foto hasil USG milik Nadira yang Nathan kirimkan untuknya. Dia tidak menyangka kalau Nadira akan hamil secepat ini dan dirinya sebentar lagi akan dipanggil Uncle.


Kenan yang melihat betapa bahagianya wajah Alvino, hanya bisa menghela napas panjang. Apakah dia tidak bahagia mendengar kabar kehamilan Nadira? Tentu saja bahagia. Hanya saja, ada sesuatu yang semakin mengusik pikirannya saat ini.


"Apa yang bisa kubantu, Ken?" tanya Alvino balik.


"Al, bisakah kamu atau siapa pun tidak memberi kabar bahagia ini kepada Ana. Aku takut dia akan semakin terluka." Suara Kenan terdengar lirih, tetapi begitu memohon.


Alvino menatap Kenan dengan tatapan iba. Dia tahu dengan pasti bagaimana perasaan Kenan saat ini. "Kamu sudah periksa lagi?"


"Sudah, Al. Semua hasilnya baik. Sperm*ku maupun rahim Ana sehat semua." Kenan terlihat begitu pasrah. Lelaki itu mengusap wajah secara kasar.


"Mungkin belum rezeki kalian, Ken. Teruslah berusaha, aku yakin kalau sebentar lagi calon buah hati kalian akan hadir." Alvino berusaha memberi kata semangat untuk sahabatnya. Kenan tidak menjawab, hanya mengangguk dengan perlahan.


Di saat suasana sedang hening, ponsel Kenan terdengar berdering. Kening lelaki itu terlihat mengerut saat melihat nomor rumah memanggilnya. Perasaan Kenan mendadak gelisah. Dengan tergesa, lelaki itu segera mengangkatnya.


"Apa! Baiklah, aku ke sana sekarang."


Alvino menatap Kenan yang saat ini sedang berdiri dengan raut wajah yang begitu cemas. "Ada apa, Ken?" tanya Alvino.


"Ana masuk rumah sakit, dia terjatuh di kamar mandi, dan katanya pendarahan," papar Kenan. Lelaki itu terlihat begitu terburu.


"Pergilah, Ken," suruh Alvino.


"Tapi, Al. Setelah ini kita ada pertemuan penting," balas Kenan bingung.


"Pergilah, istrimu lebih penting. Soal pekerjaan, aku masih bisa menghandle," ucap Alvino yakin.


"Terima kasih banyak, Al."


Kenan pun bergegas keluar ruangan, langkahnya begitu lebar. Mendengar istrinya pendarahan, pikiran Kenan begitu kalang kabut. Bayangan istrinya yang jatuh dengan kepala penuh darah, membayangi pikiran Kenan sejak tadi. Namun, sebisa mungkin lelaki itu fokus pada kemudinya.