Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
22


Nathan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak nyaman saat teringat raut wajah Nadira setelah kembali dari kamar mandi. Walaupun Nadira mencoba bersikap biasa saja, tetapi Nathan bisa merasakan ada yang tidak beres dengan gadis itu.


Dia mengambil ponsel di saku, lalu menghubungi nomor Mike, anak buah kepercayaan ayahnya. Tiga kali Nathan mencoba menghubungi, tetapi panggilan itu tidak ada satu pun yang dijawab.


Nathan lalu menghubungi sang ayah. Dia yakin pasti saat ini ayahnya sedang bersama dengan Mike.


"Hallo, Yah," sapa Nathan saat panggilan itu sudah terhubung. "Apa Mike sedang bersama Ayah?"


"Ada apa kamu mencari Mike?" tanya Johan. Suaranya terdengar begitu datar, membuat Nathan mengerutkan keningnya karena heran.


"Ada sesuatu hal yang mau Nathan tanyakan," sahut Nathan.


"Nat, jagalah Nona Muda dengan baik. Walaupun kamu masih terluka karena perlakuan Nona Muda dulu, tapi jangan sampai kamu melupakan tugasmu. Ayah menjadikanmu sebagai suami Nona Muda agar kamu bisa menjaganya dengan sangat baik!"


"Maksud Ayah?" tanya Nathan belum paham.


"Ingat, Nat. Semua nyawa keluarga Alexander sedang berada dalam bahaya. Kita belum tahu siapa yang berusaha menyelakai keluarga Alexander. Jika Tuan Ardian menjaga Tuan Muda Febian. Ayah dan Mike menjaga yang di sini. Maka kamu harus menjaga Nona Muda Nadira dengan baik! Kamu tentu paham maksud Ayah." Suara Johan terdengar sangat tegas.


"Ya, Nathan tahu. Itulah yang mau Nathan bicarakan dengan Mike dan Ayah. Bisakah Ayah menyuruh dua anak buah Ayah untuk menjaga Nadira? Karena Nathan tidak bisa menjaga selama duapuluh empat jam. Ayah 'kan tahu kalau Nathan sedang sibuk mengambil alih JS Group."


"Tanpa kamu suruh pun Ayah sudah melakukannya. Bahkan tadi, anak buah Ayah melaporkan kalau ada yang hampir menyelakai Nona Muda padahal kamu sedang makan siang bersamanya. Ayah pikir Nona Muda aman bersamamu, makanya Ayah melonggarkan pengawalan, tapi ternyata Ayah salah sudah sepenuhnya percaya padamu, Nat." Suara Johan terdengar begitu kecewa.


"Apa?" pekik Nathan tak percaya. Pantas saja suara ayahnya begitu emosi.


"Kamu sudah membuat Ayah kecewa dengan keteledoranmu, Nat."


"Maafkan Nathan, Yah." Suara Nathan mulai melirih dan terdengar penuh sesal. "Apa anak buah Ayah bisa menangkap orang itu?"


"Tidak! Dia bisa melarikan diri dengan sangat cepat. Sepertinya orang yang akan mengintai nyawa keluarga Alexander bukanlah dari kalangan biasa."


Johan terdiam, dia memiliki satu nama yang kemungkinan besar dalang di balik semua ini. Namun, Johan tidak mau mengambil kesimpulan begitu saja. Dia harus mencari bukti untuk memastikan kalau prasangkanya benar.


Setelah memberi beberapa nasihat, Johan lalu mematikan panggilan itu. Nathan meremas ponselnya dengan kuat. Rahangnya terlihat mengeras dengan gigi yang bergemurutuk. Lelaki itu merutuki kebodohannya sendiri, bagaimana bisa dirinya kecolongan dan seteledor itu. Pantas saja sehabis dari kamar mandi, suara Nadira terdengar begitu parau seperti habis menangis. Nathan beranjak bangun dan bergegas mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Nadira melihat jam di pergelangan tangan. Jam kerja masih kurang satu jam, tapi Nadira rasanya sudah ingin segera pulang ke apartemen. Bayangan pria di toilet tadi masih saja membayanginya. Dia sangat penasaran, sebenarnya siapa lelaki itu. Kenapa pria itu menyuruh dirinya untuk menjauhi Nathan? Bahkan lelaki itu mengancam akan menghabisi seluruh nyawa keluarga Alexander.


"El! Elvina!" panggil Rendra setengah berteriak.


"I-iya, Tuan." Nadira tergagap. Dia melihat Rendra yang sedang menatap ke arahnya.


"Kenapa melamun? Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Rendra menyelidik. Nadira menggeleng lemah.


"Tidak, Tuan." Nadira mengelak, tapi Rendra bisa melihat gelagat aneh dari gadis itu.


"Jangan berbohong, El. Setiap manusia pasti memiliki masalah. Tidak ada salahnya kamu sedikit bercerita dengan orang lain supaya beban hidupmu sedikit berkurang." Rendra berusaha mencari tahu.


"Saya hanya sedang kepikiran mommy dan daddy. Berharap keajaiban akan segera datang kepada mereka." Nadira menunduk sedih. Rendra beranjak bangun lalu berjalan mendekati gadis itu.


"Kamu yang sabar ya, aku yakin mommy dan daddy kamu akan segera sadar dan sehat seperti sedia kala." Rendra mengusap bahu Nadira dengan lembut untuk menenangkannya, tapi Nadira langsung menyingkirkan tangan Rendra karena merasa tidak nyaman.


"Maafkan aku, El." Rendra merasa tidak hati. Nadira hanya menanggapi dengan tersenyum tipis. Rendra kembali menyuruh Nadira menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan dirinya kembali berjalan ke mejanya.


_____________________________________________


Wah, Othor kesiangan πŸ˜…πŸ˜…


Dukungannya masih terus di tunggu gaees πŸ™ŠπŸ™Š


Nih, Othor bawa satu judul lagi punya sahabat Othor


Jangan lupa mampir ya gaes