Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
136


"Mas, kenapa kamu setega ini?" Cacha tidak menyangka, suaranya terdengar sekali kalau gadis itu sedang menahan tangis.


"Maafkan aku, Cha. Aku khilaf." Rendra bersimpuh di depan Cacha, tapi gadis itu langsung memalingkan wajahnya.


"Pergilah, Mas. Aku menolak lamaranmu." Cacha bicara dengan berat.


"Cha, aku mohon beri aku kesempatan. Aku kemarin benar-benar tidak sadar. Itu hanya sebatas ciuman, percayalah aku tidak pernah melakukan lebih dari itu dan itu pertama kalinya bagiku." Rendra berusaha menjelaskan, dia menggenggam tangan Cacha dengan erat.


"Mas, terima kasih sudah berniat baik datang melamarku ke sini, tapi maaf. Aku menolaknya. Kita tidak mungkin berjodoh. Aku tahu hatimu bukan untukku, Mas." Air mata Cacha tak bisa di tahan lagi.


"Cha, aku akan belajar mencintai—"


"Aku meragunkanmu, Mas! Hatimu sudah memilih Nadira, sedangkan ragamu sudah bertindak sejauh itu dengan Anisa padahal jelas-jelas kamu akan melamarku. Aku kecewa." Cacha melepaskan genggaman tangan Rendra secara paksa.


Sementara lelaki itu hanya terdiam. Tidak tahu harus merespon yang bagaimana, karena semua yang diucapkan Cacha, benar adanya.


"Aku mohon beri aku kesempatan, Cha. Aku sedang belajar melupakan perasaanku untuk El, dan aku semalam benar-benar khilaf." Rendra masih terus berusaha menjelaskan.


"Mas Rendra?"


Suara dari arah pintu berhasil mengejutkan mereka. Bahkan Rendra terasa membeku, darahnya terasa berdesir saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Suara wanita yang sangat dia rindukan.


Rendra segera berbalik dan menatap Nadira yang sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya. Tanpa banyak bicara, Rendra berjalan cepat dan menarik tubuh Nadira masuk dalam dekapannya.


Tentu saja mereka semua begitu terkejut melihatnya. Bahkan air mata Cacha semakin deras saat melihat pemandangan itu.


"Aku merindukanmu, El." Rendra semakin mengeratkan pelukannya, sedangkan Nadira masih saja terdiam karena gerakan Rendra yang tiba-tiba.


"Lepaskan istriku, Bangs*t!" Nathan melepas pelukan itu secara paksa lalu mendaratkan sebuah pukulan di wajah Rendra hingga membuat sudut lelaki itu berdarah.


"Kak Nathan! Kamu yang benar saja!" bentak Nadira. Dia membantu Rendra berdiri. Kemarahan Nathan justru semakin menjadi-jadi setelah melihat apa yang dilakukan istirnya.


"Kamu membela dia?" tanya Nathan sedikit membentak.


"Tidak! Aku tidak suka dengan cara Kak Nathan yang bermain kekerasan seperti ini!" balas Nadira, suaranya tak kalah tinggi.


"Sudahlah, El. Aku yang salah, bukan suamimu." Rendra berusaha meredam emosi Nadira.


"Nat, maaf. Aku sudah bertindak kurang ajar, tapi aku benar-benar sangat merindukan El." Ucapan Rendra bukannya membuat emosi Nathan mereda, tapi justru semakin menjadi-jadi. Nathan tidak menyahut, hanya rahang lelaki itu yang masih terlihat mengeras.


"Biar aku obati lukamu, Mas," tawar Nadira, tapi Rendra langsung menolak.


"Tuan Johan, saya sangat meminta maaf atas kekurang-ajaran putra saya." Bastian sedikit membungkuk hormat, lelaki paruh baya itu pun sangat kecewa dan marah dengan putranya yang sudah membuatnya malu.


"Tidak apa, Tuan." Johan bicara tenang, tapi dalam hati lelaki itu tersenyum puas.


"Kalau begitu saya pamit, Tuan. Saya akan memberi pelajaran untuk putra saya," tutur Bastian. Dia menatap penuh kecewa ke arah putranya yang menunduk dengan memegang sudut bibirnya.


Tepat ketika Rendra dan keluarganya keluar rumah, Rayhan dan Queen masuk. Mereka begitu heran karena suasana di rumahnya terasa tegang, padahal katanya sedang ada acara lamaran.


"Kenapa suasananya kaya gini, Yah?" tanya Rayhan bingung.


"Bagaimana keadaan putra putri tuan muda?" Johan justru melontarkan pertanyaan.


"Sehat semua, Yah. Mereka hanya selisih lima menit," sahut Queen antusias.


"Syukurlah. Mil, besok pagi kita harus menjenguk mereka." Raut wajah Johan terlihat sekali kalau lelaki itu sedang sangat bahagia saat ini.


"Yah, Bun. Cacha pamit ke kamar dulu." Cacha pergi begitu saja, bahkan dia sama sekali tidak berpamitan dengan Nadira.


"Nathan juga sudah lelah. Belum istirahat." Nathan pergi begitu saja. Bahkan tanpa peduli pada istrinya yang sudah terlihat begitu sendu.


"Nat! Jangan lupakan istrimu!" teriakan Johan berhasil menghentikan langkah Nathan yang hendak menaiki tangga.


Nathan berbalik dan berjalan kembali mendekati mereka. "Nathan sampai lupa kalau udah punya istri." Ucapan Nathan lebih ke sebuah sindiran, membuat hati Nadira terasa mencelos sakit.


Bahkan, Nadira hanya diam saat Nathan membopongnya ala bridal style menuju ke kamar. Selepas kepergian mereka, Rayhan meminta penjelasan kepada Johan.


Johan pun menceritakan semuanya, sedangkan Mila hanya diam. Perasaan wanita itu pun sedang tidak nyaman saat ini. Dia tidak menyangka kalau semua akan menjadi seperti ini.


***


Nathan sama sekali tidak membuka suara, dia merebahkan tubuh istrinya di atas kasur, lalu pergi begitu saja menuju ke kamar mandi. Nadira menatap nanar ke arah punggung suaminya yang perlahan menjauh.


Tanpa sadar, air mata Nadira menetes. Dia tahu, suaminya saat ini sedang marah padanya karena dia tadi sudah membela Rendra. Namun, Nadira tidak suka dengan cara Nathan yang menggunakan kekerasan.


Hampir lima belas menit berlalu, Nathan keluar kamar mandi dengan tubuh yang sudah begitu segar. Lelaki itu berjalan mencari piyama tidur. Setelah memakai, dia langsung merebahkan tubuhnya membelakangi Nadira. Nathan masih saja bungkam.


"Maafkan aku, Mas. Aku sudah sangat salah. Aku sudah sangat melukaimu." Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, Nadira membuka suara. Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Nathan tetap saja diam, lelaki itu justru memejamkan matanya.


Nadira tahu, hal yang harus dia lakukan saat suaminya marah adalah diam. Nadira pun ikut berbalik, dan kini mereka tidur saling membelakangi.


"Kita butuh waktu untuk saling merenungi semuanya, Mas. Aku minta maaf dan selamat tidur." Suara Nadira terdengar begitu berat karena menahan tangis, tangannya meremas selimut dengan kuat saat merasakan hatinya begitu sakit.


Nadira berusaha memejamkan mata, tapi dia sama sekali tidak bisa tertidur. Wanita itu akhirnya bangkit berdiri. Dia ingin berendam air hangat untuk menyegarkan tubuhnya yang sangat lengket.


Nadira bergegas menuju ke kamar mandi, mengisi bathup dengan air hangat. Setelah membuka seluruh pakaiannya, Nadira segera berendam di dalam bathup, tubuhnya terasa rileks saat air hangat menyentuh kulitnya.


Bukankah dulu hubungan kita pernah sedingin ini? Bahkan lebih dingin, tapi kenapa sekarang aku merasa sangat sakit? Melihat Kak Nathan yang bersikap sedingin itu padaku.


Air mata Nadira menetes dari kedua sudut matanya, dia sama sekali tidak ingin mengusapnya, membiarkannya terjatuh dan bercampur dengan air yang berada di dalam bathup. Nadira hanya ingin hatinya sedikit lega.