Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
221


"Biarkan aku mati!" pekik Fey.


"Tidak akan! Kalau sampai Anda terluka, yang ada nyawa saya akan melayang," sahut lelaki itu tegas.


"Masa bodoh!" Fey menggeram kesal, tetapi lelaki itu tetap bersikap tenang.


"Lebih baik Anda istirahat, Nona. Mungkin nanti malam atau bahkan besok pagi Tuan Yosie baru akan ke sini," ucap lelaki itu lembut. Fey tidak menjawab, dia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia tidak peduli apakah ayahnya akan datang atau tidak.


Anak buah Yosie itu pun menyuruh petugas kebersihan yang baru datang untuk segera membersihkan pecahan itu, sedangkan dia berdiri tidak jauh dari brankar untuk menjaga anak majikannya.


***


Cacha mengerjapkan mata, dia melihat cahaya matahari mulai mengintip dari sela tirai. Bola matanya mencari keberadaan suaminya yang saat ini sudah tidak berada di sampingnya lagi. Baru saja hendak meregangkan otot yang terasa begitu kaku, terdengar suara pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk bersama anak buah Mike di belakangnya.


"Selamat pagi, Nona Muda. Ini sarapan Anda." Wanita itu menaruh piring di meja lalu berpamitan pergi.


"Silakan dimakan sarapan Anda, Nona. Nanti keburu dingin," suruh anak buah Mike dengan sopan.


"Ke mana Mike?" tanya Cacha.


"Tuan sedang ada urusan penting, mungkin sebentar lagi akan kembali."


"Aku makan nanti saja, tunggu Mike kembali," tolak Cacha. Dia kembali memejamkan mata, sedangkan anak buah Mike hanya berdiri tidak jauh dari brankar. Baru saja Cacha memejamkan mata, terdengar pintu ruangan terbuka dan suara yang tidak asing masuk ke dalam gendang telinga.


"Bunda!" teriak Cacha saat melihat berjalan terburu mendekatinya.


"Bagaimana kabarmu, Cha?" tanya Mila. Dia mendaratkan ciuman di kening Cacha penuh dengan sayang.


"Baik, Bun, tapi ...."


"Bunda sudah tahu, Mike sudah menceritakan semuanya. Bunda lega kalau kamu baik-baik saj. Soal anak, bunda yakin kalian akan segera mendapatkan lagi." Mila mengusap puncak kepala Cacha dengan lembut.


"Bunda ke sini sama siapa?" tanya Cacha.


"Tuh!" Mila menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Rayhan dan Nathan masuk ke ruangan bersama-sama. Wajah Cacha terlihat begitu sumringah saat melihat kedua kakak laki-lakinya masuk dan bergantian mencium pipinya.


"Ayah tidak ikut?" tanya Cacha karena tidak melihat tanda-tanda ayahnya akan datang.


"Ayah sedang ada urusan dengan Mike. Mungkin sebentar lagi akan menyusul." Mila membantu Cacha yang hendak duduk.


"Urusan apa sih, Bun?" tanya Cacha penasaran.


"Ya, pokoknya ada." Mila tidak menjawab yang sebenarnya kalau Johan dan Mike saat ini sedang menemui Fey dan Yosie.


"Nadira dan Kak Queen tidak ikut?" tanya Cacha lagi.


"Tidak! Repot kalau sampai Nadira ikut." Nathan menjawab lesu.


"Kenapa?" Kening Cacha terlihat mengerut.


"Dia itu selalu minta tempe. Kalau dia ikut dan di sini minta tempe, yang ada aku yang kelimpungan nyarinya," sahut Nathan. Cacha tergelak saat mendengarnya, sedangkan Rayham menepuk punggung Nathan untuk menyabarkan lelaki itu. Akhirnya, mereka pun saling berbagi obrolan.


***


Johan dan Mike masuk ke ruangan Fey dengan langkah yang sangat tegas, dan raut wajah yang begitu datar. Tubuh Fey menegang saat melihat dua lelaki yang terlihat begitu menakutkan baginya. Apalagi saat ini, Yosie belum juga kembali.


"Tuan," sapa Fey gugup.


"Apa kabar, Nona?" tanya Johan. Bibir lelaki paruh baya itu tersenyum sinis membuat tubuh Fey semakin meringsut takut.


"Ba-baik, Tuan." Fey merem*s selimut yang menutup tubuhnya.


"Ayo, Yah, kita kembali ke ruangan Cacha," ajak Mike.


"Kalau begitu aku permisi, Nona. Saya harus menemui putriku." Johan berjalan pergi begitu saja, Mike pun mengekor di belakang. Sementara anak buah Yosie hanya bergeming di tempatnya. Mereka merasa sedikit takut karena anak buah Mike berada di segala sisi.


Selepas kepergian mereka berdua, Yosie masuk dengan sangat terburu. Dia begitu khawatir dengan Fey setelah anak buahnya memberi kanar kalau Johan dan Mike masuk ke ruangan itu.


"Kamu baik-baik saja, Fey?" tanya Yosie khawatir.


"Pap dari mana?" tanya Fey penuh selidik. Dia menepis tangan Yosie yang hendak memegang wajahnya dengan kasar.


"Maafkan papa, Fey. Papa ada urusan yang sangat penting." Yosie berusaha memberi pengertian, tetapi Fey justru berdecih dan memalingkan wajahnya.


"Urusan apa? Bilang saja Papa cari wanita murahan itu!" bentak Fey.


"Dia bukan wanita murahan! Dia calon mama kamu!" Yosie tak kalah keras.


"Calon mama? Aku tidak sudi punya calon mama seperti dia!" timpal Fey. Raut wajahnya penuh dengan amarah.


"Suka tidak suka, dia tetap akan menjadi mama tiri kamu karena dia sedang mengandung adik kamu! Ingat, Fey. Clara sedang hamil anak laki-laki yang akan menjadi pemimpin perusahaan Anderson!" tegas Yosie, tetapi Fey justru menggeleng dengan cepat.


"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Pa! Setelah kejadian ini aku baru sadar kalau kita sudah kalah, Pa. Mereka tidak selemah yang kita kira!" seru Fey.


"Kita pasti bisa mengalahkan mereka dan bisa mengambil alih kekayaan Anderson." Yosie berbicara dengan sangat yakin.


"Tidak, Pa. Lebih baik kita pergi dari sini sebelum kita benar-benar hancur," ucap Fey dengan begitu memohon.


"Apa Mike dan mertuanya berbicara yang tidak-tidak padamu?" tanya Yosie menyelidik.


Fey menggeleng cepat. "Tidak, Pa. Tapi dari tatapan Tuan Johan, aku melihat kalau dia akan menghancurkan kita. Tuan Johan sangat sayang kepada Cacha, Pa."


"Kalau kamu mau pergi, pergilah sendiri! Papa tidak akan pernah melarangmu!" hardik Yosie.


"Kalau begitu aku akan pergi jauh," ucap Fey tegas.


"Pergilah! Papa menyesal sudah membesarkan anak tidak berguna sepertimu!" bentak Yosie. Wajahnya merah padam dipenuhi amarah. Fey menunduk, merem*s dadanya yang terasa sangat sakit.


Yosie pergi begitu saja, bahkan tanpa sepatah kata pun. Fey pun hanya menatap nanar kepergian sang papa. Dia tidak menyangka kalau papanya akan setega itu padanya. Anak buah Yosie yang setia menemani Fey pun, akhirnya memberanikan diri mendekati nona mudanya.


"Nona," panggilnya sopan.


"Maukah kamu membawaku pergi jauh dari sini? Aku ingin memperbaiki diriku sendiri," pinta Fey lirih. Wajah lelaki itu tampak begitu ragu.


"Apa Anda tidak takut dengan Tuan Yosie, Nona?" tanya lelaki itu.


"Tidak! Kalaupun papa akan membunuhku maka biarkan saja. Aku mau pergi aja." Fey berkata dengan sangat yakin.


"Kalau begitu, marilah ikut saya, Nona. Karena jujur, saya sudah tidak tahan dengan papa Anda yang sangat ambisius. Saya akan membawa Anda ke tempat yang sangat aman." Lelaki itu berbicara dengan sangat lembut. Tatapan Fey padanya begitu menelisik. Dia ragu, tetapi dia tidak punya pilihan lain lagi.


"Maukah kamu mengantarku ke tempat Cacha dan Mike untuk meminta maaf?"


💦💦💦


Enggak ada gitu yang nungguin drama Lele terbang dari Othor Kalem ini.


Padahal Othor pengen nyanyi


Ku menangiss......


Wkwkw selamat sore gaes