
Cacha masih terlelap karena jam empat pagi dirinya baru bisa tidur. Semalaman dia menangis, dan sangat ingin melihat wajah suaminya, tetapi nomor Mike tidak bisa dihubungi sama sekali. Cacha pun mulai curiga, mungkinkah Mike sedang bersama dengan Fey. Namun, sekeras mungkin dia berusaha menyingkirkan pikiran jelek tersebut.
Ketika Cacha masih sangat terlelap, Mike yang baru saja sampai rumah, langsung bergegas ke kamar. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera memeluk istri kecilnya. Dengan perlahan Mike membuka pintu kamar, takut membangunkan istrinya yang mungkin masih tertidur. Setelah pintu kamar terbuka lebar, Mike melangkah lebar mendekati tempat tidur. Bibirnya tersenyum tatkala melihat wajah teduh Cacha yang masih terlelap dalam tidur.
"Rasanya aku sangat merindukanmu." Mike mencium kening Cacha dengan sangat lama untuk menyalurkan segala rasa rindunya. Setelah itu, dia merebahkan tubuhnya di samping Cacha. Matanya terpejam dengan tangan memeluk istrinya dengan erat. Mike pun berusaha ikut tidur karena jujur, dia masih sangat mengantuk.
Kedua mata Cacha mengerjap dengan cepat, dia merasa heran saat merasakan tubuhnya berada dalam pelukan seseorang. Setelah kedua matanya terbuka sempurna, dia begitu terkejut saat melihat wajah suaminya tepat berada di depan mata.
"Mi-Mike, apa aku mimpi?" Cacha berusaha menyingkirkan tangan Mike, merasa ada gerakan, lelaki itu justru terbangun. Tatapan mereka pun akhirnya bertemu.
"Kamu sudah bangun?" tanya Mike lembut. Bibir lelaki itu tersenyum lebar melihat istrinya yang masih belum percaya.
"Ini benar-benar kamu, Mike? Atau aku hanya bermimpi karena sangat merindukanmu." Cacha hendak menggigit tangannya untuk memastikan semua bukanlah mimpi. Namun, belum juga tangan Cacha sampai di mulut, Mike sudah menaruh tangannya sendiri di mulut Cacha. Dia sedikit meringis saat gigi Cacha berhasil menancap di telapak tangannya.
"Maaf, Mike." Cacha merasa tidak enak hati.
"Kenapa minta maaf? Ini tidak sakit hanya sedikit nyeri seperti digigit kucing," goda Mike. Cacha memukul dada bidang suaminya dengan keras untuk meluapkan kekesalannya.
"Kamu jahat sekali, Mike! Kamu jahat! Jahat!" Cacha terus saja memukul dada bidang Mike, dan lelaki itu hanya diam, membiarkan apa yang dilakukan istrinya. Setelah puas memukuli suaminya, Cacha beralih memeluk Mike dengan erat dan terisak keras. "Aku sangat merindukanmu, Mike."
"Aku juga merindukanmu." Mike membalas pelukan Cacha tak kalah erat. Bahkan seolah tidak ingin melepaskan.
"Jangan jauh-jauh dariku lagi," rengek Cacha. Mike tersenyum simpul. Dia merasa begitu bahagia saat Cacha bermanja dengannya seperti ini.
Cacha melerai pelukannya dan menatap lekat mata Mike untuk memastikan. Sementara Mike tersenyum lebar saat melihat wajah Cacha yang sudah penuh jejak air mata dan hidung memerah.
"Kamu tidak berbohong?" tanya Cacha.
"Tentu saja tidak. Aku bahkan sudah bilang ayah tadi. Oh, iya, kamu tidak ke kantor?" tanya Mike saat melihat jam dinding sudah menunjuk angka tujuh.
"Aku malas sekali, Mike. Aku mau di rumah saja. Biar saja sekarang ayah yang ke kantor dulu." Cacha membenamkan kepala di dada Mike dengan tangan melingkar di perut lelaki itu.
"Jangan pemalas, Ibu Presdir. Lebih baik sekarang kita mandi dan bersiap ke kantor, aku akan menemanimu."
"Mike, aku benar-benar malas." Cacha masih menolak. Dia ingin seharian ini melepas rasa rindu dengan suaminya.
"Aku akan mengenalkanmu pada seseorang," ucap Mike. Kening Cacha terlihat mengerut.
"Siapa?" tanya Cacha penasaran.
"Ada. Dia saudaraku, namanya Nona Fey."
"F-Fey? Kamu membawa pulang wanita ke sini?" Cacha bersungut-sungut. Dia bahkan melepaskan pelukannya secara paksa.