Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
212


Pesawat Nasional mengudara dari Bandung menuju ke Singapura. Selama dalam penerbangan, Cacha hanya diam dengan menatap keluar jendela. Mike yang duduk di samping Cacha pun, segera menarik tubuh wanita itu masuk dalam rangkulannya.


"Apa kamu sedih harus meninggalkan Indonesia? Kita di sana hanya sementara," ucap Mike pelan.


Cacha menggeleng lemah. "Aku kepikiran bunda. Entah kenapa aku merasa bunda sangat berat ngelepas aku, Mike."


"Aku tahu bunda pasti khawatir karena kamu belum pernah keluar negeri tanpa beliau. Percayalah semua akan baik-baik saja." Mike mendaratkan ciuman di puncak kepala wanita itu. Kemudian, dia mengusap rambut Cacha dengan perlahan supaya tertidur.


Rencananya, mereka akan ke luar negeri minggu depan, tetapi Richard dan Elie terus saja meminta mereka untuk datang ke sana secepatnya. Mereka sudah tidak sabar ingin segera bertemu cucu menantu. Kepergian mereka ke Singapura tidak hanya berdua, Fey juga ikut bersama mereka, tetapi Mike dan Cacha bersikap tak acuh pada wanita itu.


Setelah hampir dua jam mengudara, pesawat itu akhirnya mendarat di Changi Airport. Sesampainya di bandara, mereka bertiga sudah dijemput oleh pengawal dari keluarga Anderson. Jarak tempuh dari bandara menuju ke mansion Anderson hampir memakan waktu selama satu jam.


Cacha tercengang saat melihat betapa megah dan luasnya mansion milik keluarga Anderson, bahkan lebih besar daripada mansion milik keluarga Alexander. Baru saja memasuki pintu utama, mereka sudah langsung disambut oleh Richard dan Elie yang sudah sangat tidak sabar.


"Selamat datang, Cucu Menantu," sambut Elie dengan wajah berbinar bahagia. Cacha menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman, tak lupa dia mencium punggung tangan kedua orang tua itu.


"Salam kenal, Kek, Nek, nama saya Cacha." Senyum Cacha tidak sedikit pun surut.


"Aku tidak menyangka kalau Mike memiliki istri yang sangat cantik dan sopan. Mari masuk." Richard berjalan terlebih dahulu disusul yang lain. Fey pun ikut bergabung dengan mereka karena Yosie sedang dalam perjalanan menuju ke mansion.


"Mike, bolehkah aku minta susu hangat. Perutku mual, sepertinya aku jet lag," bisik Cacha saat mereka baru saja duduk.


"Baiklah, tunggu sebentar, biar aku buatkan untukmu." Mike bangkit berdiri, tetapi Cacha juga ikut berdiri, mengurungkan gerakan Mike yang hendak melangkah pergi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Mike heran.


"Tunggu sini saja, aku khawatir kamu akan semakin pusing," cegah Mike, tetapi Cacha tetap bersikukuh untuk ikut. Akhirnya, Mike pun mengalah, dan membopong Cacha menuju ke dapur.


Richard dan Elie tersenyum saat melihat kemesraan mereka, tetapi tidak dengan Fey. Wanita itu mengepalkan tangannya erat, dan berusaha menahan emosi.


"Lihatlah, Om, Tante. Mana ada suami yang melayani istri. Aku heran, selama tinggal di Indonesia, aku lihat Mike selalu melayani Cacha seperti seorang pembantu. Mike itu tidak cocok dengan gadis manja seperti dia," ucap Fey berusaha memanasi.


Richard dan Elie mengalihkan pandangan ke arah keponakannya. Tatapan Elie terlihat begitu menyelidik. "Benarkah?" tanya Elie tak percaya.


Fey mengangguk dengan cepat. "Aku sering lihat, bahkan menggoreng telur saja, Mike yang melakukannya."


"Ternyata Mike sangat mencintai Cacha," ucap Richard, membuat kedua bola mata Fey membola sempurna. Dia pikir, dua lansia itu akan terbakar emosi, tetapi dugaannya ternyata salah.


"Om, Tante, memangnya kalian rela cucu kalian, calon pewaris tunggal Anderson Group, menjadi pembantu istrinya sendiri? Seharusnya wanita dewasa dan berpengalaman mengurus rumah tangga yang pantas bersanding dengannya." Fey masih bersikukuh.


"Menurutmu wanita seperti apa yang pantas bersanding dengan Mike?" tanya Richard penuh penekanan.


"Yang dewasa, cantik, bisa mengurus suami dan pekerjaan rumah dengan baik," sahut Fey puas.


"Kalau begitu bukan kamu karena kamu saja gagal berkali-kali dalam membina rumah tangga," sarkas Richard disertai seringai tipis.


Tangan Fey semakin terkepal erat, dia tidak menyangka kalau Richard akan berbicara seperti itu. Di saat suasana sedang tegang, Yosie masuk dan duduk di samping putrinya. Lelaki itu merasa heran melihat raut wajah Fey yang terlihat begitu kesal.