
"Bisakah kamu berteriak dengan pelan, Cha?" sewot Nadira. Dirinya benar-benar malu saat ini meskipun hanya Cacha yang melihatnya.
"Kalau pelan namanya bisik-bisik, Nad!" timpal Cacha tak kalah sewot. "Lihatlah, Nad. Bulu halusku merinding."
"Kenapa merinding?" tanya Nadira heran.
"Aku ngebayangin seberapa kuatnya Kak Nathan waktu ngisap leher kamu, kok sampai bekasnya kaya gitu."
"Astaga, Cacha Maricha Hehey!" Nadira dengan gemas menonyor kepala Cacha hingga gadis itu merintih kesakitan. "Jangan ketularan mesum! Ngadepin Kak Nathan sama bunda aja aku udah elus dada."
"Yee, sabar-sabarin aja, Nad. Seperti ayah yang masih aja sabar sampai sekarang." Cacha terkekeh geli, teringat wajah kesal sang ayah jika sedang menghadapi Mila dan Nathan sedang mengobrol hal-hal absurd.
"Eh, Cha. Besok kamu 'kan mau lamaran. Emang kamu mau lamaran sama siapa, sih?" tanya Nadira penasaran.
Cacha terdiam, dia merasa ragu untuk bicara jujur dengan Nadira. Dia yakin, pasti Nadira akan terkejut kalau tahu yang akan melamarnya adalah Rendra.
"Ditanya kenapa melamun, sih!" Nadira kembali menonyor kepala Cacha. Berusaha menyadarkan gadis itu.
"Lama-lama aku amnesia deket sama kamu, Nad!" Cacha mendengkus kasar, mengusap kembali bekas tonyoran tangan Nadira di kepalanya.
"Cha! Siapa pria itu, Kok aku penasaran banget!" Nadira kembali mengalungkan syal di lehernya.
"Ngapain dipakai lagi sih, Nad! Ya, pokoknya ada. Buat kejutan dong." Alis Cacha terlihat naik turun menggoda Nadira.
"Aku kenal?" tanya Nadira lagi, masih dengan penasaran.
"Udahlah, lihat besok aja." Nadira hanya menghembuskan napas kasar mendengar ucapan Cacha. Mereka berdua pun akhirnya saling mengobrol dan berbagi cerita sampai berlarut-larut. Bahkan Nadira sampai melupakan suaminya.
***
Rendra saat ini sedang duduk bersama kedua orang tuanya di ruang keluarga. Sedari tadi mereka membicarakan banyak hal termasuk persiapan lamaran untuk Cacha.
Bastian menatap putranya lekat, entah mengapa dia merasa kalau Rendra belum yakin seratus persen untuk melamar bahkan menikahi Cacha. Namun, karena putranya sudah meminta maka Bastian pun hanya bisa mengiyakan.
"Besok jam berapa, Ren?" tanya Nirmala dengan lembut.
"Sore aja dari sini, Bu. Biar enggak terlalu malam sampai sana," sahut Rendra. Dia mengambil ponselnya dan melihat satu pesan masuk dari Anisa. Bibir Rendra tersenyum simpul setelah membaca isi pesan itu, membuat kedua orang tuanya mengerutkan kening.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Nirmala saat tak bisa lagi menahan rasa penasaran.
"Enggak papa, Bu. Katanya Anisa mau ke sini bawa rendang jengkol kesukaan Ibu." Rendra menjawab tanpa menoleh, karena dia sedang sibuk membalas pesan itu.
"Wah, enak sekali." Wajah Nirmala terlihat begitu semringah.
"Kamu sekarang deket sama Anisa?" tanya Bastian menyelidik.
"Ya deket lah, Yah. 'Kan Anisa sekertaris pribadi Rendra." Rendra bicara dengan begitu santai. Dia kembali menaruh ponselnya karena telah selesai.
"Maksud ayah itu dalam hubungan selain sebagai atasan dan bawahan." Bastian meralat ucapannya. Rendra yang melihat sang ayah menatap lekat ke arahnya, hanya menghembuskan napas panjang.
Rendra menoleh ke arah Bastian dan menatapnya lekat. "Tidak! Rendra tetap akan melamar Cacha." Rendra bicara dengan tegas.
"Kalau kamu memang serius ingin menjalin hubungan dengan Cacha. Jangan pernah memberi harapan atau terlalu dekat dengan gadis lain. Karena kamu akan melukai hati banyak orang," nasihat Bastian.
"Baik, Yah." Rendra hanya mengiyakan, karena dia tidak mau berdebat dengan orang tuanya.
Akhirnya, Nirmala mengajak mereka untuk mengobrol hal lain agar suami dan putranya tidak saling beradu argumen.
Setelah hampir lima belas menit, obrolan mereka terhenti saat Anisa masuk ke rumah dengan menenteng rantang di tangan kanannya.
Anisa tersenyum simpul saat sudah berada di depan orang tua Rendra. Lagi-lagi, Rendra terdiam melihat senyuman manis yang terukir indah di kedua sudut bibir Anisa.
"Ehem!" Bastian berdeham, dan membuat Rendra tergagap.
"Silakan duduk, Nis." Nirmala sedikit bergeser dan menyuruh gadis itu duduk di dekatnya. Namun, Anisa justru terpaku di tempatnya.
"Terima kasih banyak, Nyonya." Anisa hendak menolak, tapi melihat sorot Nirmala begitu memohon, mau tidak mau, Anisa duduk di samping wanita paruh baya itu.
"Kamu bawa apa?" tanya Nirmala berpura-pura belum tahu.
"Rendang jengkol, Nyonya." Anisa menjawab sopan.
"Wah, kalau begitu sekarang kita ke ruang makan aja." Nirmala beranjak bangkit lalu dia pergi ke ruang makan dengan menggandeng Anisa.
Anisa pun hanya diam menurut, dia tidak berani menolak sama sekali, karena orang tua Rendra adalah majikan ayahnya di Bogor.
Sesampainya di ruang makan, dengan cekatan Anisa mengambil peralatan makan untuk Nirmala. Gadis itu menaruh nasi dan rendang jengkol di atas piring, lalu memberikan pada Nirmala.
Dengan antusias Nirmala menerima itu, lalu makan menggunakan tangan yang telah bersih. Nirmala terlihat makan dengan begitu lahap. Bahkan dia sampai lupa menawari Bastian dan Rendra yang masih duduk mengobrol di ruang keluarga.
"Masakan kamu benar-benar enak, Nis. Coba saja Rendra jadi suamimu, sudah pasti dia tidak akan pernah makan di luar," puji Nirmala di tengah kunyahannya.
Bibir Anisa tersenyum simpul, dengan pipi yang terlihat merah merona. "Terima kasih, Nyonya. Sayangnya saya dan Mas Rendra tidak berjodoh." Suara Anisa terdengar begitu berat.
"Tidak apa, Nis. Aku yakin kamu akan mendapat jodoh yang terbaik. Jodoh manusia itu tidak akan pernah tertukar dengan orang lain, dan setiap tulang rusuk pasti akan kembali pada pemiliknya," ucap Nirmala dengan lembut. Anisa hanya mengangguk mengiyakan.
"Besok sore kita akan ke Jakarta, apa kamu sudah tahu?" tanya Nirmala. Anisa menggeleng cepat. "Jadi gini, besok kita akan ke Jakarta untuk bertemu keluarga Saputra karena Rendra akan melamar Nona Cacha."
"Apa?" Kedua mata Anisa terlihat melebar sempurna. "Ma-Mas Rendra mau melamar Nona Cacha?" tanya Anisa memastikan pendengarannya tidaklah salah. Nirmala mengangguk sebagai jawaban.
Wajah Anisa mendadak pias. Senyum di bibir gadis itu memudar seketika. Dia merasakan ada rasa sakit yang mengalir seiring aliran darahnya. Sebelumnya, Anisa masih sangat berharap Rendra akan jatuh cinta padanya meski lelaki itu sudah menolak perjodohan mereka. Karena dia bisa merasakan kalau hubungan Rendra dan Cacha yang katanya pacaran, tidak ada cinta di antara keduanya.
Namun, kini dirinya mendengar secara langsung kalau besok Rendra akan melamar Cacha, seolah mematahkan harapan dan hatinya begitu saja. Anisa menghirup napas dalam, lalu menghembuskan secara perlahan untuk mengurangi sedikit beban yang terasa menghimpitnya.
Mungkin kamu memang benar-benar bukan jodohku, Mas.