
Dua Minggu berlalu
Setelah acara Aqiqah Baby B, Febian kembali ke Bandung karena dia sudah terlalu lama meninggalkan perusahaannya. Hati Febian terasa begitu hancur karena sudah selama ini, tetapi Jasmin tidak pernah menghubunginya sama sekali meski hanya sebuah pesan singkat.
"Mungkin kamu memang bukan jodohku, Jas." Febian menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak begitu sendu dengan kantung mata yang terlihat jelas karena akhir-akhir ini, dia susah sekali tertidur lelap.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Febian mengambil jaket yang tergantung tidak jauh lalu bersiap berangkat ke klub malam. Dia ingin mencari hiburan supaya otaknya tidak terus-menerus kepikiran Jasmin. Setelah siap, Febian segera keluar dan pergi menggunakan motor sport miliknya.
Hampir dua puluh menit perjalanan, motor itu berhenti di depan sebuah klub malam. Febian segera masuk dan memesan private room karena dirinya tidak mau diganggu siapa pun. Setengah jam berada di sana, Febian sudah menghabiskan setengah botol minuman beralkohol. Namun, Febian sebisa mungkin tidak sampai mabuk.
"Kamu benar-benar membuatku gila, Jas!" Febian menaruh gelasnya dengan sedikit kasar.
Tiba-tiba Febian merasakan ponselnya bergetar dan dengan segera dia menarik keluar ponsel itu dari saku celananya. Jantung Febian berdebar kencang saat melihat nama Jasmin tertera di layar.
"Ha-Hallo, Jas." Suara Febian terdengar begitu gugup. Tidak ada sahutan, yang terdengar hanya tangisan Jasmin yang membuat Febian menjadi tidak karuan.
"Kenapa kamu menangis, Jas?" tanya Febian penuh penekanan.
"Pulanglah, Bi. Aku di apartemen."
Panggilan itu langsung terputus begitu saja. Dengan gerakan cepat, Febian memasukkan ponselnya dan bergegas kembali pulang ke apartemen. Lelaki itu begitu khawatir apalagi saat mendengar isakan Jasmin tadi.
Selama dalam perjalanan, Febian terus saja berusaha berkonsentrasi dengan laju motornya karena rasa pusing yang begitu mendera. Setelah memarkirkan motornya, Febian berlari menuju ke apartemen milik Jasmin.
"Jas!" teriak Febian, dia berjalan mengitari seluruh ruangan di apartemen itu. Langkah Febian terhenti saat melihat Jasmin sedang menangis di tepi tempat tidur.
"Jas, kamu kenapa?" Febian duduk di samping Jasmin dan memegang kedua bahu wanita itu. Namun, gadis itu justru memalingkan wajah dengan masih terus terisak. "Jas?"
"Bi, maafkan aku." Isakan Jasmin semakin terdengar mengeras. Febian pun merasa begitu khawatir. Dia beralih setengah jongkok di depan Jasmin dan menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat.
"Katakan padaku ada apa, Jas?" Febian masih berusaha menormalkan suaranya.
"Maaf, Bi." Hanya kata itu yang terus saja terucap dari bibir Jasmin. Rasa curiga pun mulai menghinggapi hati Febian. Dia yakin ada sesuatu yang telah terjadi kepada mantan kekasihnya.
"Jas, katakan semuanya padaku." Febian berbicara dengan penuh penekanan.
Genggaman tangan Febian terlepas bahkan lelaki itu terduduk begitu saja. Rasanya dia benar-benar tidak percaya setelah mendengar kalimat yang terucap dari bibir gadis yang namanya masih memenuhi ruang hatinya.
"Ke-kenapa?" tanya Febian terbata.
"Maafkan aku, Bi. Sekarang lupakanlah aku. Gadis kotor sepertiku tidak pantas bersanding denganmu." Jasmin mengusap air mata yang terus saja membasahi wajahnya.
"Gadis kotor? Jangan bilang Damian sudah menodaimu, Jas!" tukas Febian dengan suara meninggi. Jasmin tidak menjawab, hanya tangisannya yang terdengar.
"Bajingan!" umpat Febian penuh amarah. Dia bangkit berdiri dan hendak pergi, tetapi Jasmin justru bersimpuh dan memeluk kaki Febian dengan erat.
"Bi, ini bukan salah dia sepenuhnya. Dia dan aku sama-sama dalam keadaan tidak sadar." Mendengar ucapan Jasmin, tangan Febian terkepal erat dengan gigi bergemerutuk.
"Maksud kamu?" Febian masih berusaha menahan emosinya.
"Damian mabuk, ada wanita malam yang mencoba memberi obat perangsang. Aku tidak tahu ternyata akulah yang meminum obat itu dan kita berdua melakukan itu tanpa sadar. Bahkan Damian juga sangat menyesal dan akan menikahiku," terang Jasmin.
Air mata Febian mengalir tanpa sadar. Namun, dengan cepat dia segera mengusapnya. Hati Febian terasa begitu hancur bahkan tak bersisa sama sekali.
"Bi, aku mohon maafkan aku." Jasmin masih memeluk erat kaki Febian.
"Jas, terima kasih atas semua luka yang kamu berikan. Kita memang tidak berjodoh. Dulu, aku tidak merusakmu dan kamu marah bahkan menolak lamaranku, tetapi sekarang justru kamu dinodai oleh orang lain. Kamu berhasil membuat hatiku remuk, Jas!" Suara Febian terdengar menggema di kamar itu.
"Aku mohon maafkan aku, Bi. Bahkan kalau kamu mau membunuhku, aku akan terima!"
Febian tidak menjawab, hanya menyingkirkan tangan Jasmin secara paksa lalu melangkah cepat keluar dari apartemen membawa sakit hati yang terasa begitu hebat. Sementara Jasmin hanya menangis terisak di kamar.
"Maafkan aku, Bi." Jasmin masih saja terisak. Dia sakit dan terluka, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bayangan ketika bangun tidur tanpa busana bersama Damian malam itu begitu mengusik pikirannya.
Jasmin beranjak bangun dan menuju ke dapur untuk mencari pisau. Dia merasa tidak sanggup jika harus hidup seperti ini. Tidak bisa menjaga kehormatannya juga sangat melukai hati orang yang dia cintai.
Jasmin mengarahkan pisau itu tepat di pergelangan tangan kiri. Bibirnya tersenyum getir saat melihat darah mengalir deras dari sana. "Maafkan aku semuanya. Aku harus pergi dari kalian saat ini juga," gumam Jasmin sebelum akhirnya kedua mata gadis itu tertutup rapat.