
Di sekitar penjual gerobak bubur ayam itu tampak begitu ramai karena ada beberapa orang berpakaian hitam berjaga di sana. Bukannya ada keributan, tetapi itu adalah anak buah Febian yang diperintahkan untuk menjaga lokasi sekitar agar tidak ada yang mengambil foto maupun video selama Febian memenuhi keinginan si ibu hamil.
Karena rasa sayangnya pada istri, Febian benar-benar menuruti keinginan wanita hamil itu. Membuatkan semangkuk bubur ayam dengan memakai bando kelinci warna pink. Meski kesusahan, Febian tetap membuatkan bubur tersebut dengan dibantu penjualnya langsung. Setelah bubur siap, Ara rasanya tidak sabar dan langsung melahap bubur itu sampai tandas. Bahkan wanita itu habis dua mangkuk, hingga mereka semua yang melihatnya menggeleng tidak percaya.
Setelah bersendawa karena kekenyangan, Febian dan Ara kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor, apalagi setengah jam lagi Febian akan ada rapat penting. Begitu sampai kantor, mereka langsung disambut hangat oleh karyawan di sana. Karyawan yang dulu tidak menyukai Ara pun, tetap bersikap ramah karena mereka tidak ingin diberhentikan secara tidak hormat.
"Araaaa." Leona berteriak heboh saat melihat sahabatnya masuk ke ruangan bersama Febian.
"Kamu sedang sibuk, Le?" tanya Ara. Kedua wanita hamil itu saling berpelukan, tak lupa Ara mengusap perut Leona yang mulai terlihat membuncit.
"Sangat, suamimu itu sekarang sangat pemalas," sindir Leona. Ekor matanya melirik Febian yang justru melangkah santai menuju ke kursi kerjanya.
"Marahi aja, Le." Ara mengompori. Febian berbalik dan menatap istrinya lekat.
"Sayang ...," panggil Febian penuh penekanan.
"Iya baiklah. Aku tahu kamu malas karena sekarang sibuk mengurus bayi besar sepertiku, Mas." Ara tergelak, sedangkan Febian mendengkus kasar.
Lelaki itu bersiap untuk rapat, sedangkan Ara dan Leona justru sibuk mengobrol seputar ngidam. Bahkan, Leona sampai lupa kalau dia harus ikut rapat bersama Febian.
"Ehem!" Febian berdeham untuk memberi kode kepada Leona.
"Astaga, aku lupa!" Leona menepuk keningnya lalu bergegas bangkit berdiri dan menyusul Febian yang sudah berada di ambang pintu.
"Sayang, kamu jangan ke mana-mana, ya, satu jam lagi aku selesai." Febian memberi perintah, dan Ara hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Ara segera masuk ke kamar yang tersedia di sana. Dirinya merebahkan diri dan memainkan ponsel. Beberapa saat kemudian, perut Ara berbunyi. Wanita hamil itu mengusap perutnya dengan perlahan.
"Kenapa aku lapar sekali," gumam Ara. Dia pun kembali turun dan berjalan keluar ruangan Febian untuk mencari makanan yang sekiranya cocok untuk lidahnya.
Namun, baru saja sampai di lobby kantor, dua orang anak buah Febian yang berjaga di depan langsung mendekati Ara. Mereka berdua membungkuk hormat dengan kompak.
"Anda mau ke mana, Nona?" tanya mereka sopan.
"Aku pengen nyari jajan di luar," sahut Ara tak kalah sopan.
"Anda ingin makan apa, Nona?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku mau makan seblak pedas." Mendengar jawaban Ara, kedua orang itu terdiam begitu saja.
"Maaf, Nona. Bukankah Anda harus menjaga asupan makanan Anda. Tuan Bi sering berpesan pada kami," ucapnya. Ara mengembuskan napas secara kasar.
"Baiklah. Aku hanya ingin makan bakso di depan. Kalian tunggu di sini saja atau aku akan menghilang dari dunia ini!" ucap Ara mengancam.
Kedua anak itu pun menjadi bimbang. Siapa yang harus mereka turuti, Febian atau Ara? Namun, kalau tidak menuruti ibu hamil itu, mereka takut wanita itu akan menangis kencang seperti sebelumnya. Akhirnya, dengan ancaman yang terus terlontar dari mulut Ara, dua orang itu mengiyakan dan membiarkan Ara pergi. Namun, secara diam-diam mereka mengikuti di belakang.
***
Febian baru saja selesai rapat bersama Ara. Namun, ketika memasuki ruangan, dia kebingungan karena tidak melihat keberadaan sang istri. Febian menyusuri setiap sudut ruangan, sedangkan Leona dengan santai duduk di kursinya dan menghubungi ponsel Ara. Kedua mata Leona membola saat Ara mengirimi pesan gambar semangkok seblak pedas. Air liur Leona seperti hendak menetes saat melihatnya.
Leona : Bungkuskan aku satu.
Ara : Tidak! Aku takut dimarahi Bara.
Ara : Tidak akan, Le! Aku hanya ingin menikmati seblak ini sendirian dan tidak ada tukang rusuh sepertimu!"
"Le! istriku menghilang!" Suara Febian yang begitu keras berhasil mengejutkan Leona. Dia pun tidak lagi membalas pesan dari Ara.
"Paling Ara juga sedang jajan, Kak. Lagian kenapa Kak Bi tidak telepon dia aja, sih." Leona mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Aku lupa!" Febian merogoh saku jas hendak mengambil ponselnya.
"Kak, aku tahu di mana Ara." Gerakan Febian terhenti saat mendengar perkataan Leona. "Dia sedang makan seblak di warung depan kantor." Leona menunjukkan pesan dari Ara. Tangan Febian terkepal erat. Dia mengambil ponsel dan menghubungi salah satu anak buahnya. Ketika anak buahnya mengatakan Ara memang sedang makan seblak. Febian semakin merasa sangat kesal. Lelaki itu berjalan cepat keluar ruangan.
"Tunggu hukuman dari suamimu, Ra! Salah siapa kamu begitu pelit padaku." Leona tertawa puas. Rasanya dia ingin sekali melihat wajah memelas Ara saat Febian memarahinya.
***
Warung seblak yang tampak ramai itu seketika semakin begitu ricuh saat Febian datang ke sana. Banyak pasang mata yang tertuju padanya, tetapi tidak bagi seorang wanita cantik yang duduk di sudut dan terlihat begitu asyik memakan semangkok seblak berkuah pedas. Dua orang anak buah Febian yang berjarak cukup jauh pun, segera membungkuk hormat di depan Febian. Mereka begitu takut saat melihat wajah datar Febian.
"Tu-Tuan." Mereka berdua tergagap.
"Kenapa kalian berdua biarkan istriku makan di sini!" bentak Febian tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Ara yang sama sekali tidak terusik. Sepertinya, Ara benar- benar sangat menginginkan makanan itu. Terlihat sekali bagaimana Ara sangat menikmati seblak di depannya.
"Kami sudah melarang, tapi Nyonya mengancam akan bunuh diri, Tuan." Febian menghela napas panjang setelah mendengar jawaban anak buahnya.
Febian mendekati Ara, dan tanpa berbicara dia mendudukkan tubuhnya di samping istrinya. Ara yang melihat itu pun, langsung tersedak begitu saja hingga membuat Febian begitu khawatir dan dengan segera menyodorkan segelas air putih.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Febian cemas.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku di sini, Mas?" tanya Ara heran. Wajahnya masih memerah bekas tersedak tadi.
"Leona yang bilang," sahut Febian. Dalam hati, Ara mengumpati sahabatnya itu.
"Sekarang di mana dia?" Ara mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Leona yang ada justru tatapan genit dari para wanita di sana yang mengarah pada Febian.
Hati Ara pun rasanya memanas. Dia bangkit berdiri dan menarik tangan Febian untuk mengajaknya pergi dari sana.
"Sayang, kenapa kamu begitu kesal? Harusnya aku yang marah padamu!" tanya Febian heran.
"Aku tidak suka kamu menjadi pusat perhatian dan mendapat tatapan genit dari wanita lain, Mas." Ara menjawab jujur. Febian awalnya tertegun, tetapi kemudian dia tergelak keras. Febian rasanya sangat bahagia melihat kecemburuan istrinya yang begitu menggemaskan.
"Ayo, Mas. Kita kembali saja. Aku sudah siap menerima hukuman enak-enak dari kamu." Ara kembali melangkah pergi masih dengan menarik tangan Febian.
"Mbak! Tunggu!"
Ara berbalik dan memasang wajah marah. "Mbak! Jangan genit sama suami saya!" omel Ara bahkan sebelum wanita itu berbicara.
"Siapa yang genit, Mbak? Saya cuma mau bilang kalau Mbaknya belum bayar seblak yang sudah dimakan."
"Eh!"
Thor, katanya 300 bab tamat. Kok belum tamat juga? Udah bosen tau
Sabar ya, tiga bab lagi Othor benar-benar tamatin kok 😁