
"Kenapa aku begitu bodoh. Menjaga anak yang masih dalam kandungan saja aku tidak becus. Ibu macam apa aku ini!" ucap Cacha disela isak tangisnya. Mike masih terdiam dan berdiri di samping brankar. Dia membiarkan istrinya mengeluarkan semua beban yang mengganjal hatinya.
"Memang seharusnya Mike mendapat wanita yang lebih baik dariku." Cacha semakin terisak keras. Mike yang sudah merasa tidak tega, akhirnya naik ke brankar dan memeluk istrinya dari belakang.
Cacha awalnya terkejut dan hendak berbalik, tetapi saat aroma parfum yang tidak asing masuk ke indera penciumannya, Cacha pun akhirnya diam apalagi saat merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu hmm?" tanya Mike lembut, tetapi Cacha tidak menjawab sama sekali. "Bukankah sudah kukatakan tidak ada wanita lain selain kamu yang menempati tahta tertinggi di hatiku."
"Mike ...."
"Jangan terlalu larut dalam kesedihan bahkan sampai menyalahkan dirimu sendiri seperti ini. Semua bukan salah kamu, dan memang belum saatnya kita mendapat momongan. Kita masih memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk mencobanya." Mike semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku gagal, Mike." Suara Cacha terdengar lirih bahkan nyaris tak terdengar.
"Hey, sejak kapan istri kecilku yang hebat menjadi wanita baperan seperti ini? Ayolah, Neng, jangan menyerah dan sedih seperti ini. Setelah kamu sehat kita akan memrosesnya lagi." Mike berusaha memberi dukungan dan semangat untuk istrinya.
"Mike ...."
"Sudah, lebih baik sekarang kamu tidur. Besok pagi ada kejutan untukmu. Aku juga mau tidur, sudah lelah sekali." Mike semakin merapatkan tubuhnya.
"Kejutan apa?" tanya Cacha penasaran.
"Diam-diam, dong. Kalau aku bilang nanti bukan jadi kejutan lagi," ucap Mike diiringi kekehan saat mendengar dengkusan kasar dari istrinya.
"Mike, bagaimana keadaan Nona Fey?" tanya Cacha. Membuat mata Mike yang baru saja terpejam kembali terbuka lebar.
"Jangan pikirkan orang lain. Biarkan saja dia. Aku bangga kamu tetap selalu waspada. Meskipun pelurumu salah sasaran."
"Salah sasaran? Bidikanku kedua kaki Nona Fey dan sepertinya aku melihat peluruku mendarat dengan tepat." Alis Cacha saling bertautan, sedangkan pikirannya berusaha mengingat kejadian di waktu siang menjelang sore tadi.
"Salah sedikit. Seharusnya kamu arahkan pelurumu tepat di jantungnya karena dia sudah membuatmu terluka," ucap Mike.
"Aku tidak sekejam itu, Mike." Cacha menghela napas panjang.
"Kalau aku mungkin bisa kejam. Gara-gara dia, aku tidak bisa menikmati cupcake vanila buatan istriku, padahal sudah dibuat dengan susah payah," kata Mike. Cacha segera berbalik dan menatap suaminya secara dalam.
"Kamu tahu aku membuat cupcake?" tanya Cacha. Bahkan dirinya hampir saja lupa.
"Ya, dan rasanya sangat enak." Mike berkata dengan sangat antusias, membuat kening Cacha kembali mengerut.
"Memang kamu sudah mencicipi?" tanya Cacha heran.
"Belum, sih, tapi aku yakin buatan istriku pasti sangat enak dan tidak diragukan lagi." Mike terkekeh, sedangkan Cacha memukul dada suaminya karena kesal.
Mike tidak menjawab, hanya mencium bibir Cacha berkali-kali sehingga membuat pipi Cacha merona merah. "Besok aku akan menghabiskannya, aku sudah suruh pelayan Lin untuk membawakan ke sini."
"Baiklah, tapi sepertinya cupcake itu kurang manis," ucap Cacha.
"Tak apa, bagiku kamu dan senyumanmu yang paling manis," rayu Mike.
"Ingat umur, Mike! Sudah bukan waktunya kamu menggoda gadis imut sepertiku," rengek Cacha dengan berusaha menahan tawa.
"Kamu bilang gadis imut? Jangan lupakan malam pertama kita, Neng." Mike kembali menciumi Cacha yang sedang tergelak, dengan gemas. Malam itu, mereka tidur bersama dalam satu brankar dengan saling berpelukan.
***
Yosie rasanya tidak sabar menuju ke apartemen Clara, langkahnya terlihat begitu terburu. Dia segera masuk ke apartemen itu dan mencari keberadaan Clara, tetapi wanita itu sama sekali tidak ada padahal Yosie sudah menyusuri semua ruangan di sana. Di saat lelaki itu masuk ke kamar, secarik kertas tergeletak di atas kasur berhasil mengalihkan perhatian Yosie.
Maaf, Yos. Aku harus pergi jauh dari kehidupanmu. Aku membawa serta anak kita karena aku tidak mau jika kamu menyuruhku menggugurkannya. Dia tidak bersalah dan kita membuatnya dengan cinta, Yos. Kuharap kamu tidak akan pernah mencariku dan biarkan aku hidup tenang.
Yosie meremas kertas itu dengan kuat lalu membuangnya secara sembarang. Dia berusaha menghubungi Clara, tetapi tidak bisa terhubung sama sekali termasuk anak buahnya pun hilang tanpa kabar. Lelaki itu menjambak rambutnya dengan kasar.
"Ke mana kamu, Cla? Kalau tahu anak yang kamu kandung laki-laki maka aku tidak akan pernah menyuruhmu menggugurkannya dan aku akan menikahimu meski tanpa persetujuan Fey!"
Yosie terduduk di kasur dengan begitu frustasi. Bahkan dia masih terus saja menjambak rambutnya sendiri. Ke mana dirinya harus mencari keberadaan Clara. Yosie berusaha mengingat-ingat semua tempat yang selalu dikunjungi Clara, lalu beranjak bangun dan akan menyambangi semua tempat itu.
Sementara itu, Fey yang sudah kembali sadar, menangis tersedu setelah mengetahui kepergian sang papa untuk mencari Clara. Rasanya dia begitu sakit mendengar kenyataan itu. Dia tidak menyangka kalau sang papa akan bermain dengan gadis muda bahkan sampai menghamilinya. Fey berusaha mengusap air mata yang masih saja mengalir deras, tatapannya terpaku pada dua kaki yang masih diperban karena luka masih basah.
"Aku tidak menyangka kalau Cacha bukan gadis sembarangan. Kalau aku tahu, mungkin aku akan lebih berhati-hati lagi," gumam Fey dengan tangan terkepal.
Sekarang, dia hanya bisa pasrah dan fokus pada kesembuhannya karena selama beberapa waktu, dirinya tidak bisa berjalan dengan baik. Salah seorang anak buah Yosie masuk ke ruangan dengan membawa nampan berisi makanan. Lelaki itu menyuruh Fey untuk makan, tetapi Fey justru membuang nampan itu sampai isinya berhamburan bahkan piring dan gelasnya pecah berantakan.
"Aku tidak mau makan!" bentak Fey.
"Tapi Anda harus makan, Nona. Kalau tidak, nanti Tuan Yosie akan marah." Lelaki itu membungkuk sopan.
"Aku tidak mau makan! Biarkan saja Papa marah, Papa sudah tidak peduli lagi padaku! Pergi kamu!" usir Fey dengan tangan menunjuk pintu.
"Biar saya ambilkan makanan yang baru, Nona. Jangan turun dari tempat tidur, saya panggilkan petugas kebersihan terlebih dahulu." Lelaki itu pergi keluar ruangan.
Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Fey bergeser ke tepi tempat tidur lalu mencondongkan tubuhnya ke bawah untuk mengambil pecahan piring meski dengan sangat susah payah. Setelah berhasil mengambil satu pecahan, Fey kembali tiduran dan menatap pecahan tersebut.
"Buat apa aku hidup kalau harus seperti ini!" Fey mengarahkan pecahan itu, tetapi suara dari arah pintu berhasil menggagalkannya. Anak buah Yosie tadi melangkah lebar dan merebut pecahan itu dari tangan Fey secara kasar.
"Apa yang Anda lakukan, Nona Muda?" tanyanya setengah membentak.