Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
296


Baru saja mereka keluar dari kamar Nadira, tampak Mike yang naik tangga dengan langkah tergesa. Mereka pun merasa heran dan segera mendekati lelaki itu.


"Ada apa, Mike?" tanya Johan. Menghentikan langkah Mike di tengah tangga.


"Aku mau ke rumah sakit, Yah. Cacha mulai kontraksi." Mike hanya menjawab lalu bergegas naik menuju kamar yang berada di lantai dua. Johan dan Mila juga ikut naik untuk melihat putrinya. Termasuk Queen dan Rayhan juga.


Sesampainya di kamar, Mike begitu cemas saat melihat Cacha sedang duduk di tepi tempat tidur sembari mengusap punggung belakangnya sendiri. Bahkan, wanita itu terlihat meringis kesakitan.


"Biar aku periksa." Queen melakukan VT. "Sudah pembukaan delapan. Kita harus bergegas karena bayi ini akan segera lahir."


"Neng, kita ke rumah sakit sekarang, ya." Tanpa menunggu jawaban, Mike membopong tubuh istrinya dan membawanya ke luar kamar. Yang lain pun kembali mengekor di belakang. Sembari menuruni tangga, Mike mengumpat kesal. Dia lupa tidak memasang lift di mansion itu.


Nathan yang baru ke luar kamar pun, akhirnya ikut ke rumah sakit dan dia yang menyetir mobilnya, sedangkan yang lain menyusul di belakang.


"Mas, rasanya sakit sekali." Cacha berusaha untuk tidak mengejan terlebih dahulu padahal di bawah sana rasanya sudah sangat mendesak. Dia tidak mau kalau anaknya lahir di dalam mobil.


"Bisakah kamu mengendarai mobil dengan sedikit lebih cepat?" pinta Mike penuh penekanan karena saking khawatirnya.


"Ini sudah cepat, Mike!" Nathan menjawab ketus tanpa mengurangi konsentrasi menyetirnya. "Sial!" umpat Nathan saat melihat sebuah mobil polisi dengan sirine yang terus berbunyi sedang mengejar mobilnya saat ini.


"Keponakan Om jangan lahir dulu ya, lima menit lagi kita sampai." Nathan melirik kaca spion, lalu melajukan mobilnya lebih cepat lagi. Mike memeluk erat tubuh Cacha karena takut terjadi apa-apa dengan mereka.


Tidak sampai lima menit, mobil itu langsung berhenti di area IGD, Mike turun dan berteriak meminta brankar. Perawat yang berjaga pun kalang-kabut, apalagi saat melihat air ketuban Cacha sudah pecah. Brankar tersebut langsung di bawa ke ruang bersalin. Queen kembali ikut masuk bersama Dokter Angel.


Cacha langsung diposisikan pada tempatnya. Peluh telah membasahi dahi wanita itu. Mike pun tak lepas menggenggam erat tangan istrinya.


"Mengejanlah kalau sudah ingin, Cha. Jangan ditahan lagi." Queen berusaha memberi arahan.


"Egghhh." Tiga kali mengejan, terdengar suara bayi menggema di ruangan itu. Cacha dan Mike bernapas lega.


"Seorang bayi tampan." Queen menunjukkan bayi Cacha ke hadapan mereka. Cacha menutup mulut untuk menahan tangis bahagianya. Mike pun sama. Banyak ciuman mendarat di wajah wanita yang baru saja berjuang demi sebuah nyawa tersebut.


Sementara itu, di parkiran, Johan dan Nathan sedang menyelesaikan urusan mereka dengan anggota kepolisian yang tadi mengejar Nathan. Setelah mengetahui kalau pengendara mobil itu adalah Keluarga Saputra juga dalam keadaan genting maka mereka hanya menerima kata maaf saja.


"Di mana cucuku?" tanya Johan saat baru memasuki ruangan Cacha. Lelaki itu berjalan menuju ke box bayi dan melihat bayi mungil yang sedang tertidur di sana. Senyum di bibir Johan mengembang sempurna saat melihat betapa miripnya bayi mungil itu dengan Cacha sewaktu kecil.


"Sangat mirip. Aku tidak menyangka kalau ternyata kita sudah tua sekarang." Johan menatap bayi itu dengan lekat.


"Siapa nama bayimu, Mike?" tanya Nathan mengalihkan perhatian.


"Michel Anderson Saputra." Mike menjawab yakin.


"Keren sekali namanya." Nathan memuji. Cacha dan Mike pun hanya tersenyum. Rasa bahagia tampak terlihat jelas dari wajah mereka yang berada di ruangan tersebut.


***


Febian yang baru saja sampai di mansion Alexander langsung mengajak istri dan saudara sepupunya untuk segera masuk dan melihat keponakan mereka. Baru saja menginjak ruang tamu, suasana tampak begitu ramai oleh anak kecil. Febian mendekati Rania, Ana, dan Nadira yang sedang duduk mengawasi bocah-bocah kecil tersebut.


"Sumpah, mansion ini udah seperti taman kanak-kanak," ucap Febian. Dia mencium pipi Nadira dengan lembut. "Bagaimana kabarmu, Nad?"


"Baik, Bi. Kamu juga baik 'kan?" Nadira bertanya balik. Febian hanya mengangguk cepat lalu menarik tangan Ara untuk duduk bergabung bersama mereka. Tak lupa Nadira juga menanyakan tentang kehamilan Leona.


Mereka pun saling mengobrol seru, banyak hal yang mereka bahas termasuk masa lalu saat masih kecil dulu juga saat remaja.


"Ran, boleh aku menggendong Aksa?" pinta Febian saat melihat keponakannya yang sedang aktif-aktifnya.


"Hai, Aksa. Ini Om Bi." Febian menghujami wajah bocah kecil itu dengan banyak ciuman. "Kamu cowok, tapi kenapa wajahmu cantik seperti mommy?"


"Ciee," goda Ana. Febian langsung terdiam, sedangkan Rania memalingkan wajahnya.


"Apaan sih, An!" cebik Febian yang juga ikut berpaling.


"Cinta lama gagal dan hanya mampu jadi saudara ipar," celetuk Ana. Namun, sesaat kemudian wanita itu mengaduh saat Nadira menginjak kakinya dengan kencang.


Ana menatap Nadira dengan penuh tanya. "Apa sih, Nad?" tanya Ana belum sadar. Nadira memberi kode, menunjuk Ara dengan dagunya. Ana segera menutup mulut saat melihat wajah Ara yang mendadak muram.


"Uppss. Sorry." Ana merasa tidak enak hati, Febian mendengkus kasar, sedangkan Ara mencoba menunjukkan senyumnya yang terpaksa.