
Nathan dan Nadira baru saja selesai mencoba gaya baru dari sang bunda. Rasanya tubuh Nadira sudah remuk redam, tapi setiap kali tangan Nathan menyentuh kulitnya, maka dia akan luluh begitu saja. Pasrah meski Nathan menggarapnya habis-habisan.
Ketika sedang tertidur lelap karena rasa lelah, ponsel Nathan terdengar berdering memecah keheningan kamar. Dengan malas, Nathan mengambil ponsel yang berada di dekatnya, lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menghubungi.
"Hallo, Nat."
"Ayah," panggil Nathan. Dia menutup mulutnya karena menguap. Rasa kantuk benar-benar menyerangnya, bahkan dia masih saja enggan membuka mata.
"Kamu sedang apa?" tanya Johan dengan tenang.
"Tidur, Yah. Capek, habis olahraga," sahut Nathan santai.
"Astaga. Jangan paksa istrimu olahraga terus-terusan."
"Baik, Yah."
"Nat, bisakah kamu pulang?"
"Memang kenapa, Yah?"
"Besok malam akan ada seseorang yang melamar Cacha."
"Melamar Cacha?" Nathan terkejut, "Siapa?"
"Pokoknya ada, nanti kamu akan tahu sendiri."
"Baiklah, Yah. Nanti sore Nathan pulang, sejak kemarin Nadira juga sudah minta pulang."
"Ya sudah, kalau pulang hati-hati, Nat."
"Baik, Yah."
Panggilan itu pun terputus begitu saja. Nathan kembali meletakkan ponselnya, lalu dia beralih menatap istrinya yang masih terlelap. Entah mengapa, dia merasa tidak tenang setelah mendengar akan ada seseorang yang melamar Cacha karena selama ini dirinya tidak tahu lelaki mana yang dekat dengan adik perempuannya.
Nathan semakin merapatkan tubuhnya saat merasakan pergerakan dari istrinya. Sebelum kedua kelopak mata sang istri terbuka, Nathan sudah terlebih dahulu mendaratkan ciuman dengan penuh sayang di puncak kepala sang istri.
"Kamu sudah bangun, Beb?" tanya Nathan dengan lembut.
"Mas," panggil Nadira lirih. Dia sedikit melepaskan secara paksa pelukan Nathan. Setelah itu, dia menggeliat untuk melemaskan otot tubuhnya yang terasa begitu kaku.
"Tulangku rasanya seperti patah smua," gerutu Nadira.
Nathan terkekeh geli. "Aku sangat puas, Beb." Senyum di bibir Nathan terlihat mengembang dengan sangat sempurna.
"Aku capek banget, Mas." Nadira bicara dengan begitu manja, membuat Nathan menjadi sangat gemas.
"Tidak apa, demi NN junior segera hadir, kita harus bekerja keras." Nathan kembali mendaratkan ciuman di puncak kepala Nadira. "Kamu mau kupijit?" tanya Nathan menawarkan diri.
Nadira menggeleng cepat. "Kalau kamu yang mijit, yang ada tubuhku makin remuk redam, Mas. Aku tahu otak mesummu!" Nadira mencebik kesal.
"Hahaha tidak, Beb. Aku beneran mau mijit kamu." Nathan tergelak keras, Nadira pun memutar bola matanya malas.
"Aku akan memijitmu, Beb. Sebelum nanti sore kita akan kembali ke Jakarta," kata Nathan santai.
Nadira menatap penuh ke arah suaminya. "Nanti sore kita akan balik ke Jakarta?" tanya Nadira semringah. Nathan mengangguk cepat. "Aihhh, aku sudah tidak sabar."
"Padahal aku berencana sebulan di sini," celetuk Nathan.
"Aku tidak mau," tolak Nadira dengan cepat diriingi decakan lidah.
"Kenapa? Kita belum menjelajah tempat wisata di Lombok," timpal Nathan.
"Bisa-bisa aku mati kelelahan, Mas. Seminggu di sini saja kamu benar-benar tidak mengajakku keluar kamar." Nadira tampak begitu kesal, sedangkan Nathan justru tersenyum seolah tak berdosa.
"Eh, Mas. Kenapa kita pulang mendadak? Katanya masih dua hari lagi." Nadira menatap penuh tanya ke arah suaminya.
"Tadi ayah telepon, katanya mau ada seseorang yang datang melamar Cacha."
Nathan mengangkat bahu, "Aku tidak tahu. Ayah tidak bilang lelaki itu siapa. Beb, apa kamu tahu selama ini Cacha dekat dengan siapa?"
Kedua alis Nadira saling bertautan, mengingat-ingat lelaki mana yang dekat dengan sahabat yang kini sudah menjadi kakak iparnya. Namun, detik selanjutnya, Nadira menggeleng lemah.
"Aku tidak tahu. Cacha cuman dekat sama James. Karena setahu aku, James itu agak overprotectif sama Cacha. Dia tidak suka Cacha dekat dengan laki-laki lain," jelas Nadira. Kepala Nathan mengangguk tanda mengiyakan dengan bibir membentuk bulatan penuh.
"Aku benar-benar penasaran siapa lelaki itu," gumam Nadira.
"Sudah tidak usah dipikirkan. Semoga saja lelaki itu adalah lelaki baik-baik. Lebih baik sekarang kita coba gaya terakhir sebelum pulang," ajak Nathan. Bibir lelaki itu tersenyum menggoda, sedangkan Nadira mendengkus kasar.
"Aku tidak mau!" tolak Nadira tegas. "Aku sudah lelah, Mas. Kita masih bisa melakukan esok-esok hari." Nadira merengek, bahkan dia seperti akan menangis.
Dengan gemas, Nathan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah sang istri. "Aku bercanda, Beb. Kalau begitu kita mandi dan bersiap-siap."
"Kamu duluan aja. Kita gantian." Nadira kembali memejamkan mata.
"Mandi bareng aja, Beb."
"Tidak mau!"
"Kenapa?"
"Kamu mesum!"
"Aku tampan, Beb!"
"Ishh!"
"Ayolah kita mandi sama-sama," ajak Nathan merayu.
"Kalau mandi sama kamu pasti jadi lama. Macem-macem juga," cebik Nadira kesal.
"Tidak, Beb. Satu macem aja cukup, kok. Nanti kalau si Othong bangun, aku ajak main sama Tante Citra aja. Kalau dia ngambek, aku bilang aja kalau rumahnya lagi dikunci rapat dan kuncinya entah terselip di mana."
"Kak Nathan!"
"Apa, Sayang?" tanya Nathan dengan tenang.
"Menyebalkan!"
***
Rendra duduk bersandar di sofa yang berada di ruang kerjanya. Pikiran lelaki itu melayang, hatinya merasa begitu gelisah memikirkan besok malam, dirinya akan melamar Cacha. Mario yang berdiri tidak jauh dari sofa, hanya menghela napas panjang melihat atasannya.
"Tuan, Anda yakin akan melamar Nona Cacha? Kalau masih ragu sebaiknya jangan, Tuan." Mario berusaha memberi nasihat.
"Aku tidak mau dicap sebagai pecundang, Mar. Aku punya harga diri," sahut Rendra. Hembusan napas kasar terdengar keluar dari mulut lelaki itu.
"Tapi ini soal perasaan, Tuan. Jangan pernah bermain-main dengan perasaan. Anda tahu kalau Nona Cacha itu sahabat baik yang sekarang menjadi saudara ipar Nona Elvina. Jujur, saya khawatir dengan Anda, Tuan." Mario bicara dengan lirih. Rendra mengalihkan pandangannya, menatap Mario dengan terheran.
"Maksud kamu apa, Mar?" tanya Rendra tanpa memutus pandangannya.
"Tuan ... saya khawatir Anda semakin tidak bisa melupakan Nona Elvina," sahut Mario dengan suara berat.
Rendra menghembuskan napas perlahan. "Mar, aku sedang berusaha melupakan El. Aku tahu, aku sudah tidak berhak untuk mencintainya lagi, dan aku bertekat akan belajar mencintai Cacha."
"Anda yakin bisa mencintai Nona Cacha? Jangan jadikan Nona Cacha sebagai pelampiasan Anda saja, Tuan."
Rendra tidak menjawab, hanya memijat pelipisnya dengan perlahan. Tiba-tiba, terdengar pintu ruangan diketuk dari luar.
"Masuk!" perintah Rendra tanpa beranjak dari sofa.
Pintu ruangan itu terbuka, dengan langkah anggun, Anisa masuk ke ruangan itu. Rendra yang baru saja menatap ke arah pintu, tubuhnya terpaku sesaat melihat gadis cantik dengan rambut panjang tergerai, apalagi baju kantor yang begitu pas di tubuh, membuat kesan dewasa bagi gadis itu. Sementara Mario yang melihat Rendra, hanya menghembuskan napas secara kasar.