Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
133


Cahaya pagi sudah mengintip dari celah tirai. Nadira mengerjapkan kedua matanya lalu merentangkan tangan untuk melemahkan ototnya yang terasa kaku. Ketika Nadira menoleh ke samping, dia terheran saat tidak melihat keberadaan Nathan di sampingnya.


"Sepertinya aku kesiangan," gumam Nadira. Dia turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.


Setelah selesai, Nadira segera keluar kamar dan turun ke lantai bawah untuk mencari keberadaan suaminya yang ia yakini sedang sarapan.


"Kamu sudah bangun, Nad?" tanya Mila dengan lembut.


"Sudah, Bun. Kak Nathan di mana?" tanya Nadira balik.


"Sudah berangkat sepuluh menit lalu. Kebetulan ada pertemuan penting," sahut Mila.


"Kalau ayah?" tanya Nadira mengedarkan pandangannya.


"Sudah berangkat juga. Sarapan ayo, Nad. Kamu baru bangun 'kan?" Mila hendak mengambilkan sarapan untuk anak menantunya.


"Nanti saja lah, Bun. Nadira belum mandi. Nadira mau ke kamar Cacha dulu." Nadira beranjak bangun dan berjalan menuju ke kamar Cacha. Sesampainya di depan kamar Cacha, Nadira segera mengetuk pintu itu dan segera membukanya saat sudah mendengar sahutan dari dalam.


"Kamu sudah bangun, Cha? " tanya Nadira saat melihat Cacha sudah duduk bersandar di kepala ranjang.


"Sudah, Nad. Kamu baru bangun?" tanya Cacha balik. Nadira hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Nadira beralih duduk bersandar tepat di samping Cacha.


"Apa kamu sudah menyiapkan gaun untuk nanti malam? Aku sebenarnya sangat penasaran siapa yang akan melamarmu nanti, Cha. Apa aku mengenalnya?" tanya Nadira.


"Pokoknya rahasia. Aku yakin kamu pasti akan terkejut kalau tahu siapa yang melamarku." Nadira berdecak kesal saat Cacha merahasiakan semuanya darinya. Membuat Nadira menjadi begitu curiga.


"Sudahlah. Jangan dibahas dia siapa. Nad ... aku mau minta pendapat boleh?" tanya Cacha ragu.


"Pendapat apa?" Nadira membuka kunci layar ponsel yang dia pegang.


"Jadi gini, ayah 'kan ngejodohin aku sama seseorang. Dia itu lebih tua dari aku, dia ngejaga aku banget, tapi aku malah nolak dia, Nad." Wajah Cacha terlihat begitu sedih saat teringat Mike.


"Kenapa kamu menolaknya?" sela Nadira.


"Aku udah nyakitin hati dia, Nad. Aku bilang dia tua dan tidak sederajat, tapi dia tetap baik sama aku." Wajah Cacha semakin terlihat sendu.


"Lelaki itu bukan orang yang sama dengan yang akan melamarmu malam ini?" tanya Nadira penuh selidik. Cacha mengangguk cepat.


"Tapi kamu cinta 'kan sama lelaki yang akan melamarmu?" tanya Nadira, kali ini dengan sedikit menuntut jawaban. Namun, Cacha hanya membisu. Bahkan raut keraguan terlihat memenuhi wajah gadis itu.


"Mantapkan hatimu, Cha. Kalau memang kamu belum siap, lebih baik kamu batalkan saja pertunangan itu. Jangan sampai menyesal. Hubungan pernikahan bukan seperti orang pacaran yang bisa putus nyambung dengan mudah." Nadira memberi nasihat. Cacha pun hanya mengiyakan karena dia tidak tahu akan merespon yang bagaimana lagi.


***


Johan duduk dengan tangan memijat pangkal hidungnya. Kening lelaki itu terlihat mengerut, tapi sesaat kemudian rahangnya terlihat mengeras, melihat sebuah video remang-remang yang terputar di layar ponselnya.


"Bagaimana kamu mendapat video ini, Zack?" tanya Johan penuh penekanan.


"Kebetulan saat itu saya berniat membantu pengemudi yang hampir mengalami kecelakaan, tapi ternyata pemandangan di dalam membuat saya terkejut, Tuan," jelas Zack.


Zack hanya menunduk hormat lalu berpamitan pergi dari ruangan itu. Selepas kepergian Zack, pintu ruangan yang baru tertutup tiba-tiba dibuka kembali. Johan menatap ke arah pintu dan melihat kedua putranya berjalan masuk dengan langkah tegas.


"Yah, kenapa Ayah masih berangkat ke kantor?" tanya Nathan, mendudukkan tubuhnya di sofa disusul Rayhan di sampingnya.


"Ayah masih ingin di sini. Kalian dari mana?" tanya Johan balik.


"Habis bertemu klien, Yah." Nathan menyadarkan kepalanya di sofa. Dia memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang membuat kepalanya terasa berdenyut sakit.


"Yah, kata Nathan nanti malam ada yang mau melamar Cacha? Kenapa aku tidak diberi tahu?" Rayhan bertanya dengan sedikit kesal. Padahal Rayhan tinggal tidak jauh dari Kediaman Saputra.


"Baru sekarang ayah mau bilang sama kamu." Johan berkilah, padahal lelaki itu sengaja tidak ingin memberitahu Rayhan.


"Terus lelaki yang mau melamar Cacha itu siapa, Yah?" tanya Rayhan lagi.


"Ya pokoknya ada. Nanti kalian juga akan tahu sendiri siapa orangnya. Kebetulan nanti malam ayah akan buat kejutan untuk lelaki itu." Bibir Johan terlihat menyeringai tipis.


"Wah, kejutan apa, Yah? Kebetulan sekali Nathan sudah lama tidak bermain." Nathan terlihat begitu semringah.


"Biar ayah saja yang memberi kejutan. Kalian cukup lihat saja. Seberapa hebat ayah kalian yang tampan ini." Johan menyombongkan diri. Rayhan dan Nathan yang melihat hanya memutar bola matanya malas.


"Ayah percaya diri sekali." Nathan berdecih. Johan hanya menaik-turunkan alisnya. Ketiga lelaki itu pun mengobrol ringan karena kebetulan pekerjaan mereka sedang tidak sibuk.


***


Rendra dan kedua orang tuanya sudah bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Namun, sedari tadi Rendra tampak gelisah, dan perasaannya mendadak tidak nyaman. Seolah ada hal buruk yang akan terjadi padanya, tetapi sekuat hati Rendra berusaha menepisnya.


"Kenapa wajahmu terlihat sangat tidak bersemangat, Ren?" tanya Bastian dengan heran.


"Rendrs gugup, Yah." Rendra berbohong. Dia tidak mau orang tuanya curiga kalau dirinya belum yakin sepenuhnya untuk melamar Cacha.


"Kamu sudah yakin dengan perasaanmu 'kan, Ren?" tanya Nirlama curiga. Rendra tidak menyahut, hanya diam, tetapi sesaat kemudian dia mengangguk mengiyakan.


Sekelebat bayangan saat sedang berciuman dengan Anisa, terputar kembali dalam ingatan Rendra. Dengan perlahan Rendra mengusap bibirnya. Rasanya dia ingin menikmati ciuman itu lagi. Bibir yang terasa manis dan begitu candu.


"Eh iya, Ren. Bagaimana kinerja Anisa di kantor? Apa dia bisa diandalkan?" tanya Bastian memecaha keheningan di dalam mobil.


"Sangat bisa, Yah. Kerja dia sangat bagus, padahal Rendra awalnya masih ragu," jawab Rendra, lelaki itu terlihat begitu bersemangat.


"Syukurlah. Bapaknya Anisa menitipkan dia sama ayah. Menyuruh ayah untuk bilang padamu supaya tetap menjaga Anisa. Ya, meskipun kalian tidak jadi menikah." Suara Bastian terdengar begitu berat.


"Pasti, Yah. Rendra akan menjaga Anisa dengan baik." Rendra menjawab dengan sangat yakin. Bastian tersenyum simpul saat mendengarnya.


"Ibu sangat berharap Anisa bisa mendapat jodoh lelaki yang baik. Ibu sudah anggap dia seperti anak ibu sendiri." Nirmala bicara penuh harap. Kedua lelaki di dalam mobil hanya mengamini.


Nirmala menghela napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Padahal aku sangat berharap Rendra akan menikah dengan Anisa, bukan Cacha. Ya, walaupun mereka berdua sama-sama gadis yang baik.