
Beberapa bulan kemudian
"Mas!" Cacha berjalan cepat mendekati suaminya saat melihat kepulangan lelaki itu. Mike menaruh koper secara sembarang lalu berlari menyambut sang istri.
"Jangan lari-lari, Neng. Kamu membuatku khawatir." Mike memeluk Cacha dengan erat dan merasa bersyukur karena istrinya baik-baik saja.
"Aku merindukanmu." Suara Cacha terdengar parau. Hampir satu bulan Cacha berada di Indonesia, dan dirinya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya. Bukannya Mike tidak berkunjung, tetapi lelaki itu sibuk menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa cuti lama menemani sang istri lahiran.
"Hallo, Sayang. Kamu sehat?" Mike berjongkok dan mencium perut Cacha yang sudah sangat membuncit dan turun.
"Sehat, Pa." Cacha menjawab dengan suara khas anak kecil yang membuat Mike semakin merasa gemas.
"Bagaimana dengan Nadira?" tanya Mike yang saat ini sudah berdiri tegak lagi.
"Katanya sudah mulai mulas-mulas. Mereka baru saja ke rumah sakit," sahut Cacha.
"Kamu ingin menyusulnya?" Mike memberi penawaran. Namun, Cacha menggeleng cepat.
"Aku mau di rumah dulu. Kamu baru saja pulang dan harus banyak istirahat." Cacha menggandeng tangan suaminya dan mengajaknya ke kamar. Mike tidak berkata apa pun dan hanya mengikuti langkah kaki istrinya.
Sesampainya di kamar, mereka berdua merebahkan tubuh dan tidur saling bersebelahan. Mike memeluk Cacha dengan sangat erat karena rasa rindu yang begitu menggebu-gebu.
"Mas, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Cacha terlihat ragu. Mike menatap istrinya dengan lekat.
"Apa, Neng?" tanya Mike tidak sabar.
"Mas, Patricia meminta tinggal di Indonesia karena dia ingin dekat dengan Bobby dan lainnya," ucap Cacha. Mike terdiam untuk sesaat.
"Aku tidak bisa jauh dari Patricia. Hanya dia yang kita punya saat ini." Mike menghela napas panjang. Jujur, terkadang dia merasa gelisah saat Cacha merindukan keluarganya yang ada di Indonesia.
"Akan aku pikirkan nanti. Lebih baik untuk waktu saat ini kita fokus saja pada kelahiran buah hati kita." Mike mengusap perut istrinya dengan penuh sayang dan taklupa mendaratkan ciuman di kening wanita itu.
***
Nadira sudah berada di ruang bersalin dan mulai merasakan sering kontraksi. Karena baru pembukaan empat, Dokter Angel menyuruh Nadira untuk berjalan santai supaya pembukaan itu lekas naik. Nathan pun dengan setia mengikuti ke mana istrinya berjalan. Bahkan lelaki itu dengan telaten menyuapi wanita itu.
Nathan segera mengusap punggung bawah belakang Nadira saat wanita itu menunduk sembari memegang pinggiran kursi dengan erat karena kontraksi yang kembali datang. Setelah dua menit berlalu, Nadira kembali berdiri tegak.
"Kamu masih kuat, Beb?" tanya Nathan cemas.
"Masih." Nadira meringis saat merasakan perutnya kembali sakit.
"Beb, setelah bayi ini lahir, kita tidak usah punya anak lagi. Dua anak cukup seperti program pemerintah." Nathan berbicara dengan yakin, Nadira pun menatap lekat suaminya.
"Kamu yakin, Mas?" tanya Nadira tidak percaya. Nathan mengangguk dengan cepat.
"Aku tidak ingin melihatmu kesakitan lagi seperti ini." Nathan menangkup wajah Nadira lalu menciuminya dengan gemas.
"Tapi, Mas, kalau ternyata anak kita laki-laki bagaimana?" Nadira bertanya lagi. Wajahnya tampak begitu lesu.
"Tidak apa. Yang terpenting kamu dan bayi kita sehat, selamat. Apa pun jenis kelaminnya, aku pasti akan sangat menyayanginya." Bibir Nadira tersenyum lebar saat mendengar ucapan Nathan yang mampu meneduhkan hatinya.
Nathan mencium bibir Nadira dengan sangat lembut, Nadira pun membalasnya. Mereka lupa kalau saat ini sedang berada di rumah sakit. Kegiatan mereka terjeda saat Mila berdeham keras. Nathan menoleh ke arah Johan dan Mila dengan senyum tanpa dosa.
"Hehehe, biar enggak tegang, Bun. Cukup Othong aja yang tegang."
"Mas!"