
Empat bulan kemudian
Ara dan Febian juga keluarga Ardian, duduk cemas di depan ruang bersalin saat menunggu Leona yang sedang berjuang melahirkan bayinya. Padahal sudah hampir dua jam di dalam, tetapi belum terdengar tangisan bayi sama sekali.
"Mas, kenapa tangisan cucu kita belum terdengar juga?" Dinara merasa begitu cemas dengan putrinya.
"Kita harus bersabar dan berdoa. Putri kita masih berjuang di dalam sana." Ardian berusaha menenangkan meski dalam hati dia juga merasa sangat khawatir.
Benar saja, selang beberapa saat terdengar tangisan bayi dari dalam. Mereka pun mengucap syukur dan semakin tidak sabar menunggu sampai mereka benar-benar diperbolehkan masuk.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya dokter menyuruh mereka untuk masuk dan melihat cucu pertama dari Ardian dan Dinara. Ara mencium pipi sahabatnya dan tak lupa mengucapkan selamat.
"Le, apa rasanya sangat sakit saat melahirkan?" tanya Ara takut.
"Tentu saja. Tapi setelah anak kita lahir, rasa sakitnya langsung menghilang begitu saja," sahut Leona.
"Sayang, aku yakin anak kita pasti akan lahir dengan sehat dan selamat. Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu." Febian memeluk Ara dari belakang dan mengusap perut istrinya yang sudah mulai terlihat membesar.
"Le, kamu sudah siapkan nama untuk putramu?" tanya Ardian mengalihkan pembicaraan. Leona dan Bara mengangguk mengiyakan.
"Siapa namanya?" tanya Dinara tidak sabar.
"Edward William." Bara menjawab.
"Wah, nama yang sangat bagus." Ardian memuji.
Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan pada pintu ruangan yang terbuka dan Erlando masuk dengan langkah lebar. Erlando melirik Febian yang masih memeluk Ara dengan erat. Namun, saat Febian juga menatap ke arahnya, Erlando segera mengalihkan pandangan kepada adiknya.
"Selamat, Le." Erlando mengecup kening Leona dengan penuh sayang.
"Makasih, Kak. Kak Er ke sini sendiri?" tanya Leona saat tidak melihat siapa pun selain kakaknya.
"Ya, doakan kakak bisa pulang membawa kakak ipar untukmu," ucap Erlando.
"Apa orangnya dia?" tanya Leona, tetapi Erlando justru diam. Leona memang sengaja tidak menyebut nama Jasmin karena tidak mau menyinggung perasaan Ara. Sementara Febian merasa penasaran, entah mengapa dia merasakan sesuatu terjadi di antara Erlando dan Febian. Namun, Febian mencoba untuk tidak tahu apa pun.
***
Di sebuah cafe, Febian dan Erlando duduk bersama dengan dua cangkir kopi hitam tersaji di depannya. Dua lelaki itu masih sama-sama diam dan menyelami pikiran masing-masing. Febian pun menatap lekat Erlando yang tampak begitu muram.
"Er, apa yang akan kamu katakan?" tanya Febian memecah keheningan. Rasanya dia sudah jengah sedari tadi hanya diam saja tanpa membicarakan apa-apa.
"Bi, kalau seandainya aku menyerah mendapatkan hati Jasmin, bagaimana menurutmu?" tanya balik Erlando. Febian menatap Erlando dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Suara Febian meninggi. Namun, saat Erlando menatapnya lekat, Febian menjadi sangat gugup.
"Entahlah, Bi. Rasanya aku ingin menyerah saja. Sudah cukup aku berjuang selama ini mendapatkan hati Jasmin." Suara Erlando terdengar berat. Bahkan raut wajah lelaki itu terlihat sangat tidak bersemangat.
"Apa ada sesuatu dengan Jasmin?" Febian merasakan hatinya kembali berdenyut saat menyebut nama wanita yang pernah mengisi hatinya. Dia memang sudah tidak mencintai wanita itu, tetapi segala kenangan yang pernah tercipta masih meninggalkan sisa cinta di hati Febian meski tinggal sedikit.
"Er, aku sudah mencintai Ara, dan hanya dia untuk saat ini dan selamanya untukku. Tidak ada wanita lain termasuk Jasmin di hatiku," ucap Febian tegas.
"Aku tahu itu. Tapi, Jasmin sangat mencintaimu, Bi. Semua usaha yang aku lakukan selama ini semua terasa percuma." Erlando menghela napas panjang dan mengembuskan secara perlahan.
"Tidak ada perjuangan yang sia-sia, Er. Mungkin memang waktunya saja yang belum tepat. Aku yakin kalau Jasmin bisa mencintai lelaki sebaik dan sepenyabar dirimu." Febian menepuk pundak Erlando untuk menenangkan.
"Aku tidak yakin, Bi. Saat ini dia justru mengusirku, dia bilang untuk meyakinkan perasaannya," kata Erlando.
"Mungkin dia hanya sedang butuh waktu untuk mengetahui bagaimana perasaannya padamu. Bersabarlah sebentar lagi, Er. Aku tidak ikhlas kalau Jasmin bersama lelaki lain, selain dirimu. Hanya kamu yang kupercaya untuk menjaganya." Febian memijat pelipisnya.
"Bi, jujurlah padaku. Apa kamu masih mencintai Jasmin?" tanya Erlando penuh selidik. Namun, Febian justru tidak menjawab sama sekali. "Katakanlah dengan jujur, Bi."
"Jujur ...." Febian kembali terdiam sesaat. "Aku masih memiliki sedikit perasaan untuk Jasmin, tapi hanya sedikit. Mungkin hanya sepuluh atau bahkan lima persen. Selebihnya, hatiku sudah menjadi milik Ara. Dialah wanita yang kusayang saat ini." Febian mengusap cangkir berisi kopi, lalu menyeruput dengan perlahan.
"Menurutmu aku harus bagaimana? Hatiku sudah terlalu lelah untuk terus berjuang tanpa dipandang." Erlando terlihat begitu frustrasi.
"Bersabarlah sebentar lagi, Er. Kebahagiaan yang indah sudah menantimu di ujung perjuangan yang kamu lakukan selama ini." Febian bangkit berdiri.
"Biβ"
"Aku pulang dulu, Er. Istriku sudah menunggu di rumah." Febian menepuk pundak Erlando sebelum akhirnya pergi dari sana. Erlando pun hanya menatap punggung Febian yang perlahan menjauh dari pandangan.
"Andai kamu tahu ucapan Jasmin yang begitu menyakiti hatiku, mungkinkah kamu akan menyuruhku untuk tetap bersabar?" gumam Erlando diiringi helaan napas panjang.
***
Selama mengendarai mobil, Febian tidak bisa fokus karena pembicaraan tentang Jasmin tadi sangat mengusik pikirannya. Dia merasa sangat khawatir kalau sampai Erlando menyerah pada perasaannya. Dia takut Jasmin akan kembali mendapatkan lelaki salah yang justru akan semakin membuat hidup wanita itu menderita.
"Aagghhh! Araaa!" Febian membanting setir ke arah kiri untuk menghindari mobil truk yang sedang menyalip dari arah depan. Beruntung, mobil itu bisa berhenti tanpa menabrak apa pun. Napas Febian terdengar memburu, bahkan dia mencengkeram setir kemudi dengan kuat untuk menyalurkan ketakutannya. Beberapa saat kemudian, syaraf di tubuh Febian terasa melemah, dan kepala Febian tergeletak lemas di atas setir kemudi.
"Ara, maafkan aku sudah memikirkan wanita lain."
Hati Febian merasa tidak nyaman. Dia merasa ini adalah tamparan untuknya. Karena dia adalah pria yang sudah beristri bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, tetapi dia justru memikirkan wanita lain. Wanita yang pernah membuat luka di hatinya. Bahkan luka itu saja masih membekas sampai sekarang.
"Huh!" Febian menghirup napas dalam-dalam. "Aku harus meminta maaf dengan istriku setelah ini." Febian pun kembali melajukan mobilnya. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera memeluk Ara.
π¦π¦π¦
Ciee yang udah deg-degan mau tamat. Semoga Ara baik-baik saja waktu lahiran nanti ya
semoga Happy Ending ya
tapi Entahlah....
Othor enggak yakin ππ