Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
270


Mobil yang dikendarai Febian melaju membelah jalanan yang tampak lengang. Mereka memang sengaja langsung pulang karena besok pagi masih harus bekerja dan Febian akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum dirinya menikah. Selama dalam perjalanan, Ara terus saja diam sembari menatap keluar jendela. Dia masih belum sepenuhnya percaya dengan semua ini. Rasanya seperti mimpi.


"Kenapa kamu melamun?" tanya Febian menyadarkan Ara dari lamunannya.


"Tuan, apa Anda yakin dengan semua ini?" tanya Ara bimbang.


"Aku sangat yakin." Ara menghela napas panjang ketika mendengar ucapan Febian.


"Tapi, Tuanโ€”"


"Kamu tenang saja. Kita akan menikah hanya dihadiri keluargaku saja, dan pesta pernikahan baru akan digelar sekitar tiga bulan lagi. Apa kamu keberatan?" Febian menoleh sekilas kepada Ara.


"Tidak sama sekali, Tuan. Saya justru senang kalau pernikahan kita benar-benar tertutup dan saya tetap menjadi karyawan Anda," ucap Ara diiringi helaan napas panjang.


"Sekarang kamu mau pulang ke rumah sakit atau ke kosan?" tanya Febian saat mereka sudah sampai Bandung.


"Rumah sakit saja. Saya pengen di dekat bapak." Ara menyandarkan tubuhnya di sofa karena dia merasa begitu lelah. Febian tidak lagi menyahut, dan kembali fokus pada setir kemudinya.


***


Ara udah bersiap berangkat ke kantor setelah sebelumnya dia menyuapi sang ayah terlebih dahulu. Tak lupa, Ara menyalami dan mencium pipi ayahnya lalu menyuruh perawat yang sudah dikhususkan menjaga untuk masuk ke ruangan. Setelah itu, Ara pun bergegas untuk menunggu kendaraan umum karena setengah jam lagi sudah masuk jam kantor.


Baru saja keluar dari area rumah sakit, langkah Ara terhenti saat sebuah mobil merah melaju ke arahnya dan berhenti tepat di sampingnya. Ara melihat mobil itu dengan seksama karena terasa asing untuknya. Namun, saat baru setengah kaca mobil terbuka wajah Ara mendadak gugup.


Ara begitu terpesona saat melihat Febian yang tampak gagah dengan setelah jas juga kecamata hitam yang semakin membuat lelaki itu terlihat tampan. Febian tersenyum lebar saat melihat Ara yang terpaku pada posisinya.


"Ehem!"


Ara tergagap, "Tu-Tuan," panggilnya terbata.


"Masuklah, kita berangkat bersama," suruh Febian, tetapi Ara menggeleng cepat.


"Saya berangkat sendiri saja, Tuan. Saya tidak mau menjadi bahan gosip." Ara menolak lembut karena tidak mau menyinggung Febian.


"Baiklah. Setelah ini tunggu surat pemecatan untukmu." Febian berbicara dengan santai, tetapi penuh ancaman. Dengan langkah lebar Ara berjalan ke pintu sebelah dan segera duduk di kursi belakang.


"Aku bukan sopirmu kalau kamu ingat," sindir Febian, mengurungkan Ara yang hendak duduk di sana.


"Lalu saya harus duduk di mana, Tuan?" tanya Ara berusaha menahan rasa kesal.


"Bukankah kamu lihat kalau kursi di sebelahku kosong?" Febian menarik sebelah sudut bibirnya, dan Ara mengembuskan napas kasar. Tanpa membuka suara, Ara segera beralih duduk di samping Febian. Setelah memastikan Ara duduk dengan baik, Febian segera melajukan mobilnya menuju ke kantor.


Ketika mobil Febian memasuki area perusahaan, banyak karyawan yang menatap ke arahnya dengan kagum. Namun, mereka terkejut saat Ara keluar dari mobil bersama dengan lelaki itu. Termasuk Diska dan Sekar yang langsung merasa sangat geram saat melihatnya.


"Terima kasih setelah ini Anda akan membuat saya menjadi artis, Tuan." Ara berusaha menahan emosi saat melihat banyak pasang mata yang tertuju padanya. Dia yakin kalau sebentar lagi akan ada gosip yang menyebar.


"Aku tidak peduli, bukankah kamu ingat kalau seminggu lagi kita akan menikah? Kamu harus terbiasa dengan itu mulai sekarang." Febian berjalan santai meninggalkan Ara begitu saja, sedangkan Ara menendang udara untuk meluapkan kekesalannya.


Ara berjalan ke ruangannya tanpa peduli pada tatapan karyawan lain yang menatap curiga padanya. Dia akan bersikap masa bodoh mulai saat ini. Dengan segera dia mengambil sapu dan hendak mulai bekerja, tetapi tiba-tiba Diska masuk dan langsung menggebrak meja hingga membuat yang lainnya terkejut.


"Bagaimana bisa kamu berangkat bersama dengan Tuan Febian?" bentak Diska.


"Jangan berbohong!" Diska menatap Ara tajam, tetapi gadis itu tetap berusaha terlihat tenang.


"Aku tidak berbohong, Mbak." Ara berbicara meyakinkan.


"Jangan-jangan kamu naik ke ranjang Tuan Febian ya? Makanya dia bisa dekat denganmu."


Plak!


Ara meremas sapu yang dipegang setelah tanpa sadar menampar pipi Diska sampai membuatnya memerah. Tubuhnya meringsut saat melihat tatapan Diska yang penuh kilatan amarah.


"Berani sekali kamu menamparku!" Diska meradang dan balik membalas Ara. "Seharusnya kamu sadar kalau kamu hanyalah orang miskin yang tidak pantas bersanding dengan Tuan Febian! Kamu hanyalah orang kampung yang kebetulan saja bisa dekat dengan Nona Leona!"


Ara tidak menyahuti, hanya memegang pipinya yang terasa memanas. Ara hendak memilih pergi dari sana, tetapi Diska justru mendorong tubuh Ara sampai wajahnya menubruk meja dan darah segar keluar dari hidungnya. Ara meringis saat merasakan nyeri yang cukup hebat hingga membuat kepalanya berdenyut sakit.


"Kamu pantas mendapatkannya!" Diska tertawa puas.


"Ara!"


Tawa Diska berhenti dalam sekejap dan tubuhnya langsung bergetar hebat saat melihat Leona berlari masuk dan mendekati Ara yang saat ini sedang mengusap darahnya. Diska hendak pergi dari sana, tetapi baru saja berbalik, jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat Febian berdiri di ambang pintu dengan rahang yang sudah mengetat kuat.


"Tu-Tuan." Diska tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya keringat dingin yang semakin mengalir deras.


"Kamu baik-baik saja, Ra?" tanya Leona khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Le. Kapan kamu pulang? Aku sangat merindukanmu." Bibir Ara tersenyum, tetapi masih berusaha menghentikan darah yang terus saja keluar.


"Aku baru saja sampai. Ayo kita ke rumah sakit, darahmu masih terus mengalir." Leona menarik tangan Ara dan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Ketika melewati Febian, Ara hanya berani menunduk dalam karena dia melihat sorot mata Febian yang penuh amarah.


Selepas kepergian mereka, tatapan Febian ke arah Diska semakin menajam, "Berani sekali kamu melukai calon istriku!" murka Febian. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan itu. Mereka yang mendengar pun menjadi terkejut.


"Ca-calon istri?" tanya Diska tidak percaya.


Febian tidak menjawab, hanya menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis ke arah wanita itu. Dia merogoh saku jas dan menarik keluar benda pipih dari dalam sana. Setelahnya, dia menghubungi salah seorang anak buah untuk menangkap Diska.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu kalau Ara adalah calon istri Anda." Diska bersimpuh dan begitu meminta maaf.


"Walaupun dia bukan calon istriku, aku paling tidak suka jika ada karyawan biasa yang menindas karyawan lainnya. Memangnya kamu di sini siapa!" bentak Febian. Amarah lelaki itu belum surut sama sekali.


Tiba-tiba, ponsel Febian berdering dan dengan segera dia mengangkat panggilan itu saat melihat nama Leona tertera di layar. "Ada apa, Le?"


"Kak, Ara pingsan!"


Wajah Febian yang barusan dipenuhi amarah kini berubah cemas. Dia bergegas pergi begitu saja tanpa peduli pada banyak pasang mata yang masih tertuju padanya.


Thor, kaya drama ikan terbang. Kebentur meja aja langsung pingsan. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


dukungan kalian masih ditunggu terus gaes


masih ada dua bab nanti siang kalau enggak ketiduran ๐Ÿ™ˆ