
Tengah malam, Nathan terbangun saat merasakan tidur sang istri yang begitu gelisah. Dia membuka mata dengan paksa saat mendengar Nadira mengigau memanggil nama Davin dan Aluna.
"Kamu demam, Beb." Nathan beranjak bangun, dan keluar kamar. Melangkah lebar menuju ke dapur untuk mengambil air hangat dan handuk untuk mengompres.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, dia bergegas ke kamar, menaruh baskom kecil berisi air hangat di atas nakas. Dengan gerakan perlahan Nathan menepuk pipi Nadira untuk membangunkan wanita itu.
"Kak Nathan, mommy mana?" tanya Nadira lemah. Aliran darah Nathan terasa berdesir setelah mendengar pertanyaan istrinya.
"Kamu merindukan mommy?" tanya Nathan lembut. Tangannya mengusap kening Nadira, menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening itu.
Nadira mengangguk lemah, "Ya, daddy juga."
Nathan tersenyum paksa. Dia benar-benar tidak tega melihat istrinya yang wajahnya sudah sangat pucat. " Baiklah, kita akan menjenguk mereka setelah kamu sembuh. Sekarang kamu harus minum obat dan biarkan aku mengompresmu."
Nadira tidak menjawab, hanya mengangguk lemah sebagai jawabannya. Nathan pun segera mengambilkan satu butir obat untuk Nadira, lalu membantunya meminum tablet obat itu.
Setelah obat tersebut tertelan. Nadira kembali merebahkan tubuhnya, sedangkan Nathan memasukkan handuk kecil ke baskom yang berisi air hangat, memerasnya, lalu menaruh di kening Nadira untuk menurunkan demamnya.
"Kak Nathan tidur aja," suruh Nadira dengan lemah.
"Aku gemes sama kamu, kenapa selalu memanggil kakak sih." Nathan berpura-pura kesal, padahal dia hanya menggoda istrinya. Namun, Nadira hanya memejamkan mata karena rasa pusing yang mendera nya.
Dengan lembut, Nathan menggenggam tangan Nadira lalu menciumnya. "Cepatlah sembuh, Sayang."
"Terima kasih banyak, Kak. Sudah menyayangiku dengan sangat tulus." Nadira menatap dalam kedua netra milik Nathan.
Lelaki itu pun beralih merebahkan tubuhnya di samping Nadira, lalu memeluknya dengan sangat erat. "Sudah kewajibanku mencintaimu dengan tulus dan sungguh-sungguh."
Nadira kembali diam, merasakan pelukan suaminya yang terasa begitu nyaman hingga tanpa sadar, mereka berdua pun tidur saling berpelukan.
***
Mila yang baru saja selesai menyiapkan sarapan, segera menuju ke kamar Cacha untuk menyuruhnya sarapan. Tiga kali mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada satu pun sahutan dari dalam. Mila pun mencoba membuka pintu itu, dan kebetulan sekali pintu kamar itu tidak dikunci.
Mila melangkah masuk mendekati tempat tidur di mana Cacha masih asyik tidur bergelung selimut. Dengan perlahan, Mila mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, lalu mengusap puncak kepala putrinya dengan perlahan. Dia yakin, putrinya pasti sekarang sedang sedih karena kejadian semalam.
Merasa diusap, Cacha mengerjapkan kedua matanya. Dia menoleh, dan melihat Mila yang sedang duduk sembari tersenyum ke arahnya. Cacha berusaha bangkit, Mila pun membantunya.
"Bunda sudah dari tadi?" tanya Cacha saat sudah berada dalam posisi bersandar. Dia menguap karena rasa kantuk yang menyerangnya.
"Baru saja. Kamu tidur jam berapa? Tumben sekali sudah sesiang ini belum bangun?" tanya Mila, dia mengamati wajah putrinya yang tampak sayu dengan kantung mata yang terlihat jelas.
"Cacha enggak bisa tidur, Bun." Cacha bicara dengan begitu manja. Mila pun dengan gemas mengusap puncak kepala putrinya.
"Cucilah mukamu, setelah itu kita sarapan bersama. Ayah sudah menunggu." Mila beranjak bangun, dan hendak pergi dari sana, tapi Cacha segera menahannya.
"Bunda mau ke mana? Cacha sarapan di kamar aja, Bun." Cacha bicara dengan ragu. Dia sebenarnya masih enggan jika harus bertemu Nadira.
"Kenapa? Ayah meminta kalian sarapan bersama. Bunda mau ke kamar kakakmu dulu, sampai sekarang belum bangun. Bunda khawatir Nadira demam." Mila mencium puncak kepala Cacha, lalu pergi dari sana.
Sementara Cacha hanya menatap punggung Mila yang perlahan menjauh dari pandangan matanya. "Sebegitu sayangnya bunda dengan Nadira sampai sangat khawatir. Bukan hanya bunda, tapi hampir semua orang sangat menyayanginya.
Cacha mendengkus kasar. Kemudian, dia beranjak bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk cuci muka. Walaupun enggan, dia tetap harus sarapan bersama karena tidak mau membuat ayahnya marah.
Selang beberapa menit, pintu kamar terbuka, Nathan terlihat keluar dari balik pintu masih dengan menggunakan piyama dan muka bantal masih terlihat jelas di wajah tampannya.
"Kamu baru bangun?" tanya Mila.
"Iya, Bun. Semalam Nadira demam," sahut Nathan. Dia membuka pintu kamar lebih lebar dan membiarkan sang bunda masuk untuk melihat istrinya yang masih tertidur lelap.
"Sekarang sudah turun?" Mila terlihat begitu khawatir.
"Sudah, Bun." Nathan berjalan mengekor di belakang sang bunda.
Mila yang sudah sampai di tepi tempat tidur, langsung menempelkan telapak tangannya di kening Nadira untuk memastikan demam Nadira sudah turun.
"Syukurlah, sudah tidak demam." Mila menghembuskan napas lega. "Kamu tidak ke kantor, Nat?" tanya Mila saat melihat Nathan yang justru merebahkan tubuhnya di samping Nadira.
"Tidak, Nathan sudah pesan Zack, kalau ada hal penting baru Nathan akan ke kantor," sahut Nathan kembali memejamkan mata. Dia masih sangat mengantuk.
"Sarapanlah, Nat. Ayah sudah menunggu di bawah. Ayah ingin sarapan bersama." Mila bicara dengan lembut.
"Nanti saja, Bun. Kasihan Nadira kalau harus ditinggal sendiri."
Tepat ketika Nathan selesai berbicara, kelopak mata Nadira terlihat bergerak perlahan untuk terbuka. Bibir Nathan dan Mila tersenyum saat melihat Nadira yang membuka mata. Wajah wanita itu masih terlihat sedikit pucat.
"Eh, kok ada Bunda?" Nadira terkejut saat melihat Mila yang sudah berdiri tidak jauh dari tempat tidur.
"Kamu sudah mendingan?" tanya Mila lembut.
"Sudah, Bun. Tidak sepusing semalam." Suara Nadira terdengar begitu lirih.
"Kalau begitu, istirahatlah. Jangan lupa minum obat, biar bunda ambilkan sarapan untukmu," kata Mila.
"Jangan, Bun. Nadira ikut sarapan di bawah saja," timpal Nadira berusaha bangun.
"Beb," panggil Nathan. Tatapan matanya terlihat begitu khawatir, tapi Nadira menggeleng lemah.
"Aku baik-baik saja, Mas." Nadira tersenyum simpul.
"Biar aku temani kamu makan di kamar, ya," tawar Nathan. Namun, Nadira kembali menggeleng lemah. Akhirnya, mau tidak mau mereka membiarkan Nadira ikut sarapan di bawah.
Mila pun keluar kamar, sedangkan Nathan membantu Nadira membersihkan diri agar wajahnya tidak terlalu pucat. Nathan tidak sedikit pun menjauh dari istrinya, dia terlalu cemas, khawatir Nadira akan pingsan kalau dia tidak menjaganya. Padahal Nadira sudah lebih baik.
"Kamu sudah selesai?" tanya Nathan. Nadira menanggapi dengan anggukan. "Ayo, Beb. Aku akan menggendongmu." Nathan memasang kuda-kuda hendak menggendong Nadira di punggung.
"Aku masih bisa jalan." Nadira menolak tegas, tapi Nathan tetap memaksa.
"Aku gendong sampai bawah atau aku akan mengurungmu seharian penuh di kamar, bahkan bisa saja kita akan anu-anuan." Nathan berseloroh.
"Memang kamu tega, aku lagi sakit gini, digenjot terus?" tanya Nadira dengan tangan terlipat di dada.
"Tidak, sih." Nathan menunjukkan rentetan gigi putihnya. "Ayolah, Beb. Nanti ayah keburu marah." Nathan tetap saja memaksa. Nadira pun naik ke punggung Nathan dan mereka keluar kamar untuk sarapan.