
Kepulangan Ara disambut hangat oleh keluarga besar, termasuk ayah Ara yang sudah mulai sembuh seperti sedia kala. Akbar menangis haru saat melihat cucu pertama begitu juga dengan yang lain. Ara pun merasa sangat bahagia karena sudah mendapatkan keluarga baru yang luar biasa baik. Bahkan sangat menyayanginya.
"Sayang, tidurlah. Biar Shanum aku yang menjaga. Kasihan kamu semalam sudah begadang," suruh Febian, tetapi Ara menggeleng cepat.
"Aku masih ingin mengobrol denganmu, Mas." Ara menatap Febian dengan lekat. Febian tidak menjawab, hanya memangku Shanum dan mencium kening Ara penuh cinta.
"Mas, terima kasih sudah mencintaiku, sudah menyayangiku dengan tulus. Bahkan keluargamu sangat menerima dan begitu menganggapku padahal aku hanya orang biasa," ucap Ara.
"Aku mencintaimu, Sayang. Bagiku hanya kamu wanita terindah. Entah siapa dan bagaimana kamu, yang pasti aku tidak membuka hatiku untuk wanita lain lagi. Aku hanya ingin kamu yang menemaniku hari ini dan selamanya sampai maut memisahkan kita," sahut Febian.
"Aku juga mencintaimu, Mas." Ara dan Febian pun saling berciuman. Awalnya hanya sebuah kecupan, tetapi ciuman itu semakin lama semakin dalam. Bahkan, Ara mulai terbuai. Namun, tiba-tiba terdengar tangisan Baby Shanum. Ciuman itu pun terhenti, lalu mereka berdua sama-sama tergelak.
"Sepertinya Baby Sha tidak mau melihat kita bermesraan." Febian mencium kedua pipi putrinya penuh cinta.
Sementara itu di lantai bawah, Patricia sedang melipat tangan di depan dada dengan bibir yang terlihat mengerucut. Dia tampak kesal dan marah, sedangkan Mike dan Cacha hanya duduk di depannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Pa, Patricia tidak mau pulang ke Singapura. Patricia mau tinggal di Indonesia saja!"
"Bukankah kamu tahu kalau rumah papa ada di Singapura?" Mike berusaha menahan diri.
"Ya, tapi Patricia di sana kesepian, Pa. Di sini Patricia punya banyak teman." Patricia tetap bersikukuh.
"Sudahlah, Mas. Biarkan saja Patricia tinggal di sini sebentar."
"Ma! Patricia mau tinggal lama di sini bukan sebentar! Patricia mau sama Oma aja!" Patricia berlari menuju ke kamar Mila, sedangkan Cacha dan Mike hanya melihat kepergian putrinya.
"Mungkin karena terlalu lama di sini, dia tidak mau pulang." Cacha menghela napas panjangnya. Mike merangkul pundak Cacha dan mencium puncak kepala wanita itu.
"Mas, bagaimana kalau Patricia tinggal di sini bersama bunda dan ayah. Aku akan ikut kamu pulang ke Singapura." Suara Cacha terdengar begitu berat. Jujur, dia juga ingin tinggal di sini karena semua keluarganya berada di Indonesia. Namun, dia tidak tega meninggalkan suaminya sendirian di sana. Bagaimanapun juga dia adalah seorang istri yang harus taat dan berbakti pada suami.
"Neng, aku akan mengurus perusahaan dulu sebelum kita benar-benar tinggal di Indonesia," ucap Mike mengejutkan Cacha. Wanita itu menatap suaminya dengan penuh tanya.
"Biar Frans yang mengurus perusahaan milik keluarga Anderson. Dialah yang lebih tahu tentang semuanya. Kita bisa sebulan sekali datang ke sana. Lagi pula, selama ini aku kasihan sama kamu yang begitu kesepian."
"Tapi, Mas ...."
"Sudah, keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Besok pagi aku akan pulang untuk mengurusi semuanya. Kita bisa menetap di sana lagi saat putra-putri kita sudah besar." Mike mengeratkan rangkulannya dan mencium pipi istrinya berkali-kali.
"Mas, terima kasih banyak." Cacha mengusap air mata yang hendak menetes dari kedua sudut matanya.
"Jangan menangis," ucap Mike lembut.
"Selama ini kamu sudah menyayangiku dengan sangat tulus. Selalu mengusahakan apa pun yang terbaik dan menuruti semua keinginanku. Aku tidak bisa membalas semuanya, Mas."
"Sudah kewajibanku untuk menjaga dan melimpahimu dan anak-anak kita dengan kasih sayang penuh. Tanpa kalian hidup kita tidak akan pernah bisa bahagia."
"Aku mencintaimu, Mas," ucap Cacha lembut.
"Aku juga mencintaimu, Neng." Mike mencium bibir istrinya untuk menyalurkan segala rasa rasa sayang yang dia punya untuk istrinya. Mereka pun saling berciuman mesra.
"Papa dan mama aku lupa tutup mata!"
Teriakan Patricia berhasil menghentikan ciuman itu. Cacha dan Mike tertawa saat melihat putrinya lari terbirit-birit.
"Kenapa selalu anak-anak yang menganggu. Membosankan!"
Othor bilang, "Kamu bilang apa, Mike? Membosankan? Kuceraikan kamu dengan Cacha, mau?"
Mike menangkup tangan di depan dada, wajahnya tampak begitu memelas. "Ampun, Thor. Hidup dan mati, sedih dan bahagiaku ada di tanganmu. Terima kasih sudah menjadi Othor yang terbaik untuk kita."
masih satu bab lagi, jangan bosen dulu ๐๐