Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
262


Erlando hampir seharian menemani Jasmin dan membiarkan wanita itu untuk beristirahat, sedangkan dirinya menemani Aruna. Dengan penuh kelembutan, Erlando sedari tadi mengajak Aruna mengobrol dan bocah kecil itu langsung akrab dengannya.


"Ternyata kamu sangat pintar." Erlando mengusap puncak kepala Aruna dengan penuh sayang. Aruna tidak menjawab, hanya tersenyum lebar dengan menunjukkan rentetan gigi putihnya. "Kalau begitu istirahatlah, kalau sudah sembuh om janji akan beliin kamu es krim vanila satu box besar."


"Janji?" tanya Aruna dengan menunjukkan wajah imutnya.


"Tentu saja."


Wajah Aruna berbinar bahagia saat mendengar jawaban Erlando. Bahkan gadis itu terlihat begitu sehat. Jasmin yang melihat itu pun tak henti mengucapkan banyak terima kasih karena Erlando sudah mau menghibur Aruna yang begitu susah dekat dengan orang asing.


"Jas, selama di sini kamu menginap di mana?" tanya Erlando.


"Di hotel dekat rumah sakit ini, Er."


"Bagaimana kalau kamu tinggal bersamaku dulu sampai pernikahan Leona selesai. Aku akan membantumu merawat Aruna," tawar Erlando. Jasmin menatap lelaki itu dengan tidak percaya.


"Aku tidak mau merepotkanmu, Er." Jasmin menolak cepat.


"Kamu tidak merepotkan sama sekali. Bukankah setelah selesai pernikahan Leona kamu akan kembali ke Singapura?" Kali ini, Jasmin tidak menyahut dan justru menatap Aruna dengan sendu.


"A-aku belum tahu, Er. Mungkin aku akan tinggal di Indonesia, tapi bukan di Bandung."


"Kenapa?" tanya Erlando menuntut jawaban. Namun, Jasmin hanya mengendikkan bahu dan tersenyum paksa.


"Kalau begitu katakan padaku di mana kamu akan tinggal. Biarkan aku mencarikan sebuah rumah untukmu." Erlando kembali memberi penawaran, tetapi kali ini Jasmin menggeleng cepat.


"Terima kasih atas kebaikan kamu, Er. Apakah kamu tidak bekerja?" tanya Jasmin setengah mengusir karena sudah merasa tidak begitu nyaman berada satu ruangan dengan Erlando dalam waktu yang cukup lama.


"Aku sedang bebas tugas hari ini, tapi aku akan pulang dulu. Besok pagi aku akan menjemput kalian. Semoga Aruna lekas sembuh." Erlando berpamitan karena dia tahu ketidaknyamanan yang Jasmin rasakan. Setelah wanita itu mengiyakan, Erlando pun segera keluar dari ruangan tersebut.


"Kenapa dari dulu kamu selalu baik padaku, Er." Jasmin menatap pintu ruangan yang sudah tertutup dengan perasaan yang susah dijelaskan.


***


"Kak Bi, ayolah antar aku." Leona merayu, tetapi Febian bersikap tidak peduli.


"Kamu bisa minta ditemani Bara, Le. Atau pakai mobil sendiri, jangan manja!" timpal Febian dengan santai.


"Astaga, jangan pura-pura lupa kalau aku lagi dipingit, Kak. Di-pi-ngit!" kata Leona kesal. Dia hanya meminta Febian mengantar ke butik, tetapi lelaki itu sedari tadi terus saja menolak. "Lagian, Kak Bi tahu 'kan kalau mobilku mogok."


"Kata siapa? Montir sudah selesai memperbaiki mobilmu." Febian masih saja bersikap santai.


"Huh!" Leona mengembuskan napas kasar. "Kalau begitu, antar aku mengambil mobil saja dan aku akan ke butik sendiri." Leona akhirnya mengalah. Febian pun setuju. Dia keluar ruangan dengan diikuti Leona di belakang. Sesampainya di lantai bawah, Leona menyuruh Febian untuk menunggu sebentar karena dia akan memanggil Ara.


"Apa yang kamu lakukan, Ra?" tanya Leona saat memasuki ruangan dia melihat Ara yang masih membersihkan ruangan itu. Leona merebut kain lap pel yang sedang dipegang Ara dan membuangnya secara sembarang.


"Aku masih harus membersihkan ruangan ini sampai benar-benar bersih." Ara menjawab sembari mengusap keringat yang membasahi kening bahkan sampai leher.


"Siapa yang menyuruhmu? Jam kantor sudah selesai, Ra!" seru Leona.


"Tapi aku belum boleh pulang sebelum ruangan ini benar-benar bersih." Ara menjawab jujur. Leona menatap sahabatnya dengan penuh selidik.


"Mb-Mbak Diska." Ara menjawab dengan sangat gugup. Embusan napas kasar terdengar keluar dari mulut Leona.


"Apa seharian ini dia menindasmu?" Ara hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Baiklah, kalau begitu sekarang lebih baik kita pulang. Aku akan mengajakmu ke butik untuk melihat gaun pengantinku."


Leona menarik tangan Ara dan mengajaknya pergi dari sana. Mereka keluar gedung dan berjalan menuju ke parkiran karena Febian sudah menunggu di dalam mobil. Leona duduk di depan, sedangkan Ara duduk di kursi belakang.


"Kenapa lama sekali?" protes Febian kesal.


"Karyawan barumu itu sangat rajin, Kak. Bahkan dia masih bekerja di saat hampir semua karyawan sudah pulang," sindir Leona. Kening Febian mengerut, tetapi dia bisa melihat wajah Ara yang begitu kelelahan bahkan terlihat sedikit pucat.


"Lain kali jika sudah waktunya pulang, kamu harus menghentikan pekerjaanmu," ucap Febian. Ekor matanya kembali melirik Ara dari kaca depan.


"Ya, dan semua karyawan sudah memiliki tugas masing-masing, jadi kamu jangan pernah mau jika disuruh mengerjakan pekerjaan orang lain," imbuh Leona.


"Ba-baik." Ara hanya mengiyakan.


Setelah itu, Febian melajukan mobilnya menuju ke butik langsung untuk mengantar mereka. Melihat wajah lelah Ara, Febian menjadi begitu tidak tega.


"Berhenti dulu sebentar, Kak. Aku beli sesuatu dulu."


Febian menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket, Leona pun segera turun dari mobil. Setelah kepergian sepupunya, Febian menatap Ara yang ketiduran. Wajah cantik tanpa make up sedikit pun membuat Febian menjadi begitu terpikat saat menatapnya.


Saking asyiknya menatap wajah cantik Ara, membuat Febian tidak menyadari kalau Leona sudah kembali masuk ke dalam mobil. Gadis itu terkekeh saat melihat sepupunya.


"Ehem!" Leona berdeham keras untuk menyadarkan Febian, tetapi Ara justru ikut terbangun.


"Sejak kapan kamu kembali, Le?" tanya Febian heran.


"Sejak seorang pangeran begitu terpikat dengan putri tidur," sindir Leona diiringi senyum meledek.


"Maaf aku ketiduran, Le." Ara justru merasa tidak enak setelah mendengar ucapan Leona.


"Aku tahu kamu kelelahan, Ra. Lebih baik kamu tidur lagi dan aku akan membangunkanmu saat sudah sampai butik," suruh Leona, tetapi Ara menggeleng cepat. Mereka pun akhirnya memilih diam dan Febian kembali melajukan mobilnya menuju ke butik.


Baru saja sampai di depan butik, ponsel Leona berdering. Gadis itu terlihat ragu untuk mengangkat panggilan saat melihat nama Jasmin tertera di layar. Namun, jika tidak diangkat dia khawatir ada sesuatu yang mendesak.


"Hallo," sapa Leona pada akhirnya. Febian dan Aran hanya terdiam dan menunggu.


"Le, kenapa kamu bilang ke Erla kalau Aruna di rumah sakit?" Suara Jasmin terdengar kesal.


"Memangnya Kak Erla sudah ke rumah sakit?"


Febian menajamkan pendengarannya, meski lelaki itu tetap menghadap ke arah depan.


"Ya, bahkan dia seharian di sini menemaniku."


"Tidak apa, Jas. Dia bukan orang sibuk, jadi biarkan dia menjadi temanmu di rumah sakit biar kamu tidak jenuh."


Leona menepuk bibirnya karena merasa telah salah berbicara. Dia bisa melihat rahang Febian yang mengetat dan tangannya mencengkeram setir kemudi dengan erat, sedangkan Ara hanya menatap bingung.