Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
284


Leona tersenyum senang setelah melihat wajah Hendra yang penuh dengan bekas pukulan. Dia merasa sangat puas, sedangkan Febian mengamati lelaki itu dengan seksama. Hendra pun menelisik wajah Febian. Namun, sesaat kemudian dia termangu saat menyadari siapa yang berdiri di depannya saat ini.


"Bukankah Anda adalah Tuan Muda Alexander pemilik Alexander Group cabang Bandung?" tanya Hendra memastikan.


Febian tersenyum miring, "Ternyata kamu mengenaliku. Bagus sekali!"


"Saya tidak ada urusan dengan Anda, Tuan!" kata Hendra berusaha melepaskan diri.


"Kamu sudah berani mengusik Ara, istriku, jadi aku akan memberimu peringatan!"


"Bagaimana bisa Anda menikahi Ara? Apa dia menjadi wanita penggoda untuk mendekati Anda, Tuan?" Kali ini, Hendra berusaha mengumpulkan keberaniannya. Febian maju dengan langkah lebar dan sorot mata yang penuh kilatan amarah. Setelahnya, dia memukul wajah Hendra dengan kencang tidak peduli meski darah segar sudah keluar dari hidung lelaki itu.


"Brengs*k! Aku menikahi Ara karena aku mencintainya, bukan karena dia menjadi wanita penggoda! Sekali lagi kamu berani menghina istriku maka aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" Amarah Febian yang sedari tadi ditahan akhirnya meluap. Ini pertama kalinya Febian bisa semarah itu. Bahkan kedua pengawalnya sedikit memundurkan tubuh mereka, sedangkan Leona tersenyum senang.


Ternyata Kak Bi sudah sangat mencintai Ara. Aku berharap kalian akan bisa hidup bahagia selamanya.


"Sudahlah, Kak. Kalau dia sampai mati, nanti Kak Bi masuk penjara dan kasihan Ara." Leona berusaha meredam amarah kakak sepupunya supaya tidak bertindak kebablasan. Febian mengembuskan napas kasar untuk mengurangi emosi yang menguasainya.


Sementara Hendra sudah terduduk lemas dengan menahan rasa sakit di seluruh wajah yang sudah penuh darah. Dia tidak menyangka kalau Ara akan menikah dengan salah satu keluarga Alexander.


"Kamu harus ingat! Jangan pernah sekalipun kamu mendekati istriku!" hardik Febian.


Salah satu seorang pengawal berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Febian. Senyum seringai terlihat jelas di bibir Febian. Hendra yang melihat itu hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Leona pun merasa heran karena dia juga tidak tahu apa yang dibisikkan oleh pengawal tersebut.


"Imelda mengkhianatimu?" sela Leona tak percaya. Namun, melihat Hendra yang hanya terdiam membuat Leona tergelak keras dan merasa begitu puas.


"Berhentilah menertawaiku!" seru Hendra kesal. Namun, Leona tidak peduli dan tetap tertawa terbahak.


"Kamu tahu, Hen. Aku merasa kamu adalah orang paling bodoh yang pernah kutemui. Kamu rela meninggalkan wanita sebaik Ara hanya untuk wanita sampah seperti dia!"


"Siapa yang kamu bilang sampah?" Suara dari arah belakang berhasil mengejutkan mereka.


"Imel," panggil Hendra dan Leona bersamaan. Mereka tidak percaya melihat Imelda masuk ke ruangan dengan tangan terikat dan dijaga dua orang anak buah Febian.


"Lepasin aku!" Imel berusaha meronta. Hendra yang melihat Imelda merasa begitu geram dan berusaha keras melepaskan ikatan talinya.


"Saya mohon lepaskan aku, Tuan! Aku harus memberi pelajaran untuk pengkhianat seperti dia!" Hendra menatap penuh benci ke arah Imelda yang juga tidak takut sama sekali. Sementara Febian justru melipat tangan di depan dada dan tersenyum sinis ke arah mereka.


"Kamu pikir aku berkhianat karena siapa? Kamu! Kamu menikah denganmu, tapi di otakmu dan hatimu hanya ada Ara!" Imelda pun menatap penuh benci ke arah Hendra.


"Kalau kamu tidak menghasut dan menggodaku, aku pasti sudah menikah dan hidup bahagia dengan Ara!" balas Hendra. Ucapan Hendra berhasil menyulut emosi Febian kembali. Hatinya terasa begitu memanas saat mendengar ucapan Hendra.


"Kalian beri pelajaran untuk mereka dan pastikan tidak akan ada dari mereka yang mendekati apalagi mengusik kehidupan istriku!" titah Febian. Dia memilih pergi dari ruangan itu karena takut tidak bisa mengendalikan diri.