Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
260


Setelah selesai membersihkan diri, Febian memakai setelah kerja lalu menatap tampilan dirinya di cermin dan memastikan kalau semua benar-benar sudah rapi. Kemudian, dia bergegas keluar apartemen dan pergi menuju ke kantornya. Baru saja duduk di balik setir kemudi, ponsel Febian terasa bergetar. Dia segera mengambilnya dari dalam saku celana. Embusan napas kasar terdengar tatkala melihat nama Leona tertera di layar.


"Kak Bi! Jemput aku!" Suara Leona begitu melengking hingga membuat Febian menjauhkan ponselnya.


"Bisakah kamu jangan berteriak, Le! Kamu sangat menyebalkan!" cebik Febian kesal.


"Kak, mobilku mogok. Jemput aku ya." Leona berbicara dengan sangat manja.


"Le, kenapa kamu tidak minta diantar Mas Bara saja?" tanya Febian dengan berusaha menahan tawa.


"Jangan nyebelin! Ingat, Kak. Aku ini sedang dipingit, enggak boleh ketemu dulu."


"Alasan! Kamu di mana sekarang?" tanya Febian pada akhirnya. Setelah Leona mengatakan di mana posisinya saat ini, Febian segera mematikan panggilan itu lalu melajukan mobilnya untuk menjemput sepupu yang sangat menyebalkan baginya.


***


"Kak Bi! Kak Bi!"


Leona berteriak saat melihat mobil Febian yang melaju mendekat dan berhenti tepat di depannya. Febian keluar dari mobil dengan raut wajah yang tampak begitu kesal.


"Le, bisakah kamu tidak bertingkah seperti anak kecil? Ingatlah sebentar lagi kamu akan menikah!" protes Febian. Leona hanya menunjukkan senyum termanisnya juga dua jari tanda damai.


"Sudah ayo masuk! Jangan sampai kita terlambat," ajak Febian hendak kembali masuk ke mobil.


"Tunggu sebentar, Kak. Ara!" teriak Leona. Febian terdiam saat mendengar nama yang tidak begitu asing baginya. Lelaki itu semakin bungkam saat melihat gadis yang ditolongnya semalam kini sedang berjalan mendekat.


Jujur, Febian merasa terpesona dengan gadis yang saat ini memakai setelah baju kemeja rapi, dengan rambut yang dikucir kuda. Begitu terlihat seperti wanita yang sudah dewasa.


"Tuan," sapa Ara sopan. Tubuhnya sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.


"Kamu?" tanya Febian bingung.


"Kak Bi, terima kasih semalam sudah membantu Ara. Hari ini dia mulai bekerja di perusahaan Kak Bi sebagai Office Girl." Leona menjelaskan. Namun, Febian hanya terdiam menatap lekat wajah Ara yang saat ini sedang tersenyum simpul. Leona yang melihat itu hanya berdeham untuk mengalihkan perhatian lelaki itu.


"Kalau begitu ayo masuklah." Febian pun masuk disusul dua gadis itu.


Kalau memang Kak Bi pada akhirnya jatuh cinta dengan Ara. Aku akan merasa sangat bahagia, tapi bagaimana dengan Kak Jasmin?


Leona menghela napas panjangnya dan menatap keluar jendela sampai akhirnya mobil yang dikendarai Febian masuk ke area perusahaan. Setelah mobil itu terparkir, mereka bertiga segera turun dan masuk ke kantor.


"Kak, aku ngantar Ara dulu." Leona meminta izin, Febian hanya mengangguk lalu membiarkan dua gadis itu pergi ke ruang belakang, sedangkan Febian masuk ke lift untuk menuju ke ruangannya.


Ara kembali terpukau saat melihat gedung perkantoran berlantai dua puluh itu. Maklum saja, di kampung rumah berlantai tiga saja sudah terlihat sangat menakjubkan. Leona tersenyum saat melihat raut wajah sahabatnya itu.


"Ara, ini ruangan khusus untuk office girl dan office boy. Nanti kamu berbagi tugas dengan mereka. Kalau kamu bingung, jangan sungkan untuk bertanya pada mereka atau padaku juga boleh. Nanti kita makan siang bersama," ucap Leona yang membuat beberapa karyawan di sana menatap heran.


"Terima kasih banyak, Le. Aku akan berusaha bekerja dengan baik dan tidak mengecewakanmu."


Leona pun berpamitan kembali ke ruangannya dan tak lupa mengatakan kepada karyawan yang lain. Selepas kepergian Leona, Ara begitu terheran melihat raut wajah dua karyawan lain yang berubah datar dan terlihat sangat tidak bersahabat kepadanya.


"Kamu siapanya Nona Leona?" tanya gadis berambut sebahu dengan sebuah jepitan kupu-kupu di sisi kiri.


"Saya teman baik Leona, Mbak." Ara menjawab sopan.


"Wah, pantesan. Kurang ajar sekali kamu memanggil Nona Leona tanpa embel-embel. Padahal seharusnya kamu bersikap sopan karena di sini kamu hanyalah seorang bawahan," cibir yang satunya.


"Meskipun kamu teman baik, kamu harus sadar posisi kamu di kantor ini. Ingat juga kalau kamu itu hanya junior dan kita senior. Jadi, kamu harus tunduk juga kepada kita!" ucap mereka tegas.


"Baik, Mbak. Saya minta bimbingannya." Ara membungkuk hormat dengan senyum yang tidak memudar sama sekali. Gadis itu tidak merasa sakit hati sama sekali karena dia sudah terbiasa mendapatkan perkataan yang lebih kasar dari itu.


"Kalau begitu, tugasmu sekarang menyapu lantai satu sampai lima," suruh mereka. Ara pun mengiyakan lalu mengambil sapu dan bersiap hendak melakukan tugasnya. Namun, baru saja sampai di ambang pintu, salah satu seorang di antara mereka memanggil dan menyuruh kembali.


"Buatkan kopi untuk Tuan Febian. Setelah itu antar ke ruangan Tuan Febian," ucap wanita itu ketus.


Ara hanya mengiyakan lalu meracik kopi sesuai takaran yang sering dia buat untuk sang ayah dulu. Dua wanita itu tersenyum sinis karena yakin kalau Febian tidak akan menyukainya karena mereka sengaja tidak memberi tahu takaran kopi untuk lelaki itu.


Setelah selesai membuat kopi, Ara segera membawa kopi itu ke ruangan Febian. Namun, dia bingung karena tidak bisa dan takut menggunakan lift dan di sana tidak ada seorang pun yang melintas. Akhirnya, Ara memilih menaiki tangga sampai lantai dua puluh dengan membawa nampan.