
Nathan dan Nadira baru saja memasuki kamar pengantin yang sudah dipenuhi bunga-bunga. Sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei warna putih dengan taburan bunga mawar merah di atasnya membuat suasana kamar itu terasa begitu romantis.
Nathan menurunkan Nadira dengan perlahan di tempat tidur, lalu menyuruh istrinya untuk duduk. Senyum Nathan mengembang sempurna saat melihat raut wajah Nadira yang tampak begitu gugup.
"Apa kamu bahagia?" tanya Nathan. Dia jongkok di depan Nadira dan menggenggam erat tangan istrinya. Nadira mengangguk diiringi senyum mengembang di sudut bibirnya.
"Aku mencintaimu, Nad." Nathan mengecup genggaman tangan itu. Wajah Nadira sudah merona merah. Nathan menatap genggaman tangan itu dengan lekat lalu dia melepaskan dan merogoh sesuatu dari saku tuxedo yang dia kenakan.
"Maafkan aku, Nad. Aku terlalu bodoh atau terlalu pikun sampai-sampai lupa memberimu cincin." Nathan membuka sebuah kotak bludru berwarna merah di mana terdapat dua buah cincin di sana.
"Kak, aku tidak butuh cincin. Yang aku mau hanya ada kamu di sisiku." Dengan malu-malu Nadira membalas ucapan Nathan.
"Kamu benar-benar menggemaskan." Nathan mengecup bibir Nadira lalu mereka saling bertukar cincin. Nadira tersenyum lebar menatap cincin perkawinan yang telah terpasang di jari manisnya. Walau dia masih merasa sedikit kecewa, tapi dia berusaha untuk memaklumi.
Nathan beralih posisi, mendudukkan tubuhnya di samping Nadira. Dia menatap lekat wajah istrinya yang terlihat begitu cantik. Nathan pun memajukan wajahnya, mencium kening Nadira dengan sangat lama dan Nadira hanya memejamkan matanya.
Setelah puas, Nathan beralih mencium pipi, mata, hidung dan terakhir bibir istrinya. "Aku mencintaimu, Sayang." Nathan mencium bibir Nadira, ******* dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulut istrinya. Awalnya Nadira hanya terdiam, tapi lama-kelamaan dia mulai mengimbangi permainan Nathan.
Mereka berdua saling bertukar saliva dengan lidah saling berbelit. Tangan Nathan mulai mengusap leher istrinya hingga membuat seluruh tubuh Nadira terasa meremang. Nathan menurunkan ciumannya ke leher dan belakang telinga istrinya. Lagi-lagi, Nadira menggigit bibirnya untuk menahan desah*nnya.
"Mendes*hlah sekeras mungkin, Nad. Tidak ada yang mendengarmu di sini," perintah Nathan lalu kembali menjelajahi leher jenjang istrinya.
"Kak Nathan," panggil Nadira diiringi desah*n yang membuat napsu Nathan semakin naik bahkan adik kecilnya semakin berdiri menantang.
Nadira meremas rambut Nathan saat lelaki itu menyesap lehernya hingga meninggalkan bekas merah di sana. Bukan hanya satu, bahkan dua tiga empat dan seterusnya.
"Kak ...." Nadira masih terus mendesah saat Nathan tidak puas-puas menjelajahi lehernya dengan tangan yang mencoba melepas gaun pengantin yang masih dikenakan Nadira. Dalam hati, Nathan menggerutu kesal karena gaun itu susah dilepas meski akhirnya dia mampu melakukannya.
Nadira menutup aset berharganya saat dia hanya memakai dalaman saja. "Kak, aku malu," rengek Nadira.
Nathan berusaha menurunkan tangan Nadira. "Kenapa mesti malu? Aku ini suamimu, Nad." Nathan kembali menjelajah leher Nadira hingga terbuai lalu dengan perlahan dia menurunkan tangan istrinya dari dua bukit kembar yang sudah ingin dia cicipi rasanya.
Ciuman Nathan semakin turun dan turun. Nadira tidak bisa lagi menahan desah*nnya saat Nathan sudah menggenggam aset berharga miliknya.
"Pas di genggaman," seloroh Nathan saat sudah berhasil menggenggam bukit kembar itu.
"Kak Nathan!" cebik Nadira kesal. Nathan tersenyum simpul lalu kembali mendaratkan ciuman di wajah istrinya.
Setelah puas, Nathan melepas seluruh pakaiannya hingga tidak menyisakan satu pun benang di sana. Nadira menutup wajahnya saat melihat pusat tubuh Nathan.
"Kalau kecil, aku yakin kamu akan mencari suami baru lagi." Nathan menindih tubuh Nadira, lalu mengarahkan tangan Nadira ke senjatanya. Nadira awalnya menolak, tapi karena Nathan memberi sentuhan-sentuhan yang memabukkan, akhirnya Nadira pun menuruti.
Kali ini bukan hanya Nadira yang mende*ah, tapi Nathan juga. Selama ini dirinya hanya bermain solo karir, dan saat ini tangan Nadira yang memainkan, sungguh rasanya sangat berbeda.
"Nad, aku sudah tidak tahan. Maukah kamu melakukannya sekarang?" tanya Nathan meminta izin. Nadira yang juga sudah dipenuhi gelora napsu pun mengangguk mengiyakan.
Bunda! Anakmu akan melepas keperjakaan!
Nathan menciumi Nadira dari wajah, leher, bukit kembar perut hingga Nadira benar-benar tak kuasa lagi. Namun, Nathan terdiam saat melepas cela*na dal*m milik Nadira. Dia melihat bercak merah di sana.
"Nad, apa kamu datang bulan?" tanya Nathan lesu. Nadira bangkit dan terkejut melihatnya.
"Iya, Kak. Oh Astaga! Aku enggak bawa pembalut." Nadira begitu panik, sedangkan Nathan terlihat begitu kesal.
"Nad, bagaimana denganku?" tanya Nathan seolah tak bertenaga.
"Maafkan aku, Kak." Nadira pun bicara lirih. Tidak tega dengan suaminya itu. "Aku ke kamar mandi dulu. Bisakah Kak Nathan menyuruh Cacha untuk membelikan pembalut?" tanya Nadira memohon.
Nathan menghembuskan napas kasar. "Baiklah, sepertinya kita memang belum diizinkan untuk merasakan surga dunia," kata Nathan pasrah.
Nadira pun bangkit berdiri, lalu mencium pipi Nathan sebelum masuk ke kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Nathan segera merebahkan tubuh telanj*ngnya dan mengacak rambutnya kasar saat melihat adik kecilnya yang masih berdiri menantang langit.
Nathan terpaksa mengambil ponsel dan meminta Mila untuk membelikan pembalut, karena kalau menyuruh Cacha, yang ada dia akan ditertawakan habis-habisan oleh adiknya itu.
"Sial!" umpat Nathan setelah mematikan panggilan itu.
Note :
"Hallo, Mike! Aku ingin kamu mencari rumah Othor yang ngakunya kalem. Cari ketemu dan seret dia ke hadapanku! Kesabaranku sudah habis menghadapi kejahilannya."
Sabar ya, Nat. πππ
Selamat pagi gaes, semoga hari kalian menyenangkan.
Mau request berapa bab hari ini? π