
Mobil yang dikendarai Febian berhenti di sebuah bendungan buatan. Dengan cepat lelaki itu berteriak sekeras mungkin untuk mengurangi emosi yang menguasai. Leona hanya berdiri di belakang dan menatap kakak sepupunya itu. Setelah merasa puas, Febian kembali berdiri di samping Leona.
"Kak Bi, terima kasih," ucap Leona lirih. Febian menatap sepupunya dengan kening mengerut.
"Kenapa kamu berterima kasih?" tanya Febian heran.
"Karena Kak Bi sudah mencintai Ara. Bahkan Kak Bi menjaga Ara dengan sebaik itu." Leona menatap Febian dengan senyum mengembang.
"Sudah kewajibanku sebagai suami untuk mencintai dan menyayangi istriku dengan sungguh-sungguh." Febian berkata tegas. Leona tidak menyahuti hanya menunjukkan senyum bahagia.
"Lebih baik aku pulang sekarang. Aku jadi sangat merindukan istriku." Febian berjalan masuk ke mobil.
"Woy! Kak! Inget, kita masih ada rapat setelah ini. Mau maen pergi aja!" sewot Leona dengan tangan berkacak pinggang. Febian tidak menyahut, hanya membunyikan klakson berkali-kali dan dengan bergegas Leona masuk ke mobil.
"Kak Bi kenapa sangat menyebalkan sekali!" cebik Leona. Febian tidak peduli dan melajukan mobilnya kembali ke rumah.
***
"Astaga, Kak Bi beneran pulang?" tanya Leona saat mobil Febian masuk ke pelataran rumah.
"Aku bukan orang yang suka bercanda." Febian turun dari mobil disusul Leona yang akhirnya ikut turun. Mereka masuk ke rumah, dan Febian bergegas ke kamar, sedangkan Leona menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Kamu di sini, Le?" tanya Ara yang baru keluar dari dapur.
"Ara, kamu habis ngapain?" Leona justru bertanya balik.
"Aku habis bikin puding. Mas Bi juga sudah pulang?" Ara mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan suaminya.
"Dia ke kamar, nyari kamu. Mending kamu sembunyi deh." Leona bangkit berdiri dan menarik tangan Ara, mengajaknya masuk ke ruang tamu.
"Le, kamu yang benar saja. Nanti suamiku nyari." Ara hendak memaksa keluar, tetapi Ara tetap menahan di pintu.
"Aku ingin kamu lihat betapa khawatirnya Kak Bi kalau kamu enggak ada. Udah, diem aja di sini." Leona menutup pintu rapat. Sementara Ara hanya menurut dan memilih duduk di tepi tempat tidur.
"Kalian lihat di mana istriku?" tanya Febian penuh penekanan. Pelayan di dapur hendak menjawab, tetapi mereka terdiam sesaat dan melihat Leona yang sedang memberi kode dengan kedipan mata.
"Saya tidak tahu, Tuan," jawabnya tergagap.
"Bagaimana bisa!" hardik Febian.
"Ada apa, sih, Kak?" tanya Leona berpura-pura.
"Le, bantu aku nyari Ara." Febian hendak melangkah pergi, tetapi Leona menahan tangan lelaki itu.
"Memangnya Ara ke mana?" tanya Leona. Namun, Febian justru menggeram kesal.
"Kalau aku tahu di mana Ara, aku tidak akan memintamu mencari!" sahut Febian dongkol.
"Santai aja kali, Kak. Eh! Jangan-jangan Ara di kolam renang, dan tenggelam. Dia 'kan tidak bisa berenang," ucap Leona menakuti. Febian semakin terlihat khawatir. Dengan segera dia berlari menuju ke kolam renang yang letaknya di samping rumah.
Melihat Febian yang berlari kalang kabut, membuat Leona terpingkal-pingkal bahkan perutnya sampai terasa kram. Pelayan yang melihat itu hanya menggeleng tidak percaya.
"Memang cinta itu sama saja pembodohan diri. Seberapa pintar pun seseorang bisa jadi bodoh hanya karena cinta." Leona memilih kembali duduk di sofa membiarkan Febian yang masih kelimpungan.
Pendek amat Thor, yang panjang dong biar puas.
tahu aja kalau yang panjang itu bikin puas, wkwkwk
diem Aja, biar cepet sampai bab 300 π π
masih mau lanjut enggak nih?
bab selanjutnya on Proses ya
mau minta berapa bab lagi hari ini? ππ