
Dua menit lagi, jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas, tetapi Cacha belum juga datang ke kamar Nadira padahal sedari tadi, wanita itu sudah menunggu-nunggu kedatangan sahabatnya. Nadira mendesah kasar, merutuki kesialan yang sedang menimpa dirinya saat ini.
Nadira kembali mengambil benda pipih yang tergeletak di sampingnya untuk kembali menghubungi Cacha. Namun, baru saja layar kunci terbuka, suara ketukan yang lebih seperti gedoran terdengar memenuhi gendang telinganya.
Dengan bergegas, Nadira turun dari kasur dan melangkah lebar menuju ke pintu untuk membuka. Dia yakin kalau yabg yang datang saat ini adalah Cacha. Nadira merasa kesal, padahal dirinya sudah bilang kalau pintunya tidak dikunci, tetapi suara gedoran itu masih saja terdengar.
"Ada apa sih, Cha!" Suara Nadira sedikit membentak. Namun, saat pintu terbuka, tubuh wanita itu menegang seketika saat melihat siapa yang datang saat ini.
"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun!"
Lagu ulang tahun itu menggema di sekitar sana, Nadira menatap lekat seluruh anggota keluarganya yang saat ini sudah berdiri di depannya. Ah! Bukan itu yang membuatnya membisu, tetapi lelaki yang saat ini sedang membawa kue ulang tahun, dengan lilin menyala. Sedang tersenyum ke arahnya seolah tidak berdosa.
"Selamat ulang tahun, Beb!" Suara Nathan berhasil mengembalikan kesadaran Nadira.
Tidak ada sahutan sama sekali karena Nadira masih saja bergeming pada posisinya. Nathan pun menyerahkan kue itu kepada sang bunda, dan dengan gerakan cepat, dia menarik tubuh Nadira masuk dalam dekapannya.
"Maafkan aku, Beb. Aku sudah membuatmu marah dan curiga. Aku hanya ingin membuat kejutan untukmu. Selamat ulang tahun, Sayang. Semua doa terbaik, kupanjatkan untukmu. Semoga kita lekas mendapatkan buah hati."
Nathan mencium kening Nadira dengan sangat lama, menyalurkan perasaan sayang dan cinta untuk istrinya. Nadira pun membalas, dengan melingkarkan tangannya di perut suaminya.
"Makasih banyak, Mas." Air mata Nadira mengalir, bukan sedih. Namun, wanita itu begitu terharu atas kejutan dari seluruh anggota keluarga baru dan lama.
"Aku mencintaimu, Sayang." Nathan kembali mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya sebelum melerai pelukan mereka. Setelah pelukan itu terlepas, Nathan menyuruh istrinya untuk meniup lilin ulang tahun sebelum meleleh.
Nadira mengedarkan pandangannya, menatap wajah mereka satu persatu. Bola mata Nadira terhenti pada sosok gadis cantik yang berdiri paling ujung dengan wajah masam. Senyumnya terlihat terpaksa saat tatapan mereka berdua bertemu.
"Selamat ulang tahun, Cha. Ayo kita tiup lilin bersama." Nadira tersenyum lebar, tetapi Cacha justru tersenyum getir. Mereka terlalu sibuk menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Nadira, sampai lupa kalau Cacha dan Nadira lahir di hari, tanggal, bulan, bahkan tahun yang sama.
"Astaga, bunda sampai lupa. Selamat ulang tahun princess nya bunda. Sekarang tiup lilin ya." Mila membuka suara, tetapi justru semakin membuat Cacha kecewa. Tidak ada pelukan ataupun sekedar kecupan. Namun, Cacha bersikap biasa saja meski dalam hati dia merasa begitu sedih.
"Ayo, kalian tiup lilin. Jangan lupa make a wish." Kali ini Johan yang membuka suara, tetapi tidak ada sedikit pun ucapan ulang tahun untuk putri bungsunya.
Kenapa mereka tidak adil. Batin Cacha dengan berusaha keras menahan air mata agar tidak terjatuh. Mereka berdua memejamkan mata, berdoa sesuai keinginan masing-masing. Setelahnya, mereka meniup lilin itu bersama.
Pelukan Nadira mendarat di tubuh Cacha saat lilin itu telah padam. Cacha pun membalas tak kalah erat.
"Selamat ulang tahun, Cha. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu."
"Selamat ulang tahun juga untukmu, Nad. Semoga kamu selalu bahagia dan segera memberi keponakan untukku."
Mereka pun berpelukan sampai puas. Kemudian, perayaan kecil-kecilan dirayakan di kamar Nadira. Cacha sebisa mungkin menahan diri agar tidak menangis karena seluruh anggota keluarganya terlalu fokus dengan Nadira bahkan dirinya merasa sangat terabaikan.
Merasa tidak tahan lagi, Cacha akhirnya berpamitan pergi dari sana. Johan menolak, tetapi Cacha bersikukuh dan mengatakan kalau dirinya hanya akan kembali ke kamar. Akhirnya, Johan pun mengizinkan putrinya untuk pergi dengan ditemani Zack sampai ke kamarnya.
Namun, ketika Cacha hendak membuka pintu kamar hotelnya, Zack membekap mulut Cacha dengan sarung tangan. Gadis itu hanya meronta sesaat karena beberapa detik kemudian, kesadarannya menghilang.
Lanjut tidak??