Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
294


Kepulangan Nadira beserta bayinya sangat disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga yang saat ini sudah berkumpul di mansion Alexander. Bayi mungil itu seketika menjadi sorotan di keluarga. Mereka saling bergantian ingin menggendong bayi mungil itu.


"Pi, itu adikku." Bobby menangis saat Citra berada dalam gendongan Ana.


"Biar Aunty Ana gendong dulu ya, Bob." Nathan memangku Bobby.


"Tidak boleh, Pi. Itu adikku." Bobby semakin menangis. Akhirnya, Ana menyerahkan bayi itu kepada Mila.


"Kamu sayang adik?" tanya Nathan lembut. Bobby mengangguk dengan cepat.


"Tiga-tiga, sayang adik-kakak. Tapi Bobby tidak punya kakak." Wajah Bobby tampak sedih.


"Kata siapa? Ada Kak Jin dan Jun," ucap Nathan, tetapi Bobby justru bersidekap dengan bibir yang mengerucut.


"Bobby tidak mau sama Kak Jin!" Bocah itu berteriak kesal.


"Kenapa?" tanya Nathan heran.


"Kak Jin nakal! Udah rebut Papi dari Bobby!" Nathan terdiam mendengar jawaban Bobby, tetapi sesaat kemudian lelaki itu tersenyum lebar dan menciumi hampir seluruh wajah putranya.


"Kak Jinny tidak akan merebut Papi atau mami. Kita sayang kamu, Bob." Nathan kembali mencium pipi Bobby yang saat ini tangannya sudah melingkar di leher.


"Ma, kapan Patricia punya adik?" Rengekan Patricia mengalihkan mereka. Patricia rasanya tidak sabar ingin melihat adiknya setelah melihat betapa lucunya bayi Citra.


"Sebentar lagi, Sayang." Cacha mengusap puncak kepala putrinya.


"Perut Mama sebesar itu apa tidak meledak?" tanya Patricia polos. Mereka yang mendengar pun tak kuasa menahan gelakan tawa.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kalian anak kecil pada tidur saja. Ini sudah malam." Mike menggendong putrinya dan hendak mengajak ke kamar.


"Pa, Patricia mau tidur sama yang lain." Bocah perempuan itu memaksa turun.


"Tidur di mana, hm?" tanya Mike lembut.


"Kata Oma kita akan tidur sama Oma dan Opa," adu Patricia. Mike pun menatap mertuanya secara bergantian.


"Ya, biarkan mereka semua tidur bersama kita." Mila bangkit berdiri dan mengajak ketujuh bocah kecil itu menuju ke kamar tamu yang sudah diberi tambahan satu ranjang.


Setelah anak-anak masuk ke kamar, para orang tua juga kembali ke kamar masing-masing karena sudah mulai malam. Karena kehamilan yang sudah memasuki trisemester ketiga, Cacha mulai tidak bisa tidur dengan nyaman.


"Pinggangku pegal sekali, Mas." Cacha sedikit mengaduh. Mike mengusap punggung bawah istrinya dengan lembut.


"Mungkinkah kamu akan lahiran, Neng?" tanya Mike khawatir. Cacha menggeleng cepat.


"Belum, Mas. Perkiraan masih dua minggu lagi. Ini biasa untuk yang sudah hamil tua." Cacha berusaha menenangkan suaminya. Mike memeluk Cacha dari belakang dengan erat.


"Semoga kalian selalu diberi kesehatan. Persalinan lancar. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin melihat putra kita," kata Mike.


Cacha menoleh dan mencium lembut pipi suaminya. Setelahnya, dia berusaha untuk memejamkan mata seraya menahan rasa sakit yang sesekali terasa.


***


Febian dan Ara sudah bersiap ke Jakarta untuk melihat keponakan baru mereka dan dalam rencana akan menginap selama seminggu di sana. Di saat mereka hendak berangkat, Leona dan Bara datang berkunjung.


"Habis ngantar Kak Er," sahut Leona.


"Er? Memangnya dia ke mana?" Kening Febian terlihat mengerut.


"Berangkat ke Surabaya." Kali ini, Bara yang menjawab.


"Surabaya? Ada perlu apa memangnya?" tanya Febian penasaran.


"Entahlah, mengejar jodoh kali." Leona menjawab malas. Dia tidak mau membahas hal yang sekiranya tidak nyaman untuk sahabatnya. Karena kepergian Erlando kali ini adalah untuk mengejar cinta Jasmin.


"Bagaimana dengan kehamilanmu, Le? Kamu masih sering mual?" Ara mendekati sahabatnya dan mengusap perut wanita itu dengan sangat lembut.


"Sudah tidak, Ra." Wajah Leona tampak berbinar bahagia, Ara yang melihat itu pun ikut tersenyum lebar.


"Semoga aku lekas mendapatkannya," ucap Ara lirih. Febian mencium pipi Ara saat melihatnya bersedih.


"Kita akan mendapatkan di waktu yang tepat, Sayang. Lebih baik kita berangkat sekarang, bukankah kamu sudah tidak sabar ingin melihat Baby Citra?" Ara menanggapi dengan anggukan.


"Kak, aku mau ikut." Leona merengek, bahkan dia menahan lengan Ara supaya tidak pergi.


"Sayang—" Bara yang hendak melarang akhirnya hanya bisa mengiyakan saat melihat mata Leona yang tampak berkaca-kaca.


Akhirnya, mereka berempat berangkat bersama dengan satu mobil menuju ke Jakarta. Selama perjalanan, di dalam mobil penuh sekali dengan celotehan Leona yang tiada henti. Mulut wanita itu seperti tidak merasa lelah karena sedari tadi terus saja bergerak-gerak.


"Kak, berhenti!" Teriakan Leona begitu mengejutkan hingga membuat mobil Febian berhenti mendadak, beruntung tidak ada kendaraan yang melaju di belakang mereka.


"Le, bisakah kamu tidak meminta berhenti mendadak!" kata Febian setengah berteriak. Merasa dibentak, Leona menghentakkan kaki dan bibirnya mengerucut.


"Sayang, kenapa kamu minta berhenti mendadak? Kamu ingin sesuatu?" tanya Bara lembut untuk meredam kekesalan istrinya.


"Aku mau rujak itu." Leona menunjuk penjual rujak yang ada di seberang jalan. Bara pun segera turun setelah Febian menepikan mobilnya. Hampir sepuluh menit menunggu, Bara telah kembali beserta sebungkus rujak di tangan. Dengan sangat antusias Leona langsung melahapnya, sedangkan Febian kembali melajukan mobilnya.


"Le, sepertinya enak sekali." Ara menelan ludahnya berkali-kali saat melihat Leona memakan rujak tersebut.


"Kamu mau?" Leona menawari. Ara mengangguk cepat. Leona menyodorkan rujak tersebut dan mereka pun makan bersama.


"Ra, kamu lahap banget. Jangan-jangan kamu hamil," celetuk Leona. Namun, sesaat kemudian tubuh mereka terhuyung saat mobil itu kembali berhenti mendadak.


"Kak Bi!" pekik Leona kesal.


💦💦💦


Thor, gimana kisah Erlando dan Jasmin? Diteruskan di sini kah?


Tidak. Kisah mereka nanti ada di judul baru, ya. Nanti Othor kupas dari awal juga saat Jasmin menjalani rumah tangga bersama Damian. Juga perjuangan Erlando merebut hati Jasmin.


Kapan Thor? Belum tahu kapan, Othor usahakan awal April ya.


Jangan lupa dukungan dari kalian selalu Othor tunggu, Gaess.


Selamat pagi dan Selamat beraktivitas.