
Pengantin baru yang akhirnya bisa menuntaskan hasratnya tersebut, masih tidur bergelung di bawah selimut. Nadira merasa begitu nyaman saat tangan kekar Nathan memeluknya dengan erat. Seolah tidak akan pernah melepaskan. Bahkan, mereka sedari tadi tidak mendengar ponsel Nadira yang terus berdering.
"Mas, siapa yang menelepon?" Nadira akhirnya terbangun. Dia hendak mengambil ponsel di sampingnya, tapi Nathan langsung menahannya.
Aku akan membuatmu kalang kabut karena mengira Nadira diculik.
"Biarkan saja. Palingan juga Al," cegah Nathan. Dia langsung membungkam mulut Nadira dengan bibirnya saat Nadira hendak berbicara. Mau tidak mau, Nadira pun akhirnya terdiam begitu saja. "Aku mencintaimu, El."
Nadira memukul dada bidang Nathan dengan gemas. Rasanya, dia begitu sebal saat Nathan memanggilnya 'El' yang lebih seperti sebuah ejekan untuknya.
"Jangan memanggilku El!" seru Nadira.
"Memangnya kenapa?" tanya Nathan berpura-pura.
"Enggak papa! Kalau kamu masih memanggilku El, maka aku akan memanggilmu Kaleng Rombeng!" Nadira memberi ultimatum.
"Uluh uluh, Ayang Bebeb! Ngambek nih?" goda Nathan. Wajah Nadira seketika merona merah. "Aku tahu kok itu panggilan kesayangan Abang Rendra untukmu."
Nadira membuka mata lebar, lalu menatap suaminya dengan tajam. "Jangan mulai, Kak!" ketus Nadira.
"Aku bukan kakakmu!" balas Nathan tak kalah ketus. "Aku memang akan mulai ... mulai bermain lagi." Nathan beralih menindih tubuh Nadira lalu menghujami wajah wanita itu dengan ciuman bertubi-tubi.
"Mas, aku lelah. Badanku rasanya remuk redam. Aku mandi dulu," kata Nadira diiringi ******* saat Nathan membuat tanda kepemilikan di lehernya.
"Satu kali lagi, baru kita mandi bersama," ucap Nathan tanpa menghentikan kegiatannya.
"Tapi, Mas ...."
"Ah! Aku ada ide bagus!" Nathan beranjak bangkit dan menatap Nadira penuh dengan seringai. Sementara Nadira yang melihatnya justru menjadi sangat gelisah.
"Ide bagus apa?" tanya Nadira gugup.
"Lebih baik kita melakukannya di kamar mandi. Sepertinya lebih nikmat." Nathan turun dari tempat tidur dan hendak membopong tubuh Nadira, tapi wanita itu justru menolak.
"Aku bisa jalan sendiri, Mas!" Nadira bangkit dan merasakan ototnya terasa begitu kaku. Bahkan ketika dirinya hendak turun dari tempat tidur, terlihat bibirnya meringis saat merasakan nyeri yang sangat luar biasa di pangkal pahanya.
"Mas!" teriak Nadira saat merasakan tubuhnya seperti melayang karena tiba-tiba Nathan membopongnya, padahal tubuh mereka masih telanjang bulat. Namun, Nathan tetap melangkah percaya diri dengan Othong yang menggelantung manja ke kanan dan kiri.
Sesampai di kamar mandi, Nathan mendudukkan Nadira di samping meja wastafel. Lalu dia mendekati bathup dan mengisinya dengan air hangat. Sementara Nadira memalingkan wajah saat melihat tubuh polos suaminya. Rasanya dia begitu malu saat melihatnya.
"Aku tahu kamu sudah tidak sabar, Beb!" cetus Nathan tanpa mengalihkan pandangan.
"Ish! Percaya diri sekali!" cebik Nadira. Ekor matanya melirik Nathan yang sedang berjalan mendekat.
"Sombong sekali!" decih Nadira tanpa menoleh.
"Terima kasih sudah memujiku tampan, Beb," timpal Nathan, membuat Nadira mendengus kasar.
"Siapa yang memuji—" Belum selesai bicara, Nathan sudah meraup bibir Nadira dengan sangat lembut. Nadira awalnya terkejut, tapi lama kelamaan dia mulai menikmati ciuman itu. Apalagi saat tangan Nathan mulai menjelajah seluruh tubuhnya. Nadira pun seolah tak kuasa untuk tidak mendes*h nikmat.
"Mas." Nathan semakin liar, saat mendengar desah*n demi desah*an yang keluar dari bibir Nadira.
"Kamu mencintaiku, Nad?" tanya Nathan disela aktivitas mereka.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu!" Nadira memukul lengan Nathan dengan cukup kencang.
"Aku ingin dengar kata cinta dari bibirmu ... Sayang!" kata Nathan dengan memberi penekanan pada kata sayang.
"Kamu menyebalkan! Tentu saja aku mencintaimu, kalau tidak ... mana mungkin aku mau digenjot kaya gini," cebik Nadira. Bibir wanita itu bahkan sudah mengerucut, membuat Nathan menjadi sangat gemas.
"Aku juga mencintaimu, Beb! Baiklah, sekarang saatnya kita anu!" Nathan memindahkan tubuh Nadira ke dalam bathup. Kemudian, dia ikut masuk dan duduk di belakang Nadira. Tangannya memegang dua gundukan yang pas digenggaman, dengan bibir yang mengeksplor tengkuk istrinya, hingga membuat wanita itu meremang.
"Bersiaplah ronde kedua, Beb. Masih ada tiga ronde lagi!" kata Nathan dengan tenang. Kedua mata Nadira melebar dengan sempurna.
"Kamu ingin membunuhku?" tanya Nadira kesal.
"Tidak! Aku hanya ingin menanam benih cintaku dan semoga lekas menjadi janin. Aku yakin kalau kecebongku ini berkualitas super," ucap Nathan. Kembali memberi sentuhan-sentuhan pada tubuh istrinya.
Bathup dengan air hangat itu pun menjadi saksi, di mana pengantin rasa baru itu, sedang sibuk-sibuknya memadu kasih. Saling berbagi desah*n dan erang*n untuk mencapai puncak bersama. Mereka bahkan tidak tahu kalau di seberang sana. Ada seorang kakak yang sedang khawatir dengan adiknya. Berkali-kali menghubungi, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang diangkat.
"Ah! Sialan!"
Puas belum nih? Masih mau lanjut?
Wah, hari Jum'at Nih, pas banget malam Jum'at NN pecah kendi 😅
Nih, ada satu orang yang beruntung buat dapat sedikit hadiah dari Othor. Silakan hubungi Othor via DM IG @ tathabeo atau Inbok FB : Rita Anggraeni(Tatha)
Yang belum dapat, harap tenang
Masih ada hari jum' at depan. Jangan lupa perbanyak dukungannya gaes
Salam sayang dari Othor ber-otak polos