Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
195


"Si-Singapura?" Suara Cacha memekik. Mike pun menjauhkan ponsel sebelum suara Cacha merusak gendang telinganya. "Kenapa kamu jahat sekali, Mike?"


Tiba-tiba Cacha terisak keras, Mike pun menjadi bingung mendengar isakan istrinya yang tidak mau berhenti padahal dirinya sudah berusaha menenangkan. "Maafkan aku," ucap Mike lirih dan penuh sesal.


"Kenapa kamu jahat sekali padaku, Mike. Kenapa kamu tidak bilang kalau akan pergi ke luar negeri. Kamu jahat!" seru Cacha. Dia menyeka air mata dengan kasar.


"Jangan menangis, aku hanya tiga hari. Aku memang sengaja tidak bilang padamu karena aku tidak ingin kamu ikut atau melarangku. Maafkan aku, tetapi urusanku sangat penting saat ini." Mike berusaha menjelaskan, tangisan Cacha pun perlahan mereda.


"Mike, aku kecewa denganmu!" Cacha mematikan panggilan itu secara sepihak. Kemudian, menaruh dengan sangat kasar ponselnya di meja hingga menimbulkan bunyi gebrakan. Dia tidak peduli kalau ponselnya rusak ataupun riasan wajahnya luntur. Yang dia rasakan saat ini hanyalah kecewa dengan suaminya.


Ponsel Cacha kembali berdering, tetapi Cacha mematikan panggilan itu, bahkan dia juga mematikan ponselnya. Cacha mengambil remot pintu, dan segera mengunci ruangan tersebut. Dia tidak mau ada salah satu karyawan yang masuk dan tahu kalau dia sedang menangis saat ini.


Telepon yang berada di samping Cacha berbunyi. Awalnya Cacha hanya mendiamkan saja tanpa berniat mengangkatnya, tetapi telepon itu terus saja berbunyi. Dengan kasar, Cacha pun segera mengangkat gagang telepon itu.


"Aku sedang sibuk! Jangan ada yang menggangguku sampai jam makan siang!" bentak Cacha, dia hendak menaruh kembali gagang telepon itu, tetapi suara dari seberang telepon berhasil menghentikan gerakan tangannya.


"Buka pintu ruanganmu, Cha! Ayah dan bunda sudah di depan," ucap Johan. Setelah itu, terdengar suara panggilan dimatikan.


Cacha menaruh gagang telepon tersebut pada tempatnya, dia mengambil cermin kecil dan membenarkan riasannya, walaupun mata sembab tidak bisa membohongi kalau dia baru saja selesai menangis. Setelah memastikan semua sudah baik, Cacha segera menekan remot, dan beberapa detik selanjutnya pintu ruang terbuka, Mila terlihat berjalan cepat mendekati putrinya.


"Ayah, Bunda, kapan kalian datang?" tanya Cacha. Dia memeluk Mila yang saat ini sudah berada di sampingnya.


"Baru saja. Bunda sangat merindukanmu, Cha." Mila mengeratkan pelukannya dan mencium pipi putrinya berkali-kali.


"Kamu tidak ingin memeluk ayah?" sindir Johan yang saat ini sudah duduk di sofa. Cacha pun melerai pelukannya, lalu berjalan mendekat ke sofa. Setelahnya, dia duduk di samping Johan dan memeluknya erat. Mila pun tidak mau kalah dan ikut bergabung bersama mereka.


"Tumben sekali kalian datang tidak memberi kabar dulu?" tanya Cacha setelah mereka puas melepas rindu.


"Mike yang meminta kita datang ke sini. Dia takut kamu akan takut sendirian selama Mike berada di Singapura," papar Mila.


"Kalian tahu kalau Mike sedang ke Singapura?" tanya Cacha tidak percaya. Baik Johan maupun Mila hanya mengangguk mengiyakan. Kemarahan Cacha pun kembali naik. "Kenapa dia justru tidak bilang padaku? Mungkinkah aku ini istri yang tidak dianggap?" gumam Cacha.


"Mike bukannya tidak mau bilang padamu, Cha. Dia hanya tidak mau kamu melarang kepergiannya karena dia memiliki urusan yang sangat penting," bela Johan. Cacha menatap sang ayah dengan lekat.


"Sepenting apa urusannya, Yah? Sampai Mike tidak mau berbicara langsung dengan Cacha?" tanya Cacha menuntut jawaban.


Johan menghela napas panjang sebelum berbicara, sedangkan Mila mengusap punggung putrinya untuk meredam kekesalan wanita itu. "Tuan Richard Anderson—kakek Mike, meminta Mike untuk datang mengurus soal ahli waris kekayaan keluarga Anderson karena hanya dia satu-satunya pewaris yang memiliki darah Anderson."


Kening Cacha mengerut saat mendengar jawaban sang ayah. "Bukankah Mike itu hanya anak orang biasa yang Ayah pungut menjadi anak buah setelah kematian orang tuanya?" tanya Cacha meminta penjelasan karena hanya itu yang dia tahu tentang Mike.


"Sebenarnya, Louis Anderson adalah putra tunggal Tuan Richard, pengusaha ternama di Singapura," ungkap Johan. Kedua mata Cacha membola sempurna.


"Bisakah Ayah ceritakan semua tentang Mike? Aku bingung, Yah." Wajah Cacha memelas, Johan pun mengangguk mengiyakan sembari mengusap puncak kepala putrinya penuh sayang.