
Jangan lupa tekan Like dan Komen sehabis baca ya
Biar Othor nya seneng 😂 sorry kesiangan gaes
__________________________________________
Cacha sudah bersiap untuk kembali ke Bandung bersama dengan Rendra. Sebenarnya, dia hendak berangkat sendiri, tapi sang ayah melarangnya. Akhirnya, Cacha berangkat bersama Rendra, dan Mike mengikuti di belakang. Bahkan, Mike tinggal di apartemen sebelah Cacha yang kemarin disewa Jasmin.
"Yah, Cacha ini enggak butuh dikawal," tolak Cacha saat Johan mengatakan Mike akan mengikuti kemana pun Cacha pergi.
"Cha, Mike sudah selesai menjaga Nona Muda karena sekarang sudah ada Nathan. Ayah tidak mau kamu kembali dekat dengan lelaki yang salah," ucap Johan tegas.
"Tapi Yah ...."
"Mike ikut denganmu atau kamu tidak pergi sama sekali!" sela Johan. Cacha menghembuskan napas kasar.
"Baiklah, Mike boleh ikut, tapi harus jaga dari jauh seperti kemarin waktu jaga Nadira," tawar Cacha. Johan pun menyanggupi dan menyuruh Mike yang sedari tadi diam untuk bersiap-siap.
"Ingat, Cha, Mike. Satu minggu lagi kalian harus pulang," kata Johan. Mike hanya menanggapi dengan anggukan.
Cacha pun berpamitan ke kamar untuk bersiap-siap karena satu jam lagi Rendra akan datang menjemput.
Sementara itu, Nathan yang masih dirawat di rumah sakit, sedari tadi uring-uringan karena sang bunda tidak lagi berani memberi tahu ke mana Nadira pergi, meskipun dia sudah merayu-rayu.
"Nat, walau ayah udah pulang, tapi Bunda tetep enggak mau ngasih tahu. Kamu 'kan tahu ayahmu itu serba tahu." Mila duduk di samping putranya.
"Bun, masa iya aku sama Nadira baru aja baikan udah pisahan lagi. Ayolah, Bun. Demi masa depan aku dan Bunda cepet dapet cucu." Nathan menggoyangkan lengan Mila, tetapi wanita paruh baya itu, tetap menolaknya.
"Bunda tidak mau tidur sendiri selama seminggu, ditinggal dua hari aja Bunda udah belingsatan, apalagi seminggu," ucap Mila tetap teguh pada pendiriannya.
"Bun ...." Nathan merengek, membuat Mila menghela napas panjangnya. "Nathan beliin Bunda skincare atau tas terbaru deh," rayu Nathan.
"Enggak! Nanti pasti ayah nanya dapat dari mana. Dikira Bunda dapat dari sugar daddy lagi," tolak Mila.
"Hadeh! Bun, sugar daddy itu pasangannya sugar baby bukan emak-emak kaya Bunda," ledek Nathan. Dia menunjukkan dua jarinya saat Mila mendelik kepadanya.
"Bercanda, Bun. Jangan ngambek ya. Nathan sabar deh nunggu sampai minggu depan." Nathan akhirnya pasrah dan mengalah.
"Nah gitu baru anak Bunda. Sudah sana tidur, besok pagi kamu sudah boleh pulang ke rumah, tadi Bunda udah nanya dokternya." Wajah Nathan terlihat semringah saat mendengar ucapan Mila. Setelah pulang nanti, dia akan kembali mencari ke mana Nadira pergi.
***
Nadira dan yang lain sudah berada dalam perjalanan ke Jogja. Gadis itu mencebik kesal saat menyadari kalau hanya dirinya yang tidak memiliki pasangan dan sekarang harus melihat sang kakak yang sedari tadi bermesraan dengan istrinya.
"Kak, kenapa aku suruh lihat kalian-kalian bermesraan!" kata Nadira dengan ketus.
"Aku juga tidak bermesraan, Nad," timpal Ana yang duduk di samping suaminya yang sedang menyetir.
"Ye, itu karena Kak Ken lagi nyetir, kalau enggak nyetir juga aku yakin kalian bakal sayang-sayangan," sahut Nadira. Dia menatap keluar jendela dan melihat pemandangan sekitar. "Lagian, Kak Al ini ngapain sih, misahin aku sama Kak Nathan. Seharusnya 'kan aku tetep jagain Nathan yang lagi sakit."
"Tenang aja, udah ada aunty yang bersedia jaga putra kesayangannya," sahut Alvino santai.
Nadira tidak lagi menjawab, baginya percuma berdebat, dia tetap akan kalah juga. Nadira merogoh tas kecilnya, meraba-raba semua isi tas itu, tetapi dia tidak menemukan barang yang dicarinya sama sekali.
"Kak, kok ponselku enggak ada?" Nadira membuka lebar tas itu dan mencari ponselnya. Namun, ponsel itu sama sekali tidak terlihat.
"Memang kamu taruh di mana?" tanya Alvino santai. Nadira tidak menjawab, dia berusaha mengingat di mana terakhir kali dia menggunakan ponselnya.
"Astaga!" Nadira menepuk keningnya. "Kayaknya ketinggalan di kamar deh. Ya Tuhan, Kak Ken putar balik, Kak." Nadira menepuk kursi yang diduduki Kenan.
"Kamu yang benar saja, Nad. Kita sudah jauh. Sudahlah, nanti kamu beli ponsel lagi aja selama di Jogja." Alvino berbicara dengan begitu santai, tidak ada yang tahu kalau lelaki itu sedang menyeringai tipis saat ini.
"Kak, aku enggak hapal nomor-nomor penting, kalau ada apa-apa gimana?" Nadira terlihat begitu gelisah.
"Sudahlah, anggap aja kamu memang lagi disuruh buat fokus pada liburanmu," ucap Alvino. Nadira tidak lagi menjawab dan hanya mendengus kesal.
Bagaimana aku menghubungi Kak Nathan, coba aja kalau Cacha ikut. Aku bisa minta tolong sama tuh anak. Batin Nadira.