Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
147


Suasana di Mansion Alexander begitu ramai karena untuk beberapa waktu, mereka berkumpul tinggal di sana. Untuk membantu Rania mengurus Baby JJ.


Mansion itu terasa begitu hidup, walaupun dalam hati setiap anggota keluarga ada kesedihan karena Davin dan Aluna tidak lagi berada di samping mereka. Namun, mereka semua mencoba untuk belajar ikhlas dan terus mengirimkan doa.


"Beb, kamu tidak lelah dari tadi menggendong Baby Jun?" Nathan duduk di samping Nadira yang sedang duduk bersama Baby Jun yang tertidur di gendongan Nadira. Lelaki itu merangkul pundak istrinya dan menyandarkan kepala istrinya di pundaknya.


"Tidak, rasanya aku gemes banget sama bayi satu ini. Baru berapa hari aja, udah keliatan tampan sekali," puji Nadira.


"Jelas, dong. Jangan ragukan bibitnya dari siapa dulu." Alvino yang baru saja datang, langsung berbicara dengan angkuh, dan dia duduk bersandar di sofa.


"Ya, Tuan Muda. Aku kalau punya boneka bernyawa gini juga pasti bakalan tampan dan cantik. Bibitnya kualitas super." Nathan tidak mau kalah.


"Semoga nanti keponakanku tidak bermulut kaleng sepertimu," ledek Alvino, dengan senyum seringai di sudut bibirnya.


"Semoga Baby Jin atau Jun ada yang meniru aku," kata Nathan diiringi gelakan tawa.


"Amit-amit jabang bayi!" dengkus Alvino dengan wajah kesal.


Nadira yang melihat kakak dan suaminya berdebat, hanya bisa menghembuskan napas kasar. Dari dulu, dua manusia satu gender ini selalu saja seperti ini.


"Eh, Al. Febian kapan pulang?" tanya Nathan, mengurungkan gerakan Alvino yang hendak menutup mata.


"Katanya sih lagi perjalanan pulang," sahut Alvino. Dia memijat pelipis karena pusing setiap malam selalu begadang.


"Sama Jasmin?" tanya Nathan ingin tahu.


"Ehem!" Nadira berdeham, dengan segera Nathan menoleh dan menatap ke arah istrinya.


"Kenapa? Kamu masih cemburu dengan Jasmin?" tanya Nathan menggoda.


"Tidak! Buat apa aku cemburu, kaya ABG aja," elak Nadira.


"Kamu yakin?" Nathan memajukan wajahnya hingga hampir menyentuh wajah Nadira. Bahkan hangat napas Nathan, terasa menerpa pipi Nadira yang sudah merona merah.


"Jangan deket-deket!" Nadira mendorong wajah Nathan agar sedikit menjauh, tetapi lelaki itu justru semakin memajukan wajahnya, bahkan sebuah kecupan berhasil mendarat di pipi wanita itu.


"Jangan pamer!" seru Alvino.


"Siapa yang pamer? Iri? Bilang, Bos! Papale papale!"


"Kak Nathan!" Nadira mencubit pinggang Nathan karena saking gemasnya dengan lelaki itu.


"Ahh! Sakit, Beb." Nathan melepas rangkulannya dan mengusap bekas cubitan istrinya itu, sedangkan Nadira masih saja memasang wajah sebal.


"Kamu bisa normal enggak sih, Mas?" cebik Nadira.


"Kalian diamlah! Aku mau tidur, kepalaku sakit sekali!" omel Alvino, dia merebahkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan mata untuk terlelap. Rasa kantuknya benar-benar tidak bisa ditahan lagi.


Baru saja Alvino terlelap, Rania datang dengan menggendong Baby Jin. Wanita itu terkejut saat melihat suaminya yang sudah terlelap, bahkan mendengkur halus.


"Mas Al, baru saja tidur?" tanya Rania. Dia duduk di samping Nadira dan menoleh ke arah putranya yang masih terlelap dalam gendongan adik iparnya.


"Iya, kalian begadang kah?" tanya Nadira. Tangannya mengusap pipi Baby Jin dengan lembut sehingga bayi itu menggeliat.


"Iya, Jinny rewel terus. Enggak tahu kenapa, padahal aku udah kasih ASI, tetep aja nangis," tutur Rania. Matanya sekarang beralih menatap wajah teduh Alvino yang sedang terlelap.


Wajah lelaki itu tampak sangat lelah karena ikut begadang dan menenangkan Baby Jin. Apalagi kemarin, lelaki itu harus menghadiri rapat, karena tidak bisa diwakilkan oleh Kenan.


"Kak!" panggil Nadira, tetapi Nathan tetap diam saja dan hanya memainkan ponselnya. Nadira mengintip layar ponsel Nathan, dan melihat lelaki itu sedang membuka galeri di mana tanpa sengaja Nadira melihat foto Jasmin di sana.


"Pantesan dipanggil diam aja, ternyata lagi sibuk ngelihatin foto cewek idaman," sindir Nadira.


Nathan tergagap, dan mengembalikan ke layar depan. Dia menatap istrinya yang terlihat sedang bersungut-sungut, dengan wajah yang terlihat sangat kesal.


"Aku lagi pembersihan galeri, Beb. Ini foto lama!" kata Nathan, perasaannya mendadak tidak enak.


"Foto baru pun tak apa!" ketus Nadira. Dia beranjak bangkit berdiri, dan Nathan tak lepas menatap gerak-gerik istrinya.


"Ayo, Ran. Kita ke kamar. Biar Baby JJ kita tidurkan di box." Nadira mengajak Rania yang hanya mengikut.


"Jangan marah, Beb. Nih, udah aku hapus!" Nathan menunjukkan layar ponselnya, tetapi Nadira tidak melirik sama sekali. Dia tetap berjalan meninggalkan Nathan dan diikuti oleh Rania di belakang.


"Beb! Jangan marah!" teriak Nathan, dia bangkit dan hendak menyusul Nadira. Namun, lambaian tangan Nadira yang menyuruh berhenti, membuat langkah Nathan, terhenti seketika.


"Kalau kamu ngejar aku maka kamu tidur saja di kamar tamu selama seminggu!" ancam Nadira dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Astaga, kamu kejam sekali dengan suamimu yang tampan ini," rengek Nathan, dengan raut wajah yang dibuat memelas.


"Masa bodoh!" Nadira pergi begitu saja. Rasanya hati wanita itu masih merasa sangat kesal karena ternyata, suaminya masih menyimpan foto wanita lain, walaupun dia tahu kalau wanita itu hanyalah sekretaris pribadi suaminya dulu, karena sekarang Jasmin sudah menetap di Bandung, dan bekerja bersama Febian.


"Beb! Maafkan aku!" Teriakan Nathan terdengar menggema di ruangan itu.


"Diamlah! Jangan ganggu orang tidur!" omel Alvino tanpa membuka mata, tetapi wajahnya terlihat menampilkan kekesalan.


"Al, adik kesayanganmu itu sedang marah denganku." Nathan berusaha mencari pembelaan.


"Rasain!" sahut Alvino dengan senyum meledek.


"Dasar kakak ipar lakn*t!" umpat Nathan. Dia hendak menyusul istrinya, tetapi melihat dua orang datang memasuki ruang keluarga, seketika menghentikan langkah Nathan begitu saja.