Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
279


Setibanya di apartemen, Febian kembali membopong Ara dan membawanya masuk. Kemudian, dia merebahkan tubuh wanita itu di tempat tidur. Ara hanya diam membisu dan memilih membalikkan badan saat Febian ikut naik ke atas tempat tidur. Ara membiarkan tangan Febian melingkar di perutnya begitu saja.


"Maafkan aku yang terlalu pecundang." Febian menghela napas panjangnya.


"Kenapa kamu sedari tadi meminta maaf, Mas? Kamu tidak bersalah sama sekali. Aku yang bersalah di sini karena sudah menjadi wanita yang tidak tahu diri."


Febian semakin mengeratkan pelukannya, "Jangan berbicara seperti itu. Aku membencinya!" Suara Febian mulai meninggi.


"Mas, aku tidak akan pernah menyesali pernikahan kita yang telah terjadi. Aku hanya tidak tahu kenapa kamu bisa memilihku menjadi istrimu padahal masih banyak wanita hebat yang lebih baik di sekitarmu." Ara berusaha menahan air mata yang hendak terjatuh lagi.


"Kamu wanita paling hebat bagiku." Febian semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak akan pernah ada apa-apanya jika dibanding wanita yang ada di dekatmu, Mas. Terutama Nona Jasmin." Ara terdiam saat merasakan hatinya kembali berdenyut sakit.


"Jangan berbicara seperti itu. Aku salah karena sudah berbohong padamu. Sebenarnya, gaun tadi aku siapkan untukmu, tapi aku malu dan malah menyebut nama dia." Febian memejamkan mata saat merasakan aliran darahnya terasa berdesir. Ara terdiam, dia merasa sedikit lega meski masih hatinya masih sakit.


"Mas, aku tahu tidak mudah menghapus seseorang yang berarti dalam hidup kita. Meskipun orang itu telah jauh, tetapi kenangannya akan tetap membekas bahkan bisa saja sampai nyawa meninggalkan raga." Ara menghela napas panjang untuk mengurangi sedikit beban yang terasa menghimpitnya.


"Aku sudah melupakannya sejak ada kehadiranmu," ucap Febian. Ara memegang tangan Febian yang masih melingkar di perutnya.


"Mas, kenapa kamu memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu? Padahal kamu tahu kalau aku ini hanyalah gadis kampung yang miskin, tidak cantik atau berpendidikan tinggi."


"Kamu tahu, cinta itu hadir tanpa alasan dan cinta tidak akan pernah peduli semua itu. Karena mencintai itu menerima seseorang tanpa peduli apa pun. Jujur ... aku sudah terpikat padamu sejak tatapan mata kita bertemu pertama kali," ucap Febian yang mampu menenangkan hati Ara.


"Mas—"


"Jangan berbicara apa pun. Percayalah kalau aku sudah mencintaimu saat ini. Kamu ini istriku dan aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan raga." Febian membalik tubuh Ara supaya menghadap padanya. Kemudian, dia mengusap pipi wanita itu dengan lembut untuk menghapus air matanya.


"Jangan lagi kamu berpikiran kalau kamu tidak pantas karena saat ini kamu adalah pemilik tahta tertinggi di sini." Febian menaruh tangan Ara di dadanya. Di mana hatinya terletak. Air mata Ara kembali turun.


"Jangan menangis," ucap Febian lirih.


"Aku hanya bahagia, Mas. Dicintai lelaki sebaik dirimu." Ara menunjukkan senyum bahagia, dengan gemas Febian mendaratkan banyak ciuman hampir di seluruh wajah wanita itu.


"Tidurlah. Kamu pasti sangat lelah." Febian memeluk Ara dan memejamkan mata.


"Kamu tidak bekerja?" tanya Ara.


"Tidak, aku masih ingin memeluk istriku." Febian menjawab tanpa membuka mata. Ara pun akhirnya mengikuti dan mereka berdua tertidur lelap.


***


Leona duduk dengan tangan bersidekap. Wajahnya terlihat memerah karena menahan amarah. Awalnya dia berusaha berdamai, tetapi setelah melihat tampilan CCTV, membuat amarah Leona naik tiba-tiba. Sementara wanita yang barusan menghina Ara, hanya berdiri dengan tangan saling merem*s.


"Kamu tahu apa kesalahanmu?" tanya Leona penuh penekanan.


"Ma-maafkan saya, Nona." Wanita itu tergagap. Sudut bibir Leona tertarik saat melihat ketakutan di wajah wanita tadi.


"Ke mana keberanianmu tadi!" bentak Leona, "Berani sekali kamu menghina Nona Muda keluarga Alexander!"


Amarah Leona meluap, bukan hanya karena Ara adalah istri Febian yang membuatnya marah, tetapi Ara adalah sahabat baik yang sudah dia tahu baik buruknya.


"Jangan pernah memandang siapa pun dari harta, pendidikan atau rupa! Tidak semua orang memiliki kekayaan berhati baik." Leona mengembuskan napas kasar untuk mengurangi emosi yang semakin menguasai.


"Pergilah sebelum aku semakin marah padamu!" usir Leona, tetapi wanita itu justru bersimpuh di depannya, bahkan terlihat air mata mulai membasahi wajah.


"Nona, maafkan saya. Jangan pecat saya," mohon wanita itu dengan derai air mata.


"Apa kamu tidak bisa mendengar dengan baik? Pergilah dari sini!" bentak Leona, telunjuknya mengarah ke arah pintu. Namun, wanita tadi tetap saja pada posisinya. Dia tidak akan pergi sebelum mendapat kata maaf dari Leona.


"Kasihan sekali kamu, Ra." Leona bergumam. Air mata tiba-tiba terjatuh rekaman CCTV tadi terputar dalam benaknya. "Aku harap Kak Bi bisa mencintai dan menyayangimu dengan tulus, Ra."


Ketika sedang berusaha meredam emosi, ponsel Leona terdengar berdering. Dengan segera dia mengangkat panggilan itu setelah melihat nama suaminya tertera di layar.


"Hallo, Mas."


"Sayang, apa kamu habis menangis?"


"Tidak." Leona berbohong karena tidak mau suaminya khawatir.


"Jangan pernah berbohong. Aku sebentar lagi sampai di kantormu. Kita jalan-jalan."


Wajah Leona berbinar bahagia, "Baiklah, aku akan menunggu di bawah."


Leona mematikan panggilan itu secara sepihak lalu bersiap untuk turun. Suaminya benar-benar pengertian kalau dirinya butuh hiburan saat ini. Hampir sepuluh menit menunggu di bawah, Leona tersenyum saat melihat mobil suaminya yang berjalan mendekat. Setelah mobil berhenti, tanpa menunggu Bara membuka pintu, Leona segera masuk ke sana.


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Leona. Bara bukannya menjawab justru menelisik wajah istrinya dengan seksama.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Bara penuh penekanan.


"Aku tidak menangis." Leona menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum simpul. Namun, setelah melihat sorot mata Bara yang menajam, Leona menghela napas panjangnya.


"Aku ceritakan nanti saat kita makan."


Bara pun melajukan mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan. Hampir lima belas menit dalam perjalanan, mobil Bara memasuki area parkir mall. Setelahnya, mereka berdua pun turun.


"Tunggu sebentar, Mas." Leona menahan langkah Bara hingga membuat lelaki itu mengerutkan kening karena merasa heran. Leona tidak menjawab, dia justru berjalan mendekati dua orang yang sedang mengobrol di samping mobil.


"Hendra!" Dua orang itu menoleh ke arah Leona sebelum akhirnya terlihat begitu terkejut.


"Kamu Hendra 'kan?" tanya Leona memastikan.


"Le-Leona," panggil lelaki itu gugup. Bara yang baru saja berhenti di samping Leona merasa heran karena baru pertama kali dirinya melihat mereka.


"Bagaimana kamu ada di sini?" tanya Leona menuntut jawaban.


"Aku mencari Ara."


💦💦💦


wehhh, siapa itu Thor??


Siapa hayooo??


Lanjut?? Lanjutlah Thor 😅


dukungan jangan lupa dukungan Yee


Semakin banyak dukungan, Othor bakal semakin sering update.


FB : Rita Anggraeni( Tatha)


IG : @tathabeo


Barangkali ada yang mau ngirim seblak pedas buat teman ngetik, wkwkwk