Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
106


"Wow, amazing!"


Mendengar langkah kaki yang mendekat, Nadira segera mengambil jubah mandi yang baru saja dia taruh di atas kasur. Namun, ternyata dia kalah cepat dari Nathan yang langsung membuang jubah mandi itu kesembarang tempat.


"Kak Nathan!" pekik Nadira, dan disambut decihan kesal dari suaminya.


"Kenapa kamu memanggilku seperti itu lagi?" protes Nathan.


"Masa bodoh! Di mana jubah mandiku!" teriak Nadira. Dia menutupi tubuhnya yang hanya berbalut kaos, bahkan pusat tubuhnya pun terlihat sampai-sampai Nathan susah payah menelan saliva nya.


"Kamu sexy sekali, Sayang. Pas banget buat obat lelahku." Nathan mendekati Nadira, tapi wanita itu justru memundurkan langkahnya. Nadira tampak begitu gugup, apalagi melihat sorot Nathan yang penuh napsu.


"Kak—" Belum selesai Nadira bicara, Nathan sudah menarik tubuh istrinya hingga tubuh mereka jatuh di atas tempat tidur. Nathan langsung menindih tubuh Nadira, dan mengungkungnya.


"Panggil aku Mas," suruh Nathan. Namun, wanita itu justru membisu, bukannya tidak mau, tapi dia masih terlalu malu untuk mengatakannya secara langsung. Melihat istrinya yang hanya diam, Nathan segera mencium bibir istrinya dengan sangat lembut. Bahkan Nadira sampai begitu menikmatinya.


"Kamu tidak ingin memanggilku Mas?" tanya Nathan lagi, tapi Nadira masih saja bungkam. "Baiklah, sepertinya aku harus sedikit memaksamu."


Nadira menelan saliva saat mendengar ancaman Nathan. Dia benar-benar merasa begitu takut saat ini. Suasana kamar itu begitu hening. Nathan masih memberi sentuhan-sentuhan untuk istrinya dengan sangat lembut.


Dia mulai menurunkan ciumannya, menyapu leher jenjang Nadira, hingga membuat wanita itu tak mampu lagi menahan desah*n. Apalagi, saat Nathan mulai meremas dua bukit kembar dengan sesekali menyes*p cocho chip di ujungnya. Rasanya, tubuh Nadira seakan melayang.


"Mas," des*h Nadira dengan napas yang begitu memburu. Hal itu justru membuat hasrat Nathan semakin menggebu-nggebu. Nathan kembali menciumi leher jenjang istrinya dengan tangan yang mulai bergerilya di bawah sana.


Tubuh Nadira mulai menggelinjang saat dia merasakan sebuah perasaan aneh yang baru dia rasakan saat ini. Sentuhan suaminya benar-benar membuatnya terbuai. Sampai cukup lama Nathan bermain di sana, tiba-tiba Nadira mencengkeram lengan Nathan dengan sangat kuat bahkan dadanya sampai membusung tinggi. Namun, sesaat kemudian tubuhnya terasa begitu lemas seperti tersengat aliran listrik.


Nathan terdiam sesaat, membiarkan Nadira istirahat. Dia menghujami wajah Nadira penuh dengan cinta. "Kamu lelah?" tanya Nathan. Bibir lelaki itu tersenyum melihat wajah istrinya yang sudah penuh keringat.


"Mas, apa sudah?" tanya Nadira polos.


"Belum. Sekarang saatnya kita ke inti, Sayang." Nathan melepas semua pakaian. Nadira yang melihat, hanya memalingkan wajah malu, apalagi saat melihat senjata Nathan yang sudah berdiri menantang.


"Mas, aku takut," ucap Nadira lirih.


"Tenanglah, aku akan melakukan dengan sangat lembut," bisik Nathan tepat di telinga Nadira.


Ketika Nathan sudah memasang kuda-kuda, hendak memasukkan si Othong ke rumahnya, tiba-tiba ponsel Nadira terdengar berdering. Namun, Nathan tetap meneruskan kegiatannya.


"Mas, ada telepon, siapa tahu penting." Nadira berusaha menyingkirkan tubuh Nathan yang menindihnya, tapi semua percuma. Suaminya tidak bergeser sedikit pun.


"Biarkan saja, paling juga kakakmu yang menyebalkan. Nanti kita telepon balik." Nadira pun hanya pasrah. Dia kembali mendes*h saat Nathan kembali menggerayanginya.


"Mas! Sakit!" pekik Nadira saat Othong berhasil menerobos pintu rumahnya. Bahkan Nadira sampai mencakar punggung suaminya. Nathan terdiam sesaat, membiarkan tubuh Nadira menerima terlebih dahulu. Setelah beberapa detik berlalu, Nathan mulai memompa perlahan. Ketika mendengar desah*n Nadira yang begitu sexy, Nathan pun semakin menghentak-hentak. Sampai mereka berdua mencapai puncak Nirwana bersama.


Komen sepi, Kalian Othor jewer satu satu!