Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
242


Hallo gaes


mulai Bab ini Othor bawa kalian jalan-jalan nyimak kisahnya Febian ya


jadi untuk ibu hamil muda Othor skip dulu.


Happy Reading dan jangan lupa beri dukungan kalian buat Othor tercantik menurut emak Othor πŸ˜…πŸ˜…


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Dua hari telah berlalu. Mila dan Johan sudah kembali ke Jakarta dan tinggal di Mansion Alexander untuk membantu Nadira mengurus Baby B, juga persiapan Aqiqah Baby B nanti. Febian masih saja bungkam soal penyebab kandasnya hubungan dengan Jasmin padahal Nadira sudah berusaha memancing-mancing.


"Mas, bisakah kamu merayu Bi supaya dia mengatakan kenapa bisa putus dari Jasmin?" pinta Nadira. Nathan merangkul pundak istrinya dan mendaratkan ciuman di pipi wanita itu.


"Mungkin mereka belum jodoh." Nathan berusaha menenangkan, tetapi Nadira justru menghela napas panjangnya.


"Aku bisa melihat kalau Bi masih sangat mencintai Jasmin. Apakah mungkin Jasmin selingkuh?" tukas Nadira.


"Tidak mungkin." Nathan mengelak cepat yang membuat Nadira menatap penuh selidik ke arahnya. "Beb, yang aku tahu Jasmin itu adalah gadis yang setia, baik, dan juga lemah lembut."


Nathan tidak menyadari kalau pujian untuk Jasmin yang barusan terlontar dari mulutnya berhasil membuat hati Nadira terasa memanas. Namun, sebisa mungkin Nadira tetap bersikap biasa saja.


"Tidak seperti aku yang tidak pernah bisa lemah lembut." Nadira menyingkirkan tangan Nathan lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Nathan begitu saja.


"Beb, kamu mau ke mana?" tanya Nathan setengah berteriak, tetapi Nadira bersikap tidak peduli dan tetap berjalan pergi menjauh.


"Apakah mungkin Ayang Bebebku cemburu?" gumam Nathan sebelum akhirnya memilih untuk mengejar istrinya.


Nadira menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kasur. Beruntung, Baby B sudah tertidur lelap maka dia bisa merajuk sepuasnya. Dia sengaja tengkurap dan menyingkap sedikit daster yang saat ini sedang dikenakan. Nadira menghitung dalam hati, dan saat hitungan ketiga pintu kamar terbuka.


Dengan langkah terburu Nathan mendekati istrinya, tetapi dia justru terdiam di tepi tempat tidur saat melihat paha mulus istrinya yang membuat Nathan merasakan tubuhnya panas dingin, bahkan si Othong sudah mulai menunjukkan pesonanya.


"Beb, jangan goda aku." Nathan menindih tubuh Nadira mendaratkan ciuman di tengkuk wanita itu sehingga membuat seluruh tubuh Nadira terasa meremang.


"Siapa yang menggoda? Ingat, Mas! Aku ini masih nifas dan kamu masih harus berpuasa selama tiga puluh tujuh hari!" beber Nadira yang membuat Nathan mendadak lesu begitu saja.


"Mas, kamu yang benar saja! Aku tidak mau!" tolak Nadira tegas.


"Beb," rengek Nathan dengan wajah yang penuh memelas.


"Kasihan Baby B, Mas. Aku mau tidur saja, udah malam. Sebentar lagi juga aku harus bangun pas nyusui Baby B." Nadira berusaha menyingkirkan tubuh Nathan dari atasnya.


"Baiklah. Selamat tidur, Beb." Nathan mengecup pipi Nadira lalu pergi ke kamar mandi untuk melakukan kegiatan rutin yang akan menemaninya selama Nadira sedang dalam masa nifas. Nadira yang melihat suaminya pergi, hanya menggeleng sembari tersenyum lebar.


***


"Bi, ada yang akan aku bicarakan denganmu," kata Nathan.


Setelah selesai berfantasi, Nathan menuju ke dapur untuk mengambil minuman dingin, tetapi dia justru bertemu Febian yang sedang sibuk makan mie instan. Nathan pun teringat akan permintaan istrinya tadi. Febian menatap kakak iparnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Mereka berdua pun duduk di kursi panjang yang langsung menghadap ke kolam renang.


"Hal apa yang akan Kak Nathan bicarakan?" Febian bertanya malas karena sejujurnya dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh kakak iparnya itu.


"Kata Nadira hubunganmu dengan Jasmin sudah kandas. Apa benar?" tanya Nathan pada akhirnya.


"Ya, sudah sekitar satu minggu yang lalu," sahut Febian.


"Kenapa?" tanya Nathan menyela.


"Mungkin karena kita tidak jodoh. Sudahlah, aku ingin istirahat." Febian hendak bangkit, tetapi Nathan menahan gerakan lelaki itu.


"Bi, mungkin kamu bisa menyimpan masalahmu sendiri, tetapi ada kalanya kamu butuh orang lain sebagai tempat curhat dan aku yakin setelah curhat, hatimu akan sedikit lebih tenang meski aku tidak bisa memberikan solusi."


Febian menatap Nathan dengan sangat lekat. Sebenarnya dia merasa begitu ragu untuk mengatakan semuanya, tetapi apa salahnya mencoba.


"Kita ini sekarang keluarga. Sudah seharusnya kita saling membantu dan menenangkan di saat yang lain sedang tertimpa masalah," imbuh Nathan.


Febian kembali duduk bersandar, dan menggaruk kasar tengkuknya yang tidak gatal. Dia menghela napas panjang sebelum menceritakan semua masalahnya.


habis ini kita main ke flashback penyebab kandasnya hubungan Febian ya gaesss