
Waktu terus berjalan, tanpa terasa kini usia kehamilan Nadira sudah memasuki tiga puluh lima minggu, perutnya sudah sangat membuncit sama seperti Queen. Sementara Ana tinggal menunggu hari kelahiran ketiga buah hatinya yang diperkirakan berjenis kelamin dua cowok dan satu cewek. Kenan meminta Ana supaya melahirkan secara caesar, tetap Ana bersikukuh ingin melahirkan normal.
Cacha yang kini menetap di Singapura berencana akan pulang ke Indonesia saat Nadira akan melahirkan. Kembali lagi seperti saat Baby Jin dan Jun lahir, Mila menjadi wanita tersibuk karena dirinya akan ikut mengurusi bayi kembar itu bersama Rose—mama Kenan.
"Baby Jin! Uncle pulang!" teriak Nathan saat memasuki ruang tamu di mansion Alexander. Semenjak kandungan Nadira sudah memasuki trisemester ketiga, Alvino memboyong keluarganya tinggal di mansion Alexander untuk berjaga-jaga.
Mendengar suara Nathan, Jinny yang sedang dalam gendongan baby sitter langsung meronta meminta turun. Bayi bertubuh gembul itu merangkak menuju ke pintu keluar.
"Tatatata," celoteh Jinny. Nathan segera membopong bayi itu, mengangkatnya tinggi yang membuat Jinny tertawa lebar dan empat giginya terlihat.
"Kamu kangen sama uncle?" Nathan menurunkan Jinny dan mencium pipi bayi itu dengan gemas. Sementara Junno sibuk dengan mobilannya tanpa merasa terganggu sama sekali.
"Hai jagoan." Nathan mendekati Junno dan mencium pipinya, tetapi bayi laki-laki itu hanya diam dan tetap sibuk bermain.
"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Nadira yang baru saja keluar dari dapur. Nathan tidak menjawab, dia mendaratkan ciuman di seluruh wajah Nadira tak lupa juga di perut Nadira yang semakin membuncit.
"Kamu habis ngapain dari dapur, Beb?" Nathan kembali bangkit dan merangkul Nadira dengan mesra, sedangkan satu tangannya masih menggendong Jinny.
"Aku habis makan tempe, perutku lapar sekali, Mas." Nadira berbicara merengek membuat Nathan semakin gemas dengan wanita berperut buncit tersebut.
"Al belum pulang?" tanya Nathan. Dia mengajak Nadira duduk di sofa.
"Belum. Rania sedang ke rumah sakit sebentar karena Ana sudah kontraksi, kemungkinan Kak Al sama Kak Kenan langsung ke sana," tutur Nadira. Nathan hanya mengangguk paham, tetapi lelaki itu menautkan alis saat melihat raut wajah Nadira yang terlihat sendu.
"Apa ada hal yang menganggu pikiranmu?" tanya Nathan menyelidik.
"Mas, aku lagi ngebayangin pas lahiran kok rasanya takut. Katanya orang lahiran itu taruhannya nyawa," ucap Nadira lirih. Nathan menyandarkan kepala Nadira di bahunya, sedangkan Jinny terlihat sibuk memainkan kancing kemeja Nathan.
"Aku yakin kamu pasti bisa, Beb. Aku akan selalu menjagamu. Semoga kalian berdua sehat dan selamat. Bukankah kamu sudah tidak sabar ingin melihat putra kita?" tanya Nathan memberi semangat.
Nadira tidak menjawab, hanya mengusap perutnya dengan perlahan. Bibirnya tersenyum lebar saat merasakan tendangan dari dalam sana.
"Hai Baby B, kamu menyapa papi? Sehat-sehat ya, Sayang." Nathan ikut mengusap perut Nadira. Usapan itu sesekali terhenti saat merasakan tendangan dari putranya yang membuat Nathan merasa bahagia.
Nathan menyerahkan Jinny kembali ke pengasuh karena dia ingin beristirahat sebelum ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ana. Kini, mereka sedang tiduran di atas tempat tidur. Nathan tidak melepaskan pelukannya. Akhir-akhir ini Nadira selalu saja cemas jika teringat tentang melahirkan.
"Daripada kamu selalu tegang, lebih baik kita olahraga, Beb." Nathan berusaha mengalihkan pembicaraan. "Cukup Othong aja yang tegang, kamu jangan."
Nadira memukul dada suaminya karena kesal. "Pikiranmu tidak pernah jauh-jauh hal itu, Mas!"
"Ya, gimana lagi, Beb." Nathan terkekeh dan mencium pipi Nadira dengan mesra. "Katanya kalau sudah hamil tua itu harus sering-sering melakukan anu supaya cepat pembukaan, Beb."
"Ya biar kamu makin hafal, kita lakukan anu sehari tiga kali," seloroh Nathan diiringi gelakan tawa.
"Kamu pikir minum obat?" Suara Nadira meninggi, tetapi Nathan tetap terlihat tenang. Tangan lelaki itu justru menelusup masuk ke bagian dada Nadira dan meremasnya. Nadira pun mendes*h saat Nathan memainkan kedua put*ngnya secara bergantian.
"Ternyata buahmu sudah membesar dua kali lipat, Beb." Nathan kini menaikkan baju Nadira hingga kedua benda kenyal itu terpampang jelas di depan mata. Tubuh Nathan memanas dan rasanya dia tidak sabar ingin segera melahapnya.
Sementara Nadira hanya diam menerima sentuhan-sentuhan dari suaminya karena dirinya merasa begitu terbuai. Nathan mencium perut Nadira berkali-kali sembari membisikkan beberapa kata-kata kepada calon buah hatinya.
"Mas, ini masih sore." Nadira berusaha menolak, tetapi Nathan tetap saja memberikan sentuhan-sentuhan yang begitu memabukkan.
"Apa, Sayang?" Nathan bermonolog sembari menempelkan telinga di perut buncit Nadira. "Oh, kamu kangen papi? Apa? Minta dijenguk? Baiklah kalau begitu papi otewe ya," celetuk Nathan.
Nadira memukul lengan Nathan cukup kencang, tetapi bibirnya tak kuasa untuk tidak tertawa. "Astaga, Mas. Jangan membuat perutku semakin kram," ucap Nadira disela gelakan tawanya.
"Aku mencintaimu, Beb." Nathan kembali menciumi seluruh wajah Nadira dengan penuh sayang. Nadira pun tak kuasa menahan des*han saat bibir Nathan menyapu seluruh tubuhnya yang entah sejak kapan sudah telanjang bulat. Nathan juga sama, tidak ada pakaian yang menempel di tubuh lelaki itu lagi.
"Kamu atas ya, Beb. Aku tidak mau menindih anak kita." Nathan tiduran, sedangkan Nadira menurut dan duduk di atas tubuh suaminya. Setelah merasa siap, Nathan mengarahkan Othong hendak masuk ke dalam rumahnya. Namun, baru saja menyentuh pintu masuk, terdengar suara ponsel Nathan yang berdering.
Nathan tidak peduli, tetapi dering ponsel itu begitu menganggunya. Nathan pun meminta Nadira menunggu sebentar tanpa turun dari tubuhnya. Lelaki itu menggeram kesal saat melihat nama Alvino tertera di layar.
"Dasar perusuh!" Nathan mengumpat dan hendak mematikan panggilan itu, tetapi Nadira mencegah dan meminta Nathan supaya mengangkatnya karena takut ada hal penting.
"Hallo, Al." Nathan menyapa malas.
"Nat, kamu sudah di mansion?" tanya Alvino.
"Sudah, baru saja. Ada apa, Al? Kalau tidak ada hal penting, aku mau istirahat, udah capek banget."
"Nat, aku titip Jinny dan Junno dulu ya. Aku masih di rumah sakit, bayi Ana hampir lahir."
"Oke, Bos. Aku matikan dulu. Nanti gantian aku yang ke sana."
Nathan mematikan panggilan itu begitu saja sekaligus mematikan ponselnya karena tidak ingin ada yang mengganggu. "Kita sampai mana, Beb?" tanya Nathan setelah menaruh ponselnya.
"Ingat aja sendiri!" jawab Nadira ketus. Nathan terkekeh saat melihat wajah kesal istrinya karena adegan dewasa mereka harus terjeda iklan. Tanpa banyak bicara, Nathan kembali menggerayangi seluruh tubuh Nadira dan bersiap untuk melakukan adegan anu-anu.
Namun, saat Othong baru menempel, datang perusuh lagi. Kali ini, tangisan Jinny yang terdengar menggelegar di depan pintu. Baik Nathan maupun Nadira merasa sangat kesal.
"Tidak anak, tidak bapak! Sama aja! Tukang rusuh!" protes Nathan. Dia geram karena adegan dewasa itu gagal terjadi. Tangisan Jinny tidak akan berhenti kalau Nathan belum menggendong bocah kecil itu