Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
237


Nadira mulai merasa tidak nyaman, bahkan semalaman dia tidak bisa tertidur karena perutnya beberapa kali terasa kencang. Nathan pun tak melepaskan pelukannya, sesekali dia mengusap perut istrinya saat melihat Nadira mengernyit.


"Sakit banget ya, Beb?" tanya Nathan khawatir. Nadira menggeleng lemah.


"Tidak terlalu, Mas. Kadang sakit kadang enggak." Nadira pun ikut mengusap perutnya.


"B, jangan nakal ya. Jangan buat mami kesakitan. B harus jadi anak baik, ya." Nathan mencium perut Nadira dengan lembut.


Semakin waktu berlalu, Nadira pun semakin merasa begitu kesakitan. Bahkan dalam jeda waktu yang begitu singkat. Tanpa menunggu lama, Nathan segera memanggil Alvino karena dia akan membawa Nadira ke rumah sakit saat itu juga.


Setibanya di rumah sakit, Nadira langsung diperiksa Dokter Angel dan ternyata sudah pembukaan tujuh. Mereka pun segera bersiap untuk menyambut kelahiran bayi Kaleng Rombeng.


"Mas, sakit." Nadira akhirnya tak kuasa menahan rintihan saat rasa sakit itu benar-benar sangat menyakitkan. Bahkan dia mengembuskan napas kasar berkali-kali.


Nathan yang melihat Nadira kesakitan pun menjadi sangat tidak tega, bahkan air mata terlihat membasahi sudut matanya. "Beb, maafkan aku sudah membuatmu sakit seperti ini," ucap Nathan lirih.


"Tidak apa, Mas." Nadira menjawab singkat karena dia semakin kesakitan.


"Kalau kamu mau jambak, atau cubit aku. Lakukanlah, Beb. Aku tidak mau kamu sakit sendirian."


Mendengar itu, Nadira segera menarik lengan Nathan dan menggigitnya dengan kuat. Nathan pun berteriak kesakitan sampai mengejutkan Dokter Angel dan perawat di sana.


"Sakit, Beb." Nathan meniup lengan kanannya yang sudah terlihat bekas gigi Nadira.


"Aku lebih sakit, Mas." Nathan pun hanya bisa diam dan kembali duduk di samping Nadira dengan tangan menggenggam erat.


"Dok, rasanya sudah sangat sakit." Nadira berbicara sedikit terbata. Dokter Angel segera memeriksa dan mengatakan kalau sudah pembukaan lengkap. Kedua kaki Nadira terbuka lebar, Dokter Angel memberi arahan saat mengejan supaya tidak robek.


"Mengejanlah kalau sudah ingin mengejan, Nona."


"Egghhh!!" Bukan Nadira yang mengejan, tetapi justru lelaki somplak yang di berada di tepi brankar yang melakukan arahan Dokter Angel.


Mereka tak kuasa menahan tawa, sedangkan Nadira kembali menggigit lengan Nathan.


"Kenapa malah kamu yang mengejan, Mas!" protes Nadira kesal.


"Aku bantuin kamu, Beb. Biar kamu enggak mengejan sendirian. Kita 'kan waktu membuatnya mendes*h bareng-bareng, Beb." Nathan menjawab tanpa dosa. Nadira hanya menatap tajam sesaat karena dia kembali merasakan sakit yang amat hebat.


Dia tidak peduli meski suaminya ikut mengejan bahkan lelaki itu beberapa kali mengembuskan napas kasar seperti yang dia lakukan. Karena Nadira fokus pada kelahiran putranya yang rambutnya mulai terlihat.


"Terima kasih banyak, Beb. Kamu luar biasa." Nathan ******* bibir Nadira tanpa peduli pada manusia lain yang berada di ruangan itu. Nadira memukul lengan Nathan setelah lelaki itu melepas ciumannya.


"Mas! Malu." Wajah Nadira sudah merona merah, tetapi Nathan bersikap biasa saja.


"Tidak apa, Beb. Buat apa malu, kan kita pasangan sah suami istri."


Nadira tidak menanggapi, dia fokus pada bayi yang saat ini dibopong seorang perawat karena Dokter Angel baru selesai membersihkan **** ********** Nadira termasuk mengeluarkan plasenta.


Bayi mungil dengan berat tiga kilo itu saat ini berada di atas dada Nadira untuk melakukan proses IMD. Bibir Nathan tersenyum saat melihat anak dan istrinya. Dia merasa begitu bahagia saat ini.


"Kalian adalah hal luar biasa yang aku miliki." Nathan mencium kening Nadira dan bayinya secara bergantian. Sungguh, kebahagiaan mereka kini sudah lengkap.


***


Ruang perawatan VVIP terasa ramai karena keluarga Jonathan berkumpul di sana melihat cucu pertama Johan dan Mila. Sementara Queen juga sudah bersiap-siap karena dirinya sebentar lagi juga akan melahirkan. Dua hari lagi jika sesuai perkiraan.


Mila sedari tadi melihat bayi mungil yang saat ini sedang berada di box bayi dan tertidur lelap. Wajah bayi laki-laki itu sangat mirip dengan Nathan meski ada sedikit perpaduan dengan wajah Nadira.


"Kak, Baby B nama lengkapnya siapa?" tanya Cacha, ibu hamil muda.


"Bobby Chairil Saputra," sahut Nathan dengan bangga.


"Wah selamat datang BoboyBoy kesayangan Oma," ucap Mila dengan santai, mengundang gelakan tawa mereka. Namun, tidak dengan Nathan yang langsung protes dengan sang bunda.


"Bun, jangan asal manggil. Nama dia bagus Bobby!" ketus Nathan.


"BoboyBoy juga bagus, punya kekuatan super." Mila masih menjawab dengan tenang.


"Mil!" panggil Johan setengah berteriak. Mila menunjukkan rentetan gigi putih dengan jari tanda damai.


"B, jangan dengerin Oma kamu yang kadang suka melenceng," ucap Nathan santai.


"Kamu juga sama aja, Nat. Ingat! kita ini satu frekuensi," timpal Mila.


"Sudah, kalian sama-sama satu spesies jadi mending diem!" ucap Johan yang membuat Mila dan Nathan akhirnya diam.