
Cacha begitu tercengang setelah mendengar fakta tentang suaminya. Dia benar-benar masih tidak percaya kalau Mike ternyata seorang pewaris tunggal Anderson Group. Cacha menelisik tatapan sang ayah untuk memastikan apa yang Johan ucapkan memanglah benar.
"Kenapa Ayah bilang kalau Mike, dipungut setelah orang tuanya meninggal?" tanya Cacha, masih menatap lekat sang ayah.
"Karena tidak ada boleh yang tahu tentang Mike Anderson. Louis khawatir kalau pamannya masih berusaha mencari dan mencelakai dirinya, apalagi jika tahu Mike adalah keturunan Anderson, tapi sekarang keberadaan Mike sudah diketahui setelah pernikahan kalian," jelas Johan.
"Yah, apa Mike akan baik-baik saja?" tanya Cacha cemas. Mendengar pertanyaan putrinya, bibir Johan tersenyum lebar.
"Ayah yakin kalau suamimu akan baik-baik saja. Jangan pernah meragukan kemampuannya, dia juga punya banyak anak buah. Apalagi sekarang ada keluarga Anderson juga," sahut Johan yakin.
Cacha kembali diam, entah mengapa dia merasa begitu gelisah. Ada sebuah kekhawatiran yang teramat besar yang menyusup masuk ke hatinya. Melihat raut wajah putrinya yang tampak tidak tenang, Mila segera memeluk putrinya dengan erat.
"Kamu khawatir?" tanya Mila lembut. Cacha tidak menjawab, hanya mengangguk lemah. "Yakinlah kalau Mike akan baik-baik saja."
"Yah," panggil Cacha saat melihat Johan bangkit berdiri dan berpindah duduk di kursi kerja Cacha. Lelaki itu meneliti berkas-berkas yang berada di meja itu. "Apa Ayah menikahkan Cacha dengan Mike karena dia pewaris Anderson?"
Johan mengalihkan pandangannya ke arah Cacha dengan cepat. "Mana mungkin ayah menikahkan kamu dengan Mike karena dia pewaris Anderson. Ayah bukanlah manusia gila harta," elak Johan.
"Cha, ayah tidak mencari pendamping hidup untukmu karena harta atau jabatan. Ayah menjodohkan kalian karena hanya Mike yang ayah percaya bisa menjaga kamu. Lagi pula, Mike sangat mencintai kamu sejak dulu," terang Johan.
"Dari mana Ayah tahu?" tanya Cacha.
"Ayah bisa melihat dari sorot matanya. Apalagi bagaimana cara dia melindungimu, dan membalas orang-orang yang sudah melukaimu. Contohnya saja Sabrina," sahut Johan.
"Sabrina? Ada apa dengan Sabrina? Kenapa ayah tahu tentang dia?" tanya Cacha heran, bahkan keningnya sampai mengerut.
"Tentu saja ayah tahu semuanya. Gadis yang sudah menghinamu sebagai sugar baby, kini mendekam di penjara—"
"Apa? Penjara?" sela Cacha setengah berteriak.
"Cha, apa Mike memperlakukanmu dengan baik?" Kali ini, Mila yang melontarkan pertanyaan diiringi usapan di rambut hitam putrinya yang tergerai.
"Sangat, Bun. Mike benar-benar membuat hidup Cacha begitu sempurna dan bahagia. Dia selalu memperlakukan Cacha dengan sangat lembut dan penuh cinta," sahut Cacha antusias.
"Kalau begitu, jangan pernah sia-siakan lelaki sebaik dia, walau umur kalian terpaut jauh setidaknya dia bisa melindungi dan mencintaimu dengan tulus." Cacha mengangguk cepat mendengar ucapan sang bunda.
Mereka pun melanjutkan obrolan dengan banyak hal. Cacha merasa bahagia karena selama Mike di Singapura, kedua orang tuanya akan tinggal bersama. Setidaknya, dia tidak terlalu kesepian karena jauh dari lelaki tersebut.
***
Di sebuah mansion megah di Negara Singapura bagian selatan. Mike duduk di ruang keluarga bersama dengan kakek dan neneknya yang telah renta, tetapi masih terlihat sehat. Richard menatap lekat cucunya yang begitu gagah dengan senyum mengembang. Dua kali Mike datang ke mansion Anderson, dan kekaguman Richard kepada sang cucu tidak pernah berkurang.
Ketika menatap kakek neneknya, terutama wajah Richard, Mike menjadi sangat merindukan ayahnya. Wajah sang ayah menuruni hampir delapan puluh persen wajah Richard.
"Aku merasa sangat bangga, Louis bisa memberikan pria segagah dirimu bahkan menyematkan nama Anderson di belakang namamu, ya, meskipun baru kutahu sekarang," ucap Richard. Suara lelaki itu terdengar tegas, khas seorang pemimpin.
"Maafkan aku, Kek. Selama ini aku tahu kalau ada darah Anderson di tubuhku, tapi aku lebih memilih diam karena papa pernah berpesan sebelum pergi, untuk jangan mendekati keluarga ini, sampai aku benar-benar mampu," sahut Mike sopan.
Mendengar jawaban Mike, baik Richard maupun Elie—nenek Mike, tanpa sadar menitikkan air mata. Mereka begitu sedih karena tidak bisa lagi melihat putra semata wayang mereka yang hanyut saat berusia tujuh tahun. Padahal Richard sudah mengerahkan segala cara untuk menemukan keberadaan putranya, tetapi hasilnya nihil.
"Kamu sudah tahu tentang Yosie?" tanya Elie.
Mike mengangguk cepat, "Aku pernah dengar dari papa saat menitipkanku pada Tuan Johan."
Richard dan Elie sama-sama menghela napas panjang. "Mike, Yosie sudah tahu kalau kamu adalah anak Louis, dan pewaris tunggal di keluarga Anderson saat ini. Jika suatu saat, Yosie datang menyerangmu, apa kamu sudah siap?" tanya Richard cemas.