Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
295


Karena celetukan Leona, mereka akhirnya mampir di sebuah klinik untuk memeriksa Ara. Padahal Ara sudah menolak keras karena dirinya belum terlambat datang bulan. Tan.ggal biasa dia datang bulan masih dua hari lagi, tetapi Febian tetap bersikukuh.


"Mas, mana mungkin aku hamil. Belum waktunya aku datang bulan." Ara mendesah kasar.


"Kita tetap harus memeriksa." Febian masih saja tidak mau kalah. Ara yang merasa malas untuk berdebat pun akhirnya memilih untuk mengikuti suaminya. Tangannya seolah hendak memukul Leona yang saat ini sedang terkikik sendiri.


Ara melakukan testpack untuk membuktikan kalau dirinya tidaklah hamil. Sembari menunggu, wanita itu bersandar tembok toilet. Setelah satu menit berlalu, Ara mengambil tespack itu untuk melihat hasilnya. Dia menghela napas panjang saat melihat satu garis terlihat di alat itu. Inilah yang membuat Ara merasa malas untuk melakukan tespack, karena hasilnya pasti akan sama —negatif–.


Dengan lesu, Ara keluar dari toilet dan mendekati meja dokter di sana. Febian yang melihat raut wajah istrinya pun sudah bisa menebak hasil tespack itu.


"Kamu tidak hamil?" tanya Febian tidak sabar. Ara menggeleng lemah.


"Bukankah sudah kubilang kalau aku belum telat datang bulan?" Ara mendecakkan lidah karena kesal. Febian yang melihat itu pun hanya terkekeh.


"Mungkin kita harus berusaha lebih keras lagi, Sayang." Febian mencium pipi Ara tanpa malu. Wajah wanita itu pun tampak merona merah.


"Nona, nanti kalau sampai seminggu Anda belum telat juga, bisa langsung di test saja." Ucapan dokter itu mampu mengalihkan perhatian mereka.


Febian dan Ara pun hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian, mereka berpamitan dari sana, dan begitu keluar ruangan langsung disambut serentetan pertanyaan dari Leona. Desah*n kasar terdengar dari mulut Leona saat Ara mengatakan kalau hasilnya negatif.


"Sudahlah. Nanti kalau sudah waktunya dia hadir juga pasti akan hadir." Febian pun mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan.


***


Mila yang sedang membantu membuat sarapan, segera menghentikan kegiatannya dan melangkah lebar ke ruang depan saat mendengar teriakan Cheryl—anak Rayhan—. Ketika mereka sudah berhadapan, Mila segera memeluk cucunya dengan erat, dan tak lupa banyak kecupan mendarat di wajah bocah kecil itu.


"Oma, di mana adik bayi?" tanya Cheryl dengan gaya cadelnya.


"Masih di kamar Om Bi, Cheryl mau lihat?" tanya Mila. Bocah itu mengangguk dengan sangat antusias. Mila pun membopong dan mengajak Cheryl ke kamar Nadira diikuti Queen juga Rayhan.


Ketika sampai di kamar, terlihat Nadira yang baru saja menidurkan bayi Citra. Cheryl berteriak kegirangan saat melihat bayi mungil itu.


"Oma, dia cantik." Cheryl menunjuk wajah Citra.


"Iya, Sayang. Cantik seperti kamu." Senyum Mila sama sekali tidak memudar.


"Nad, maaf ya, aku baru saja datang ke sini." Queen mencium kedua pipi Nadira bergantian.


"Tidak apa, Kak. Makasih udah datang." Nadira membalas dengan lembut.


"Kak Queen sedang hamil lagi?" tanya Nadira saat melihat perut Queen yang sedikit membuncit. Queen mengangguk cepat dengan bibir tersenyum lebar.


"Kenapa kalian tidak bilang?" tanya Mila sedikit ketus.


"Jangan marah Oma cantik, kita sengaja merahasiakan ini sampai kehamilan Queen masuk bulan keempat." Rayhan merangkul pundak Mila dan mencium pipi wanita paruh baya itu untuk meredam kekesalannya.


"Kamu baru selesai, Mas?" tanya Nadira kesal karena suaminya mandi hampir satu jam.


"Iya, Beb. Eh ada Kak Rayhan sama Kak Queen. Sudah lama?" sapa Nathan.


"Baru aja. Kamu habis mandi, Nat?" tanya Rayhan. Nathan menghembuskan napas kasar. Dalam hati, dia mengumpati kakaknya itu karena menganggap Rayhan bodoh dengan pertanyaannya.


"Kamu mandi lama banget, Mas. Hampir sejam!" omel Nadira.


"Gila! Laki mandi lama bener," ucap Rayhan tidak percaya.


"Maklum, sih, Kak. Aku 'kan habis olahraga tangan buat penambah stamina." Nathan mengambil baju ganti yang sudah disiapkan Nadira di atas meja.


"Olahraga tangan?" Kening Queen terlihat saling bertautan.


"Jangan pura-pura bodoh, Kak. Kalau tidak tahu, tanya aja sama Kak Rayhan waktu Kak Queen nifas, dia di kamar mandi ngapain aja," gerutu Nathan. Dia melangkah pergi untuk berganti pakaian.


"Astaga, Nathan. Kasihan sekali nasibmu," ledek Rayhan. Dia tertawa dengan puas.


"Pa ... olahraga tangan itu apa?" tanya Cheryl membuat merek semua terdiam.


"Iya, apa?"


"Astaga!" Mila mengusap dada karena terkejut dengan Bobby dan Jinny yang sudah berdiri di samping Mila.


"Kapan kalian masuk?" tanya Mila heran.


"Tadi, Oma. Olahraga tangan itu apa?" tanya Jinny lagi karena belum mendapat jawaban.


"Jadi, olahraga tangan, tuh, gini ...." Mila berdiri tegak di samping cucunya. "Satu ... dua ... tiga. En wan ... en tu ... en tri ... encok Oma, Astaga!"


Mila memegang pinggangnya yang terasa sakit karena gerakan senam yang barusan dia lakukan tanpa pemanasan.


"Kamu kenapa, Mil?" Johan yang baru masuk merasa sangat khawatir karena melihat Mila kesakitan.


"Pinggang aku sakit, Mas." Mila merengek. Johan pun semakin merasa khawatir.


"Bagaimana bisa?" tanya Johan setengah berteriak karena saking gemasnya.


"Kayaknya aku butuh pijat, Mas. Kalau masih sakit aku tidak bisa menyeimbangi permainan ranjangmu," celetuk Mila begitu saja.


"Oma, permainan ranjang itu apa?"


Mila menepuk kening karena lupa ada anak keci di sana. Di saat yang lain terkekeh, Johan mengusap dada untuk menyabarkan diri sendiri memiliki istri segesrek itu.