Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
40


Nadira yang sudah mulai diserang kantuk, berpamitan ke kamar untuk beristirahat. Namun, sesampainya di kamar, dia menatap heran ke arah Cacha yang masih sibuk bermain ponsel. Nadira menutup pintu kamarnya, lalu berjalan mendekati tempat tidur.


"Cha, katanya pusing kenapa mata kamu masih seratus watt?" tanya Nadira. Dia rebahan di samping Cacha dan menyelimuti tubuhnya sampai sebatas dada.


"Barusan Kak Nathan telepon!" sahut Cacha ketus.


"Kak Nathan?" tanya Nadira lagi dengan kening yang mengerut.


"Iya. Besok 'kan acara pernikahan anak Pak Herman, tentu saja Kak Nathan datang." Cacha masih sibuk dengan ponselnya.


"Ah iya aku ingat. Yang kemarin mengelola JS Group. Kenapa kamu tidak mengatakan yang sejujurnya kalau JS Group itu milik keluarga kamu," kata Nadira kecewa. Cacha meletakkan ponsel di samping bantal.


"Nad, memang tidak boleh ada yang tahu. Ayah melarang keras, bahkan daddy kamu pun tak tahu."


"Kenapa begitu?" tanya Nadira menyela.


"Hanya ayah yang tahu alasannya," sahut Cacha. Nadira hanya mengangguk paham.


"Cha, bukannya Kak Nathan dan Nona Jasmin sedang berkencan di puncak?" tanya Nadira dengan ragu.


"Siapa yang bilang?" Cacha balik bertanya.


"Nona Jasmin," jawab Nadira lirih. Raut wajahnya sudah tampak muram.


"Kamu ini benar-benar bodoh! Jangan mudah percaya dengan ucapan orang lain. Mereka itu ke Bogor karena mau menghadiri acara ini. Bukan mau berkencan," sanggah Cacha sewot.


"Terus mereka menginap di mana?" tanya Nadira menuntut jawaban.


"Tentu saja di hotel. Memang mau di mana lagi? Oh iya, besok 'kan kita juga akan menghadiri pesta itu. Ayah bunda juga diundang, tapi mereka tidak datang karena tidak mau lama-lama meninggalkan orang tuamu." Mata Nadira berkaca-kaca mendengar ucapan Cacha. Dia sangat berterima kasih karena keluarga Saputra sudah menyayangi keluarganya dengan sangat tulus.


"Cha, bukannya James juga anak Bogor? Kenapa dia tidak ikut ke sini. Paling tidak ini kesempatan James untuk memperkenalkan kamu dengan keluarganya," kata Nadira curiga.


Cacha menghela napas panjang. "Nad, kamu 'kan tahu kalau James sudah tidak memiliki orang tua," ucap Cacha dengan lesu.


"Tapi dia kan masih punya keluarga," timpal Nadira. Bukannya menjawab, Cacha justru menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Melihat itu, Nadira hanya menghembuskan napas kasar.


Nadira pun berusaha memejamkan mata, tapi bayangan Nathan dan Jasmin kembali menggoda. Hatinya sangat gelisah setelah Cacha mengatakan kalau Nathan sekarang menginap di hotel bersama dengan Jasmin. Mungkinkah mereka tinggal dalam satu kamar?


***


Nadira dan Cacha sudah bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan bersama Rendra dan keluarganya. Mereka tampak begitu cantik dengan gaun panjang tanpa lengan dan riasan wajah yang sangat natural. Rendra sangat terpukau dengan kecantikan kedua gadis itu yang hampir setara.


"Jangan melamun!" Bastian menepuk pundak Rendra untuk menyadarkannya.


"Apa sih, Yah. Ayo kita berangkat," ajak Rendra. Dia malu karena sudah ketahuan sang ayah memandangi gadis-gadis itu. Mereka pun menuju ke mobil, lalu berangkat ke tempat acara bersama-sama.


Selama dalam perjalanan, Nadira berkali-kali menghela napas panjang. Hatinya merasa tidak nyaman. Dia khawatir akan bertemu dengan Nathan dan Jasmin di pesta itu. Cacha menggenggam tangan Nadira dengan erat, dan menatapnya dengan lekat. Seolah memberi keyakinan kalau semua akan baik-baik saja.


Setelah menempuh perjalanan hampir duapuluh menit, mobil Rendra berhenti di depan sebuah gedung yang sudah diberi dekorasi dengan sangat indah. Mereka pun masuk ke ruangan itu dan langsung disambut baik oleh keluarga Herman.


Nadira mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan suaminya. Dia bernapas lega saat tidak melihat keberadaan suaminya sama sekali. Namun, saat dia mengikuti keluarga Rendra menuju ke meja yang telah disediakan secara khusus, Nadira membisu saat melihat Jasmin dan Nathan sudah duduk di kursi yang berada satu meja dengannya.


Nadira terdiam di posisinya, dia menunduk takut saat melihat sorot mata Nathan yang menatapnya dengan sangat tajam.


"Kak Nathan dan Kak Jasmin sudah dari tadi?" tanya Cacha dengan sedikit heboh.


"Ini siapa?" tanya Nirmala penasaran.


"Tante, kenalin ini kakakku yang paling ganteng," sahut Cacha. Nathan tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan orang tua Rendra.


"Jonathan Saputra," ucap Nathan sopan.


"Oh kamu yang sedang bekerja sama dengan Alfa Group. Ternyata kamu masih sangat muda dan tampan," puji Bastian.


"Gadia cantik ini pasti kekasihmu. Kalian benar-benar pasangan yang serasi," tambah Nirmala.


"Terima kasih," balas Nathan. Wajah Jasmin terlihat begitu semringah, sedangkan Nadira semakin menunduk. Hatinya merasa begitu sakit saat Nathan tidak menyanggah perkataan Nirmala dan justru mengucapkan terima kasih.


"Ayo kita duduk," ajak Rendra saat merasa suasana sudah tidak nyaman. Mereka pun duduk dalam satu meja dan menyimak prosesi acara pernikahan itu.


Cacha dan Rendra berkali-kali mengajak Nadira mengobrol, tetapi gadis itu hanya menanggapi dengan senyuman dan sesekali melirik suaminya yang terlihat begitu dekat dengan Jasmin. Saat ini batin Nadira benar-benar sedang bergejolak hebat, tapi dia berusaha agar tetap terlihat setenang mungkin.