Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
74


Mobil yang dikendarai Kenan melaju pulang ke Jakarta. Selama dalam perjalanan, Nadira tidak membuka suara sama sekali karena dia merasa sangat kesal dengan kakaknya yang tega mengganggu dirinya dan Nathan yang sedang melepas rindu. Namun, Alvino seolah tidak peduli dengan kemarahan adiknya itu. Dia tetap saja bersikap tenang seolah tidak ada apa-apa.


"Kak Ken, aku turun di Bandung aja ya," kata Nadira saat mereka hampir sampai di Bandung.


"Tidak! Tetap turun di Jakarta." Alvino menolak dengan tegas. Nadira mengerucutkan bibirnya kesal.


"Kak, aku udah kangen sama Bandung. Aku mau turun di Bandung aja." Nadira sedikit merengek.


"Kamu yakin? Kamu tidak ingin merayakan ulang tahun suamimu?" tanya Alvino dengan bibir tersenyum tipis. Nadira menoleh dan wajahnya tampak begitu serius seolah sedang mengingat sesuatu.


"Astaga!" Nadira menepuk keningnya. "Aku hampir aja lupa kalau Kak Nathan dua hari lagi ulang tahun. Aku belum beli kado untuk dia," kata Nadira. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sudahlah, Biarin aja. Enggak perlu kasih kado untuk si Kaleng Rombeng," kata Alvino santai. Nadira hendak bicara lagi, tapi Alvino langsung menyuruhnya diam karena Rania sedang tertidur lelap.


Nadira pun melihat Ana dan Rania yang sama-sama tertidur. Dia menghembuskan napas kasar, tapi setelah itu dia ikut memejamkan matanya untuk beristirahat.


Mobil terus melaju sehingga tanpa terasa mereka hampir sampai di Jakarta. Melihat gerak gerik Nadira yang hendak terbangun, Alvino segera memberi kode pada Kenan. Dia menepuk pundak Kenan yang langsung mengangguk paham saat melihat kode Alvino dari kaca kecil depan.


Kenan menghentikan mobilnya bersamaan dengan mobil anak buah Mike berhenti di belakang. Tiga wanita di mobil itu pun terbangun. Ketika Nadira hendak bertanya, tiba-tiba pintu dibuka dari luar.


Nadira menatap heran ke arah pria yang tidak begitu asing baginya. Perasaan Nadira mendadak tidak enak. Ketik dia hendak sedikit bergeser, lelaki itu sudah membekapnya dengan sarung tangan. Nadira awalnya meronta, tapi detik setelahnya, tubuh gadis itu melemah dan tak sadarkan diri.


"Ingat! Kalian jangan sampai macam-macam. Bawa dia ke tempat yang sudah disiapkan," perintah Alvino dengan tegas.


"Baik, Tuan." Mereka mengangguk lalu membawa Nadira ke tempat yang sudah dipersiapkan.


Setelah kepergian mobil anak buah Mike, Kenan kembali melajukan mobilnya ke Mansion Alexander. Mereka pun harus segera bersiap-siap.


"Kak, apa Nadira dijamin aman?" tanya Ana khawatir. Kenan menoleh sekilas ke arah istrinya lalu tersenyum simpul.


"Sayang, apa Jinny dan Junno rewel?" tanya Alvino. Dia mengusap perut buncit istrinya dengan sangat lembut.


"Tidak, Mas." Rania mengusap rambut suaminya yang kini sedang menciumi perutnya. "Mas, apa kita tidak perlu mengganti nama baby kita?" tanya Rania ragu.


"Kenapa mesti diganti?" Alvino mendongak dan melihat wajah istrinya yang tampak lesu.


"Aku kesal karena Cacha memanggil baby kita Jin dan Jun." Rania menjawab dengan bibir cemberut.


"Biarin aja si Anak Kambing mau memanggil apa," sahut Alvino santai. Rania dengan gemas memukul pundak suaminya, hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.


"Maafkan aku, Mas." Rania sedikit menunduk. Alvino segera merangkul pundak istrinya dan mendaratnya banyak ciuman di wajah istrinya dengan sangat lembut.


"Aku mencintaimu, Sayang." Rania tersipu malu, wajahnya selalu merona merah setiap kali Alvino mengucapkan kata cinta padanya. Sementara Kenan dan Ana hanya terdiam melihat kemesraan mereka.


Kenan menghentikan mobilnya di area mansion. Alvino segera turun bersama dengan Rania. Kenan yang hendak turun segera mengurungkan niatnya saat melihat istrinya hanya diam di kursinya. Kenan menatap lekat wajah istrinya yang tampak sendu.


"Kamu kenapa?" tanya Kenan.


"Kak ...." Ana menghentikan ucapannya dan merasa ragu untuk meneruskan. Kenan tersenyum simpul saat melihat raut wajah Ana yang begitu bimbang dan tangan yang terus mengusap di perutnya.


"An, jangan cemas. Semua udah ada yang ngatur. Mungkin memang belum rezeki kita." Kenan bicara dengan sangat lembut. Dia menangkup kedua pipi istrinya lalu mengusapkan ibu jarinya dengan perlahan. "Percayalah, kita pasti akan mendapatkannya."


"Tapi, Kak ...."


"Lebih baik kita sekarang pulang. Kita harus bersiap-siap." Kenan mengecup kening Ana dengan lama, menandakan betapa besar cinta Kenan untuk istrinya. Kenan tidak jadi turun di mansion. Dia berpamitan pada Alvino yang masih berdiri di samping mobil kalau dirinya akan langsung pulang ke kediaman Sandijaya. Alvino dan Rania hanya menggangguk mengiyakan.