Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
54


"Apa kabar, Nona Muda?" tanya Mang Ujang.


"Mang Ujang kakaknya Felisa?" Nadira menyeka airmata yang masih mengalir. Mang Ujang tidak menjawab, dia berjalan mendekat dan duduk di samping Nadira yang masih terlihat ketakutan.


"Felisa adalah putri Tuan Herman," sahut Mang Ujang. Nadira menoleh ke arah lelaki paruh baya yang berdiri di samping Felisa, sedang tersenyum miring padanya. Nadira mengamati lekat wajah lelaki itu, wajah yang tidak begitu asing baginya.


"Bukankah Anda yang mengelola JS Group?" tanya Nadira setelah mengingatnya. Tawa Herman terdengar menggema di kamar itu.


"Ternyata Anda mengenali saya, Nona Muda."


Tiba-tiba seorang lelaki memakai jaket dan masker masuk ke kamar itu, Nadira mengamati dengan sangat lelaki itu dan merasa tidak asing dengannya. Ketika lelaki itu membuka maskernya, Nadira kembali terkejut saat melihat James menyeringai padanya.


"Ja-James?" panggil Nadira tak percaya.


"Kamu baru datang, James?" tanya Herman.


"Iya, Pa." Nadira menautkan alisnya saat mendengar James memanggil Herman dengan sebutan 'Pa'.


"James, apa kamu tidak ingin mencicipi tubuh Nona Muda Alexander sebelum membunuhnya?" tanya Herman dengan suara meledek.


"Ide bagus, Pa." James berjalan mendekati tempat tidur, tapi Mang Ujang langsung menahannya.


"Tuan, lebih baik kita langsung bunuh saja." Mang Ujang mengambil pisau tajam dari balik jaketnya. Tubuh Nadira gemetar ketakutan, dia terkejut saat melihat tatto kepala singa di pergelangan tangan Mang Ujang.


"Bukankah sudah pernah saya katakan kalau Anda harus menjauh dari Tuan Nathan, Nona?" Mang Ujang menatap Nadira dengan tajam. Ingatan Nadira kembali berputar saat dia mendapat teror di toilet restoran. Suara lelaki itu sama persis dengan suara Mang Ujang.


"Mang, apakah Mang Ujang yang menerorku saat itu?" tanya Nadira berusaha memberanikan diri.


"Tentu saja. Saya sudah memperingati Anda, tapi ternyata Anda tidak mendengarkan." Nadira semakin meringsut saat Mang Ujang memainkan pisau itu di lehernya.


"Mang, kalau memang mau bunuh aku. Bunuh saja! Lagi pula aku sudah lelah hidup!" kata Nadira tegas. Mereka semua tertawa mendengarnya.


"Nona ... katakan selamat tinggal pada dunia!" Ujang mengangkat pisau itu dengan mata terpejam dan mengarahkan ke leher Nadira.


"Brengsek!" Pintu kamar terbuka bersamaan suara tembakan dan erangan dari Felisa. Herman sangat terkejut melihat Johan dan Nathan masuk ke kamar itu. Mang Ujang segera bangkit berdiri.


"Herman! Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata seorang pengkhianat!" seru Johan dengan amarah yang memuncak.


"Ja-James?" Cacha yang baru saja masuk, begitu terkejut melihat kekasihnya berdiri satu ruangan dengan pengkhianat ayahnya. "Kenapa kamu di sini?"


"Tentu saja untuk menemani papaku," sahut James santai.


"Papamu? Bukankah kamu sudah tidak memiliki orang tua?" Kedua alis Cacha terlihat saling bertautan.


James tergelak keras. "Kamu bodoh, Cha! Herman ini papaku dan Felisa adikku!" Jawaban James membuat Cacha begitu terkejut. Berarti selama ini dirinya sudah dibohongi oleh kekasihnya sendiri? Cacha meremas dadanya saat merasakan rasa sakit di sana. Bahkan kedua mata gadis itu terlihat berkaca-kaca.


"Ternyata kamu sudah merencanakan dengan sangat matang, Man." Johan menggeleng tak percaya.


"Tentu saja!" jawab Herman tegas.


"Kenapa? Aku hampir saja tidak menyangka kalau kamu yang melakukannya kalau saja Dharma tidak memberitahuku, tapi aku berterima kasih kamu sudah mengelola JS Group dengan sangat baik!" kata Johan dengan senyum mengejek.


"JS Group sekarang sudah menjadi milik James putraku. Karena aku sudah mengalihkan data asli menjadi atas nama putraku. Kamu bodoh, Jo!" Herman tertawa puas.


"Sepertinya kamu yang bodoh dan harus banyak belajar lagi, Man. Aku tahu dari dulu kamu selalu iri padaku. Aku menyuruhmu mengelola JS Group karena aku menyayangimu sebagai sahabat, tapi ternyata kamu berkhianat." Suara Johan terdengar penuh kecewa.


"Tentu saja aku iri! Kamu selalu menjadi terdepan! Bahkan kamu bisa menjadi asisten pribadi Tuan Davin bahkan beliau sangat menyayangimu seperti keluargamu sendiri! Kamu bisa mendapatkan perusahaan Saputra dengan sangat mudah!"


"Man! Kalau kamu meminta JS Group menjadi milikmu. Aku pasti akan memberikannya. Bukan dengan cara seperti ini!" seru Johan. Herman tergelak keras.


"Aku bukan manusia rendahan yang suka mengemis!" kata Herman dengan suara tinggi.


"Justru cara seperti ini menunjukkan betapa rendahannya dirimu!" ledek Johan. Bibirnya tersenyum sinis ke arah sahabatnya.


"Apa yang kamu lakukan, Jang!" Herman meronta saat Mang Ujang memegangi tangannya dengan sangat kuat.


"Tentu saja menangkap Anda, Tuan. Memang apalagi?" tanya Mang Ujang santai. Herman menggeram dengan sangat kesal. James dan Felisa juga meronta saat anak buah Johan sudah mencekal tangan mereka.


"Ternyata kamu pengkhianat, Jang!" umpat Herman marah.


"Kalau Anda dan anak Anda bisa berkhianat, maka saya pun bisa, Tuan!" tegas Mang Ujang.