
Selama dalam perjalanan, Nathan bersenandung ria. Dia merasa sangat bahagia karena sebentar lagi akan berjumpa istri tercinta. Nathan merasa sudah sangat tidak sabar. Perjalanan yang ditempuh dengan waktu berjam-jam pun tidak terasa melelahkan, bahkan rasa sakit di tangan sudah tidak lagi dirasakan Nathan karena bayangan dirinya bertemu dengan Nadira sudah berputar-putar dalam otaknya.
Nathan melirik ponsel di dashboard mobil, menunggu panggilan dari Adit karena dirinya hampir sampai di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Pelajar.
Nathan menepikan mobilnya, lalu mengambil ponsel dan menghubungi nomor Adit. Namun, lima kali mencoba, nomor itu tidak bisa dihubungi sama sekali hingga membuat Nathan menggeram marah.
Kemarin Adit hanya mengatakan kalau mereka menginap disalah satu hotel bintang lima di sana dan mereka jarang keluar atau lebih banyak menghabiskan waktu di dalam hotel.
Yang membuat Nathan semakin kesal adalah saat Adit mengatakan kalau hanya Nadira yang tidak memiliki pasangan, sedangkan tiga lainnya memiliki pasangan.
Karena geram dengan nomor Adit yang tidak bisa dihubungi, Nathan akhirnya mendial nomor Alvino. Bunyi panggilan yang diloudspeaker itu menggema di dalam mobil. Jari Nathan mengetuk setir kemudi sembari menunggu panggilan itu diterima.
"Hallo, Nat."
Nathan membuka mata lebar saat mendengar suara Alvino yang menyapa nya. "Al! Kamu di mana?" tanya Nathan tanpa basa-basi.
"Aku sedang dalam perjalanan, Nat. Ada apa?" tanya Alvino dengan santai.
"Perjalanan? Ke mana?" tanya Nathan lagi.
"Perjalanan pulang, Nat."
"Bukannya kamu lagi di Jogja?" Firasat Nathan mulai merasa tidak enak.
"Kamu denger dari siapa kalau aku lagi di Jogja?" Nathan terlihat gugup saat mendengar pertanyaan Alvino, dia tidak ingin sahabatnya tahu kalau dia menyuruh seseorang untuk membututi mereka.
"A-aku denger dari bunda," sahut Nathan terbata. Mati aku! Kalau sampai bunda tahu aku jadiin dia kambing hitam. Batin Nathan.
"Kamu yakin?" Nathan mengangguk. Dia lupa kalau Alvino tidak bisa melihat anggukan kepalanya.
Panggilan itu terjeda sesaat. "Nat, aku emang di Jogja sejak tiga hari lalu, tapi sekarang kita lagi perjalanan pulang bahkan hampir sampai Bandung."
"Apa!" teriak Nathan dengan sangat melengking hingga Alvino harus menjauhkan ponsel dari telinganya. "Kamu yang benar saja, Al! Aku udah di Jogja." Suara Nathan terdengar tinggi rendah. Dia mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
"Benar, Nat. Kapan aku bohong sama kamu. Nadira udah minta pulang terus, katanya dia tidak tega ninggalin kamu yang lagi sakit." Suara Alvino terdengar begitu santai.
"Al," panggil Nathan dengan sangat lemah. "Aku udah hampir sampai Jogja." Suara Nathan terdengar begitu lirih.
"Ngapain kamu di Jogja? Astaga! Katanya sakit masih aja keluyuran. Udah dulu, Nat. Baby JJ minta dielus daddy nya."
Tut ... tut ... tut.
Panggilan itu terputus seketika, Nathan mencoba menghubungi Alvino lagi, tapi panggilannya tidak ada yang terjawab sama sekali. Nathan meremas ponselnya dengan kuat. Dia benar-benar kesal dengan sahabatnya itu. Entah mengapa, dia merasa kalau Alvino sedang mengerjai dirinya saat ini.
"Pengusaha muda keturunan Alexander, tapi masih kalah sama pemuda tampan yang mengalir darah Saputra di tubuhnya. Hahaha." Nathan tertawa menggelegar. "Ternyata mereka masih di Jogja. Dasar tukang kibul!" umpat Nathan dengan tawa licik.
Dia menaruh kembali ponsel di dashboard setelah melihat gps ponsel Alvino saat ini.
***
"Aku tidak menyangka kalau Nathan akan sebucin itu dengan Nadira," kata Alvino diselingi tawa puas setelah dia mematikan ponsel itu.
"Astaga, kamu dan Nathan bener-bener kaya Tom Jerry. Ada saja yang diributkan." Kenan memijat pelipisnya karena begitu pusing.
"Aku tuh masih kesal sama Kaleng Rombeng. Biarin aja dia tersiksa sesaat karena aku yakin sebentar lagi aku susah ngerjain dia." Senyum di bibir Alvino benar-benar mengembang sempurna.
"Menurut aku, kamu keterlaluan, Al. Kamu bukan hanya bikin galau Nathan doang, tapi Nadira juga. Emang kamu enggak kasihan juga sama Nadira yang terlihat sangat kurang bersemangat, bahkan kulihat dia terlalu banyak mengurung diri di kamar hotel." Kenan berusaha menengahi.
"Biarin saja, Ken. Sebentar lagi juga semua selesai. Besok pagi kita akan pulang ke Jakarta. Uncle Jo dan Aunty Mila masih mempersiapkan kejutan untuk mereka." Kenan tidak menanggapi, dia hanya menghela napas panjangnya.
____________________________________
Selamat pagi gaess
Maaf nih, Othor cuman bisa ngasih 1 bab hari ini karena ada sesuatu di dunia nyata.
Jangan lupa dukungannya gaes, masih terus Othor tunggu
Eh hari Jum'at Nih.
Othor bawa satu nama lagi, untuk yang belum disebut, jangan kecil hati ya, terus beri dukungan siapa tahu nama kalian yang muncul jum'at depan.
Untuk yang sudah pernah dapat, gantian sama yang lain ya ๐
I love you All ๐
Silakan hubungi Othor via DM IG : @tathabeo atau inbok fb : Rita Anggraeni( Tatha)
Semoga hari kalian menyenangkan
Selamat beraktivitas